Tag Archives: gejala kanker nasofaring

Kanker Nasofaring Menular

Kanker Nasofaring Menular? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Kanker nasofaring memang bukan merupakan kanker yang cukup jarang terjadi. Namun jika tidak segera diatasi dengan baik, tetap bisa menyebabkan kematian karena tergolong sebagai kanker berbahaya. Selain itu, pada sisi yang lain, banyak yang masih bingung, apakah kanker nasofaring menular atau tidak.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebelumnya harus diketahui lebih dulu bahwa kanker nasofaring merupakan kanker yang serangannya terjadi salah satu organ saluran pernafasan. Kanker ini selalu muncul di atas tenggorokan atau faring dan bagian belakang hidung. Karena letaknya yang ada di saluran pernafasan inilah, banyak yang bertanya apakah penyakit kanker yang satu ini menyerang atau tidak.

Penyebab Kanker Nasofaring

Serangan penyakit kanker nasofaring, hampir sama persis dengan serangan kanker dari jenis yang lain. Hingga saat ini belum dapat diketahui dengan pasti penyebabnya. Tetapi di sisi lain banyak ahli kesehatan yang menyimpulkan bahwa penyakit kanker nasofaring ini lebih sering menyerang orang-orang tertentu.

Maksud dari orang-orang tertentu ini antara lain, berasal dari keluarga yang anggotanya pernah mendapat serangan kanker tersebut. Kemudian bagi Anda yang pernah kena serangan Virus Epstein Barr atau EBV dan Virus Human Papilloma atau HPV juga mempunyai resiko tinggi terkena kanker nasofaring. Termasuk juga yang senang mengkonsumsi makanan yang sistem pengolahannya dengan cara diasinkan.

Apakah Kanker Nasofaring Menular? Bagaimana Cara Mencegah Penularannya?

Sebenarnya, tidak ada satupun jenis penyakit kanker yang bisa menular. Karena kanker selalu terjadi oleh faktor pertumbuhan sel-sel yang terganggu, kemudian sel tersebut menjelma jadi sel kanker.

Sehingga terjadinya penyakit kanker itu bukan diakibatkan oleh penularan tapi karena adanya pertumbuhan sel yang tidak normal. Kasus ini sangat jauh berbeda dengan penyakit lain yang bisa menular ke orang lain karena bukan merupakan suatu penyakit infeksi. Sedangkan untuk pencegahannya, yang dapat Anda jalankan adalah menghindari faktor resikonya.

Salah satu wujud dari pencegahan ini yaitu mencegah adanya penularan virus EBV dan HPV. Jika sudah terlanjur masuk dalam tubuh, kedua virus ini akan menimbulkan kerusakan pada sel-sel yang pada akhirnya nanti akan memunculkan serangan kanker.

EBV atau Virus Epstein Barr merupaka virus yang dapat menyebar dengan mudah di daerah mana saja. Banyak yang tidak menyadari adanya serangan virus ini karena meski telah masuk dalam tubuh, tidak pernah menimbulkan tanda atau gejala apapun.

Penyebaran maupun penularan yang acapkali terjadi biasanya melalui cairan tubuh khususnya air liur. Oleh karena itu, Anda dapat dengan mudah terkena serangan virus ini jika sering memakai barang milik orang lain  yang sudah terkena infeksi EBV. Misalnya sikat gigi, gelas, sedotan dan sebagainya. Penularan ini juga dapat terjadi melalui transfusi darah, transplantasi organ, hubungan seksual dan ciuman.

Sedangkan virus HPV atau Virus Human Papilloma memang memiliki tingkat resiko rendah untuk memunculkan serangan kanker nasofaring dibanding virus EBV. Meski demikian, tetap perlu dihindari penularannya dengan cara hanya menjalani hubungan seksual pada satu orang atau satu pasangan saja.

Gejala Kanker Nasofaring

Setelah paham apakah kanker nasofaring menular atau tidak dan jawabannya adalah tidak sekaligus faktor penyebabnya maupun pencegahannya, saatnya mengetahui pula gejala yang sering muncul. Gejala yang biasanya menjadi tanda akan adanya serangan kanker nasofaring ini ada beberapa macam.

