Terapi Hormon vs Kemoterapi

Memilih Pengobatan Kanker Payudara Yang Tepat Antara Terapi Hormon vs Kemoterapi

Terapi Hormon vs Kemoterapi

Posting kali ini adalah pengalaman saya mengantar mama saya untuk berobat secara medis ke dokter di Singapura yaitu Dr Kong Hwai Loong. Kali ini judul yang biasanya saya tulis “Life Experience” tidak saya tulis lagi mulai posting ini karena judul terlalu panjang membuat pembaca susah mengerti dengan cepat. Setiap pengalaman pribadi saya, saya akan menulisnya bahwa ini adalah pengalaman saya pada bagian awal posting.

Kali ini saya ingin menceritakan bagaimana periode ini saya mengantar mama saya setelah menjalani radioterapi pada tulang belakang dan kondisi kanker di getah bening dan kulit semakin buruk. Kami mengalami berbagai macam masalah yang harus diselesaikan saat itu karena efek samping radioterapi yang masih belum hilang total.

Ketika belum berangkat ke Singapura 1-2 minggu sebelumnya mama saya meminum obat kemo oral yaitu Xeloda, mama saya mengalami drop darah putih dan saya harus menyuntikkan booster darah putih agar tidak terlalu rendah. Setelah beberapa kali kami menerima perintah dari Dr Kong akhirnya kami bisa berangkat ke Singapura untuk kontrol. Kami periksa darah dahulu kemudian baru ketemu Dr Kong dan saat ketemu dengan Dr Kong kami membahas banyak topik mengenai pengobatan yang cocok untuk kondisi mama saya saat ini.

Ketika Darah Putih Tidak Cukup Untuk Kemoterapi

Pertama kali ketemu dan Dr Kong melihat hasil darah mama saya, pertanyaan pertama yang dilemparkan ke saya adalah “Do you want fight or give up?” saat itu saya kaget tidak biasanya Dr Kong menanyakan hal seperti ini kepada saya. Kemudian setelah melihat hasil test darah ternyata darah putih mama saya rendah lagi dari standart dan kami tidak bisa melakukan kemoterapi. Dr Kong pun mengatakan bahwa jika ini dipaksakan melakukan kemoterapi, efek samping kemoterapi bisa membahayakan jiwa daripada penyakit kanker payudara yang diderita mama saya. Saat itu juga saya kaget karena kemoterapi adalah pengobatan paling baik yang dapat diberikan oleh dokter secara medis. Dan di dunia medis kemoterapi menjadi andalan utama karena treatment yang lain masih belum begitu diakui dan disahkan sebagai pengobatan kanker.

Yang menjadi pertanyaan saat itu adalah kenapa darah putih drop terus bahkan sudah stop Xeloda? Penjelasan dari Dr Kong adalah dari efek samping radioterapi yang telah dilakukan beberapa minggu yang lalu. Kemudian pertanyaan lain muncul kenapa belum hilang? Memang efek samping radioterapi lama sekitar 2-3 bulan baru akan hilang dengan sendirinya. Jika kami menunggu efek samping radioterapi hilang kanker bakal menyebar tetapi jika kemoterapi saat ini darah putih masih rendah bakal membahayakan juga. Kondisi ini membuat saya dilema keputusan mana yang harus diambil.

Terapi Hormon vs Kemoterapi

Kedua kami membahas langkah apa yang harus diambil untuk mengobati kanker payudara ini, pilihan kemoterapi sebenarnya menjadi pilihan utama ketika itu dan Dr Kong menjelaskan bahwa obat kemoterapi sebenarnya banyak tetapi karena darah putih masih rendah resiko lebih berbahaya lagi karena efek samping kemoterapi. Kemoterapi paling safety adalah Xeloda dimana saat itu mama saya meminum Xeloda tetapi kondisi badan tidak mampu menerima dan darah putih tetap turun terus. Dr Kong menjelaskan ada beberapa jenis obat kemo (injeksi) yang efektif untuk kanker payudara tetapi semuanya mempunyai efek samping yang membuat darah putih drop.

