Terapi Sel

‘Cell Cure’ Terapi Sel, Teknik Pengobatan Terkini untuk Kanker

Pengobatan kanker yang lazim dikenal selama ini antara lain kemoterapi, radioterapi, transplantasi sel, dan operasi. Pengobatan secara medis tersebut tidak menghilangkan sel kanker dalam tubuh penderita. Ada kemungkinan sel kanker tersebut tumbuh di organ tubuh lainnya.  Selain itu ada efek lainnya pada tubuh seperti rasa pusing, mual, dan gangguan kerja organ lainnya.

Selain memiliki efek samping yang’berat’ pengobatan kanker juga tidak murah.  Butuh biaya besar untuk menjalani pengobatan kanker. Pengidap juga harus mengimbangi pengobatan dengan gaya hidup sehat.   Selain pengobatan secara medis, pasien kanker kebanyakan juga menjalani pengobatan herbl. Mereka bisa mengolah sendiri obat herbal yang berasal dari tanaman atau mengkonsumsi obat herbal yang sudah dikemas dalam kapsul.

Setiap pengobatan pasti ada risiko dan efek samping yang dirasakan.   Namun tak perlu khawatir selain dua alternatif pengobatan kanker yang lazim dijalani ada pengobatan lain yang bisa dijalani oleh pasien kanker. Terapi asal Jerman tersebut dikenal dengan ‘Cell Cure’, namun perlu diketahui pengobatan melalui terapi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit sekitar Rp 300 juta- Rp500 juta.

Terapi kanker jenis ini sekarang sedang dikembangkan di Indonesia, tepatnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta. Kendati masih menimbulkan kontroversi,  terapi ini tetap dikembangkan dan diklaim aman  untuk mengatasi bahaya penyakit kanker.

Asal Mula Terapi Sel Punca

Teknik pengobatan kanker yang pernah menjadi tren sekitar tahun 2013 adalah steam cell atau terapi sel punca. Bukan hanya penyakit kanker, terapi cell yang membutuhkan dana sedikitnya Rp200 juta ini juga bisa digunakan untuk penyakit kronis lainnya termasuk perawatan kecantikan.

Terapi cell cure merupakan pengembangan dari steam cell yang dikembangkan oleh ilmuwan asal Jerman.  Pada terapi ini menghasilkan sel darah putih autologous yang diambil dari tubuh pasien. Sel tersebut kemudian diprogram dan dikembangkan di laboratorium khusus, kemudian disuntikkan kembali ke pasien yang bersangkutan.

Sel yang diambil tersebut berasal dari sel darah somatik, bukan sel punca.   Sama dengan sel punca, sel tersebut memiliki sifat regenatif dan regulator. Penelitian terkait cell cure ini memakan waktu yang tidak sebentar. Tim pimpinan Prof. Dr. Med F Fandrich, FRCS seorang ahli bedah memulai riset pada 2005. Dari hasil penelitian diklaim bahwa terapi cell cure lebih unggul ketimbang terapi cell punca.

Sel punca masih ada kemungkinan berubah menjadi sel kanker, bila berada di lingkungan sel kanker sehingga berpotensi gagal apabila diterapkan pada penderita kanker. Proses pembuatan sel punca pun lebih rumit dibandingkan cell cure. Lain dengan sel punca, cell cure yang diinjeksikan ke dalam tubuh tidak dapat menjadi sel kanker. Dengan demikian sel tersebut lebih aman untuk diterapkan ke penderita kanker.

Berdasar hasil penelitian,  ada tiga jenis produk yang dihasilkan dari terapi cell cure yaitu Dendritic Cells (DCs) untuk pengobatan kanker, Repair Macrophages Cells (REMs) atau sel regeneratif untuk pengobatan jantung serta gangguan pembuluh darah dan otak, terakhir Regulatory Macrophages (TOMs) atau sel regulator untuk pengobatan penyakit yang berasal dari sistem kekebalan tubuh (autoimun) seperti diabetes melitus, lupus, erimatosus, dan sebagainya.

Seperti Apa Sih Cara Kerja Cell Cure?

Cara kerja Cell Cure sebetulnya tidak jauh berbeda dengan terapi sel punca. Hanya saja terapi ini dianggap lebih efektif untuk mengobati penyakit kanker.  Penyakit kanker padat atau disebut solid tumor yang bisa diatasi dengan terapi ini antara lain tumor otak, tumor THT, tumor paru-paru, tumor saluran cerna, tumor  hati, tumor pankreas, tumor ovarium, dan tumor pada anak.