Di antaranya adalah adanya benjolan di bagian tenggorokan dan tidak terasa sakit saat disentuh oleh tangan. Selain itu muncul infeksi di organ telinga atau telinga sering berdengung yang di dunia kesehatan dinamakan tinnitus.

Mulut yang terasa sulit dibuka juga merupakan gejala awal dari kanker nasofaring. Terlebih lagi jika disertai dengan rasa sakit pada kepala dan wajah menjadi mati rasa atau nyeri. Gejala ini sering pula dibarengi dengan mimisan, sakit di tenggorokan dan hidung makin sulit untuk bernafas. Gejala berikutnya adalah penglihatan yang kabur dan berbayang.

Pengobatan Kanker Nasofaring Secara Medis Dan Herbal Yang Paling Manjur

Secara umum ada dua sistem pengobatan yang bisa dipilih oleh Anda ketika terkena serangan penyakit kanker nasofaring. Masing-masing adalah sistem pengobatan secara medis dan yang kedua menggunakan obat-obatan herbal atau tradisional.

1. Pengobatan Secara Medis

Sistem pengobatan kanker nasofaring yang dilakukan secara medis selalu disesuaikan dengan stadium-nya, posisi kanker, riwayat penyakit dan kondisi fisik pasien. Untuk langkah pertama yang biasanya dijalankan yaitu memakai metode radioterapi. Metode ini dipilih untuk pasien dengan kondisi kanker nasofaring yang tergolong masih ringan.

Sedangkan pada kanker nasofaring dengan kondisi atau stadium agak berat, memakai metode kemoterapi. Metode ini merupakan teknik penyembuhan dengan obat-obatan khusus dengan tujuan untuk membunuh sel-sel kanker.

Apabila kanker nasofaring sudah masuk stadium berat, langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah operasi bedah. Namun karena letak dari sel kanker nasofaring yang sangat berdekatan dengan syaraf dan pembuluh darah, biasanya metode ini dihindari. Hanya saja jika sel kanker sudah telanjur menyebar hingga ke bagian kelenjar bening, maka operasi bedah menjadi satu-satunya pilihan.

Teknik penyembuhan berikutnya yaitu imunoterapi, dilakukan dengan cara memberikan obat yang nantinya akan berpengaruh kepada kekuatan tubuh untuk melawan pertumbuhan sel-sel kanker. Contoh dari obat ini antara lain adalah cetuximab dan pembrolizumab.

2. Pengobatan Menggunakan Herbal

Menurut hasil puluhan penelitian yang pernah dilaksanakan, setidaknya ada 3 macam ramuan obat herbal yang diyakini sangat mujarab untuk menyembuhkan serangan kanker nasofaring.

  • Daun Sirsak

Salah satunya adalah daun sirsak yang memiliki kemampuan tinggi dalam membunuh sel-sel kanker dengan hasil maksimal. Kelebihan utama dari sistem pengobatan menggunakan daun sirsak ini adalah tidak memunculkan dampak negatif pada tubuh.

Bahkan diyakini pula daun sirsak memiliki kekuatan hingga 10 ribu kali lipat dibanding cara pengobatan kemoterapi. Selain itu zat-zat yang terkandung didalamnya hanya membunuh sel-sel jahat saja, bukan sel positif. Anda dapat mengkonsumsi hasil rebusan daun sirsak 1 atau 2 gelas setiap hari jika ingin segera sembuh dari kanker nasofaring.

  • Kulit Buah Manggis

Obat herbal kedua yang juga dipercaya berkhasiat tinggi dalam mengatasi kanker nasofaring adalah buah manggis, namun yang diambil adalah kulitnya saja. Kulit buah manggis memiliki beberapa jenis senyawa yang bersifat antibakteri, anti histamin, anti alergi, anti oksidan, anti inflamasi dan yang paling penting anti kanker.

Selain itu, kulit manggis juga kaya dengan kandungan nutrisi, gartain, mangostin, epicatechin, garsinon, flavinoid dan spingomyolinase. Cara konsumsinya sama dengan daun sirsak, yaitu direbus kemudian hasil rebusannya diminum sebanyak 1 atau 2 kali sehari, masing-masing 1 gelas.

