Tag Archives: kemoterapi kanker serviks

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Beberapa Obat Kemoterapi Kanker Serviks dan Efek Sampingnya

Kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang menakutkan bagi kaum wanita selain kanker payudara. Semua wanita tanpa batasan usia berisiko terkena penyakit ini. Tetapi, kanker serviks lebih cenderung menyerang para wanita yang aktif melakukan kegiatan seksual.

Kanker serviks bermula saat sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik, kemudian mengubah sel-sel normal menjadi sel-sel abnormal. Sel-sel yang normal akan berkembang dengan kecepatan tertentu, sedangkan sel-sel yang abnormal akan berkembang tanpa terkendali sehingga jumlahnya terus bertambah.

Sel-sel abnormal ini menjadi pemicu timbulnya sel kanker yang akan menyerang jaringan-jaringan tubuh di sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jika ini terjadi, penderita sudah memasuki kanker serviks stadium lanjut. Semakin besar stadiumnya, harapan hidup penderita kanker serviks semakin kecil.

Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks disebut juga dengan kanker leher rahim karena sel-sel kanker menyerang leher rahim para wanita yang berfungsi sebagai pintu masuk dari vagina menuju rahim. Kanker ini disebabkan oleh kumpulan virus bernama human papillomavirus atau HPV. Umumnya, virus ini ditularkan melalui hubungan seks dan dapat memicu timbulnya sel kanker serviks.

Jenis human papillomavirus ada yang tidak berbahaya dan ada yang berbahaya, seperti HPV 16 dan HPV 18, yang menjadi penyebab seorang wanita terjangkit kanker serviks. Saat virus ini masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi untuk mencegah virus tersebut melukai rahim. Tetapi bagi wanita dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, virus ini dapat menembus kekebalan tersebut dan bertahan selama bertahun-tahun hingga berubah menjadi sel kanker.

Vaksin untuk Mencegah Infeksi HPV

Untuk mengurangi angka penderita kanker serviks, pemerintah saat ini sudah menyediakan vaksin untuk mencegah seorang wanita terinfeksi HPV. Ada vaksin bivalen untuk HPV 16 dan HPV 18, vaksin kuadrivalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, dan HPV 18, serta vaksin nonavalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, HPV 18, HPV 31, HPV 33, HPV 45, HPV 52, dan HPV 58. Semua vaksin tersebut dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Gejala Kanker Serviks

Gejala kanker serviks biasanya tidak selalu tampak jelas, bahkan Si Penderita tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya terjangkit HPV. Penderita baru menyadarinya saat kanker serviks sudah memasuki stadium lanjut. Karena itulah, kaum wanita sangat dianjurkan untuk melakukan pap smear secara rutin sebagai langkah pencegahan berkembangnya sel kanker serviks.

Meskipun demikian, ada gejala-gejala yang dapat dijadikan alarm bahwa di dalam tubuh, mulai berkembang sel kanker serviks, antara lain terjadi pendarahan pada vagina di luar masa menstruasi, setelah berhubungan seks, dan setelah memasuki masa menopause; merasakan sakit setiap berhubungan seks; keluarnya cairan dari vagina tanpa henti berwarna cokelat, merah mudah, keruh, atau mengandung darah dengan bau yang menyengat; serta berubahnya siklus menstruasi tanpa sebab.

Penderita kanker serviks stadium lanjut akan mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis; merasakan nyeri pada tulang, punggung, dan pinggang; bermasalah saat buang air kecil karena ureter atau ginjal tersumbat; adanya darah dalam urin; hilangnya selera makan; pembengkakan pada salah satu kaki; serta merasakan sakit pada perut bagian bawah dan panggul.

Kemoterapi sebagai Pengobatan Kanker Serviks

Sebenarnya, ada banyak cara untuk mengobati kanker serviks, salah satunya adalah dengan kemoterapi. Kemoterapi kanker serviks adalah pengobatan yang dilakukan untuk mengurangi, merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker serviks yang berkembang dengan cepat dan tidak terkendali dengan menggunakan obat keras.

Obat-obatan keras kemoterapi tidak hanya mengurangi, merusak, dan membunuh sel-sel kanker serviks. Obat-obatan tersebut juga dapat merusak sel-sel normal dengan menimbulkan beberapa efek samping, seperti mual, muntah, sembelit, diare, rambut rontok, kehilangan nafsu makan, mudah terinfeksi karena kekebalan tubuh menurun, anemia, terjadi pendarahan,sariawan, merasa lemah dan lelah, kerusakan otot jantung dan ginjal, kesemutan, menurunnya periode menstruasi, serta infertilitas.