Tahapan terapi yang dilakukan adalah dengan mengambil monosit dari darah pasien. Pengambilan monosit tersebut mengginakan alat aferesis yang telah diprogram.  Pengambilan darah ini memakan waktu yang tidak sebentar, kurang lebih tiga jam. Sebelum tindakan tersebut dilakukan, dokter melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium terhadap kondisi pasien untuk menjalani terapi tersebut.

Dokter harus memastikan kondisi pasien benar-benar fit dan prima ketika menjalani terapi ini.  Setelah pengambilan monosit tersebut dilakukan, langkah berikutnya adalah memurnikan monosit dengan alat elutrasi.  Tindakan ini dilakukan dengan kondisi yang benar-benar steril. Seperti ruangan yang steril dan peralatan serta kondisi laboran yang sehat. Tujuannya agar tidak terjadi kontaminasi  yang bisa berdampak pada kegagalan terapi.  Sel monosit yang telah dimurnikan tersebut kemudian ditambahkan dengan zat tertentu baru setelah itu dimasukkan ke tubuh pasien.

Ada sembilan tabung steril yang digunakan untuk menampung sample darah yang diambil. Kemudian dari sembilan tabung tersebut diambil bagian monisitnya. Monosit yang diambil tersebut kemudian ditempatkan di sebuah wadah yang disebut flask. Kemudian ditambah sitkoin atau molekul protein. Banyak sedikitnya penambahan sitkoin termasuk jenisnya tergantung dari tujuan pengembangan sel. Untuk pengembangan sel yang dapat melawan kanker maka digunakan dendritic cell.

Sel yang diletakkan dalam flask tersebut kemudian dimasukkan ke dalam inkubator untuk dipantau perkembangannya selama tujuh hari. Setiap harinya akan ada petugas yang mengecek perkembangannya dari hari pertama sampai hari ke tujuh. Pengecekan tersebut juga bertujuan untuk memantau apakah sel yang dimurnikan tersebut terus berkembang atau justru mati.

Ruangan puh harus steril. Termasuk kelembaban udara, suhu, dan tekanan udaradi ruangan harus sesuai. Itu sebabnya selain laboratorium yang steril ada juga ruangan khusus untuk mengontrol suhu ruangan. Jangan sampai sel yang sudah dimurnikan dan akan disuntikkan ke pasien mati. Artinya jika terjadi kegagalan sangat mungkin pemeriksaan dilakukan sejak awal lagi.

Sembuh Total dengan Cell Cure?

Terapi cell cure diklaim lebih aman ketimbang pengobatan kanker lainnya. Kendati sudah ada di Indonesia, namun masih menimbulkan kontroversi karena keilmuan dan uji klinisnya masih masif dikembangkan di beberapa negara. Itu sebabnya karena belum ada hasil yang autentik maka pengobatan jenis ini masih diperdebatkan.

Pengobatan kanker dengan terapi cell cure ini bukan hanya membutuhkan biaya yang banyak. Akan tetapi, juga ketelatenan dan kesabaran. Kondisi pasien harus benar-benar fit ketika pemeriksaan dilakukan. Padahal kondisi pasien kanker seringkali tidak stabil. Apalagi pasien terdiagnosa kanker yang sudah memasuki stadium lanjut.

Sel-sel baru yang sudah dimurnikan dan diberikan zat tambahan dapat bertahan lama dalam tubuh pasien. Kadar yang disuntiikkan pun harus diukur terlebih dahulu. Pasien yang satu dengan lainnya tidaklah bisa sama. Pengobatan dengan cara ini diyakini mampu membunuh sel-sel kanker dan tidak merusak sel lain yang masih sehat.

Pasien kanker kini punya alternatif pengobatan yang minim risiko. Reaksi yang mungkin terjadi adalah demam dan meriang. Sel-sel  baru yang disuntikkan ke dalam tubuh mulai menyerang sel kanker sehingga reaksi yang dialami oleh tubuh pasien adalah demam dan meriang. Tidak perlu khawatir karena itu tidak akan berlangsung lama.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Sirih Merah untuk Kanker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.