  • Temu Lawak

Temu lawak sejak zaman dulu sudah sering dipakai untuk mengobati penyakit dan menurut hasil penelitian, tanaman ini mengandung curdione dan curcumol. Kedua kandungan tersebut memiliki khasiat tinggi untuk memberantas pertumbuhan sel kanker nasofaring. Apalagi jika dikonsumsi secara teratur setiap hari.

Temuk lawak dapat dikonsumsi dengan cara dibuat menjadi jamu seduh atau dipakai sebagai bumbu dalam masakan dan makanan. Tetapi jika ingin mendapatkan hasil yang lebih optimal dalam proses penyembuhan kanker nasofaring, sebaiknya dikonsumsi dalam bentuk jamu.

Semoga ulasan lengkap tentang apakah kanker nasofaring menular serta sistem pencegahan dan teknik pengobatannya ini bisa bermanfaat untuk semuanya. Terutama bagi Anda maupun orang-orang terdekat Anda yang sedang terkena serangan penyakit tersebut.

Baca artikel lain mengenai Terapi CAR T-Cell

Efek Samping Radioterapi Kanker Nasofaring

Efek Samping Radioterapi Kanker Nasofaring Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Semua jenis kanker sangat berbahaya karena jika sudah bersarang di tubuh akan menyebar dan mempengaruhi seluruh organ tubuh. Termasuk dengan kanker nasofaring.

Kanker nasofaring disebut juga kanker hidung oleh karena terjadi pada bagian hidung bagian dalam sampai dengan tenggorokan. Penanganan kanker ini harus hati-hati karena terjadi pada bagian kepala dan dekat dengan berbagai indra penting.

Untuk menyembuhkan kanker ini sama saja dengan menyembuhkan kanker jenis lain. Bisa dengan operasi kemoterapi dan radioterapi. Namun kebanyakan menggunakan pengobatan radioterapi. Meski termasuk cara yang paling ampuh untuk menghilangkan kanker tapi ada efek samping radioterapi kanker nasofaring.

Ketahui lebih lanjut akan efek sampingnya tersebut pada pembahasan di bawah ini.

Gejala Kanker Nasofaring

Gejala dari kanker nasofaring bisa dibilang mirip dengan flu karena biasanya penderita akan kesulitan bernapas. Hal itu terjadi karena di daerah nasofaring terdapat penyempitan. Namun bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan gangguan berbicara juga, misalnya suara jadi sengau.

Beberapa gejala lain yang bisa saja mengindikasikan penyakit ini, antara lain sakit tenggorokan, ada benjolan pada bagian leher dan hidung, mimisan dari hidung, kesulitan bernafas sehingga suara jadi serak, terjadi infeksi telinga, sakit kepala, telinga berdenging, wajah mati rasa, dan pandangan kabur.

Beberapa penyebab dari kanker ini antara lain:

  • Sering makan sayuran yang diawetkan.
  • Sering makan ikan asin.
  • Mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan precursor nitro atau nitrosamine.
  • Terjangkit virus Epstein-Barr.
  • Antibodi kurang bagus.
  • Terlalu sering menghirup asap seperti pada obat nyamuk bakar, kayu bakar, kemenyan, dupa, dan asap rokok
  • Melakukan pekerjaan yang menghasilkan serbuk kimia seperti serbuk kayu atau peleburan besi.

Radioterapi untuk Kanker Nasofaring

Radioterapi adalah salah satu cara untuk mengobati kanker nasofaring yang ampuh. Namun sama seperti kemoterapi, akan mungkin juga terjadi efek samping radioterapi kanker nasofaring.

Radioterapi atau terapi radiasi akan dilakukan dengan memakai radiasi tingkat tinggi. Contohnya sinar elektron proton, gama, dan sinar X. Tujuannya adalah untuk mengecilkan ukuran tumor juga membunuh sel kanker.  Hampir setengah dari penderita penyakit ini perlu melakukan radioterapi.

Radioterapi sebenarnya juga bisa dilakukan untuk mengobati penyakit lain seperti kelainan darah, penyakit tiroid, dan tumor. Sementara itu, untuk penderita kanker yang sudah sangat parah, radioterapi hanya berguna untuk mengurangi rasa sakit dan gejala si penderita, bukan untuk menyembuhkan.