Alternatif yang kedua adalah dengan menggunakan terapi hormon seperti yang sudah kami jalankan 9 bulan yang lalu. Tetapi untuk memastikan terapi hormon ini bekerja harus dilakukan biopsi dahulu apakah kanker payudara mama saya ini berjenis hormonal atau tidak. Kanker payudara ada 2 jenis yaitu bersifat hormonal dan yang tidak. Jika bersifat hormonal maka terapi hormon dapat digunakan untuk mematikan sel kanker sedangkan jika tidak maka pasien tersebut harus menjalani kemoterapi seumur hidup.

Safety vs Effective

Apa yang lebih kamu pentingkan safety atau effective? Itu pertanyaan yang diajukan oleh Dr Kong pada saya saat itu dan tentu saja saya menjawab “Safety First”. Tetapi yang perlu saya bagikan kepada pembaca adalah ketika anda memilih safety tentunya tingkat efektif akan menurun tetapi jika efektif ditingkatkan safety menjadi turun. Anda harus memilih salah satu diantara kedua itu. Dan saat itu saya mengalami dilema pengambilan keputusan apa yang paling baik untuk mama saya. Akhirnya kami sepakat untuk melakukan biopsi dahulu untuk memastikan sel kanker bersifat hormonal atau tidak.

Biopsi

Mama melakukan biopsi pada Dr Kulit Lee Chui Tho, dokter kulit ini juga direkomendasikan oleh Dr Kong untuk memilih sel kanker yang akan diambil dan ditest pada lab. Biopsi dilakukan pada bagian kulit dan kami mengirim sampel pada lab di rumah sakit Mount Elizabeth. Beberapa hari kemudian hasil biopsi adalah:

  • ER+ (90%)
  • PR+ (90%)
  • HER2-

Melihat hasil itu kami dan Dr Kong sangat senang, saya saat itu merasa seperti menang undian bahwa sifat sel kanker masih sangat hormonal dan bisa dilakukan pengobatan kanker dengan terapi hormon. Dibandingkan hasil biopsi yang pertama kali sifat hormonal masih sangat kuat sehingga terapi hormon bisa bekerja untuk kasus mama saya. Kutipan dari Dr Kong “For this kind of tumor, sometimes they don’t well on kemo they may do well on hormonal therapy”, saat mendengar ini rasanya lega karena selain kemoterapi mama saya masih bisa menerima terapi hormon sebagai salah satu pengobatan kanker payudara.

Terapi Hormon Dengan Afinitor dan Aromasin

Ada 2 jenis obat yang diberikan oleh Dr Kong pada kami yaitu Afinitor dan Aromasin. Aromasin levelnya sama dengan Femara yang sudah mama jalankan selama 9 bulan dan pada bulan ke-9 tumor kembali aktif dan menjadi seperti saat ini. Oleh karena itu Dr Kong memodifikasi terapi hormon dengan menggunakan obat dengan level lebih tinggi yaitu Afinitor. Afinitor bisa bekerja lebih baik dari pada Aromasin tetapi efek samping dari Afinitor adalah bisa menimbulkan sariawan pada mulut sedangkan efek samping dari Aromasin mirip dengan Femara bisa menimbulkan kolesterol. Tetapi kedua obat ini aman untuk darah putih karena tidak menyebabkan penurunan darah putih.

Itulah update terakhir yang kami alami saat ini semoga bagi pembaca yang sedang mengalami masalah yang sama dengan kami bisa terbantu. Terutama saat dilema memutuskan pengobatan apa yang harus diambil agar bisa sembuh. Tetap semangat karena semangat menjadi obat utama yang dapat menunjang kesembuhan. Jangan menyerah dan tetap berdoa untuk mencapai kesembuhan.

Baca artikel lain mengenai Life Experience 03 – Kemoterapi di Klinik Dokter Kong Hwai Loong dan Transfer Factor Sebagai Pendamping

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + 17 =