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Dalam kemoterapi kanker serviks, diperlukan obat-obatan yang memang dapat mengurangi,merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker. Obat-obatan tersebut ada yang digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan obat-obatan lainnya yang disebut dengan rejimen kemoterapi. Obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan adalah carboplatin, cisplatin, cyclophosphamide, fluororacil, ifosfamide, dan paclitaxel.

1. Carboplatin

Carboplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel kanker yang diberikan melalui pembuluh vena dengan cara menyuntikkannya selama 15 menit. Dosis yang diberikan bergantung pada berat badan, kondisi kedehatan, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Carboplatin tidak boleh diberikan lebih dari 4 kali seminggu.

Tetapi, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. Adapun penderita yang dilarang menggunakan carboplatin adalah penderita yang memiliki riwayat alergi terhadap senyawa yang mengandung platinum, memiliki tumor berdarah, mengalami pendarahan yang cukup hebat, mengalami kerusakan ginjal, sedang menggunakan vaksin demam kuning, dan menderita myelosupresi (penekanan sumsum tulang) berat. Wanita hamil dan ibu menyusui juga dilarang menggunakan carboplatin.

Menggunakan carboplatin akan memberikan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, kulit memerah, kehilangan nafsu makan, mudah merasa lelah, sulit bernapas, kulit pucat, sulit berkonsentrasi, detak jantung tidak beraturan, mudah mengalami pendarahan, sakit kuning, sakit perut, demam, luka di mulut dan tenggorok, urin dan fases berwarna gelap, mengalami masalah pada penglihatan dan pendengaran, serta mati rasa pada tangan dan kaki.

2. Cisplatin

Cisplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan karena dapat menghambat atau menghentikan perkembangan sel kanker. Obat ini diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi terhadap pengobatan tersebut. Sebaiknya, cisplatin diberikan tidak lebih dari 3-4 minggu sekali dan harus diimbangi dengan asupan cairan yang banyak sehingga penderita akan sering buang air kecil.

Sama seperti carboplatin, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. adapun penderita yang dilarang menggunakan cisplatin adalah wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, memiliki riwayat alergi, sedang melakukan pengobatan penyakit lain, menderita penyakit ginjal, serta menderita gangguan sel darah, gangguan pendengaran, gangguan fungsi tulang sumsum, dan gangguan keseimbangan mineral.

Menggunakan cisplatin akan memberikan efek samping berupa kehilangan nafsu makan, mual, muntah, rambut rontok, diare, kehilangan keseimbangan, menurunnya fungsi indera perasa, nyeri sendi, pusing, fungsi refleks menurun, penglihatan terganggu, fases berwarna gelap disertai darah, demam, dan mati rasa.

3. Cyclophosphamide

Cyclophosphamide adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan pertumbuhan serta penyebaran sel kanker dengan cara diminum. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut, dan pengobatan lain yang dilakukan.

Wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, penderita dengan riwayat alergi, penderita yang pernah atau sedang menjalani radioterapi dan terapi sitostatika, serta penderita diabetes, cacar air, gangguan ginjal, gangguan kardiovaskular, gangguan hati, dan gangguan fungsi sumsum tulang dilarang menggunakan obat ini.

Menggunakan cyclophosphamide akan menimbulkan efek samping berupa diare, mual, muntah, rambut rontok, sakit perut, ruam kulit, warna kulit dan kuku berubah, kehilangan nafsu makan, berhentinya periode menstruasi, lemas, kesulitan bernapas, kejang, berhalusinasi, urin dan fases mengandung darah, pendarahan, sariawan, sakit saat buang air kecil, pembengkakan pada tangan atau kaki, pneumonia, serta sakit kuning.

4. Paclitaxel

Paclitaxel adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan petumbuhan sel kanker dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Paclitaxel dapat diberikan setiap tiga minggu sekali selama lebih dari tiga jam, dua minggu, atau seminggu sekali selama satu jam dengan dosis rendah.

Wanita hamil, ibu menyususi, anak-anak, penderita yang memiliki riwayat alergi, dan penderita yang sedang menjalani pengobatan lain dilarang untuk menggunakan obat kemoterapi ini.

Menggunakan paclitaxel akan menimbulkan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, diare, nyeri sendi, sariawan, pusing, mati rasa, mudah mengantuk, tangan atau kaki seperti terbakar, anemia, mudah lelah, mudah terkena infeksi, mengalami tekanan darah rendah, mengalami gangguan kognitif, infertilitas, serta meningkatkan risiko pembekuan darah.

Kanker serviks memang menjadi penyakit yang sangat menakutkan bagi kaum wanita. Agar terhindar dari penyakit ini, kaum wanita sangat dianjurkan untuk menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, rajin mengonsumsi air putih, rajin berolahraga, dan istirahat yang cukup.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Pepaya untuk Kanker