Ketika melakukan radioterapi dan menggunakan dosis yang sangat tinggi justru bisa ikut mematikan sel-sel normal. Kemudian akan merusak DNA yang dimiliki sel kanker supaya berhenti tumbuh.

Itulah yang membuat terjadinya efek samping radioterapi kanker nasofaring.

Supaya menghindari efek sampingnya maka biasanya dokter akan berusaha hanya memberikan dosis tinggi pada bagian tubuh yang memang terkena kanker. Sedangkan bagian tubuh lain diberi dosis yang rendah sekali. Jika memang sel kanker terlalu ganas maka penggunaan dosis sinar yang tinggi bisa memperparah efek samping.

Ada dua jenis terapi sinar yang akan diberikan, yaitu radioterapi internal dan eksternal. Radioterapi internal akan dilakukan dengan memberikan radiasi lewat tubuh bagian dalam. Akan dimasukkan sebuah zat yang mengandung radiasi. Caranya dengan menyuntikkannya melalui pembuluh darah. Ada juga yang harus diminum supaya bisa langsung sampai ke tempat dimana sel kanker berada.

Sementara itu, radioterapi eksternal dilakukan dengan memberikan sinar radiasi lewat sinar X atau dengan mesin. Tentu saja dilakukannya di luar tubuh. Tempat melakukan radioterapi eksternal ini berbentuk seperti tabung yang besar.

Efek Samping Radioterapi untuk Kanker

Efek samping dari terapi ini terhadap kanker nasofaring terbagi menjadi efek jangka pendek dan jangka panjang.

Efek Jangka Pendek

Untuk efek jangka pendek biasanya hanya terjadi ketika proses radioterapi selesai dilakukan. Selanjutnya dalam beberapa jam atau beberapa hari efek tersebut bisa hilang dengan sendirinya.

Beberapa efek jangka pendek yang terjadi antara lain menghitamnya kulit pada bagian tubuh yang terkena sinar radiasi, merasa mual dan muntah, mengalami kerontokan pada bagian kepala, leher dan muka. Kemudian memberikan gangguan menstruasi, kelelahan, kualitas dan jumlah sperma menjadi berkurang lalu terjadi masalah kulit.

Terakhir, pasien bisa mengalami penurunan nafsu makan. Jika begini maka sistem pencernaan akan bermasalah. Agar tidak terjadi hal lain yang buruk maka mereka harus menjaga kesehatan dan gizinya dengan asupan makanan yang baik.

Efek Jangka Panjang

Kemudian untuk efek jangka panjangnya ada lumayan banyak, hal ini tergantung kepada mana bagian tubuh yang terkena radiasi. Apabila radiasi diberikan pada bagian leher dan dada seperti untuk penyembuhan kanker nasofaring ini maka bisa memberikan risiko terjadinya penyempitan pada bagian tenggorokan dan saluran napas. Jika sudah demikian maka akan kesulitan dalam menelan.

Apabila pada bagian perut maka akan membuat pasien sering buang air kecil karena kandung kemihnya menjadi tidak elastis. Sementara itu, jika dilakukan di payudara maka membuatnya bisa lebih kencang dan keras, jika pada bagian pinggul akan membuat vagina kurang elastis dan lebih sempit, dan masih banyak efek lainnya.

Kemudian ada efek samping lanjutan dan akut. Efek samping lanjutan bisa berupa adanya pendarahan, mulut kering, dan pengerutan jaringan. Sementara efek samping akut seperti jaringan nekrotik atau mati, lalu pada bagian kulit muncul gelembung dan kemerahan.

Meski efek sampingnya kelihatan banyak tapi sebenarnya bisa saja tidak akan terjadi. Justru radioterapi ini akan mempercepat proses penyembuhan dan pengobatan kanker.

Mencegah Efek Samping

Efek samping dari radioterapi untuk pengobatan kanker nasofaring bisa dicegah dengan berbagai cara, antara lain:

  • Jangan Minum Dan Makan Yang Terlalu Dingin Dan Panas

Pasien yang mendapatkan penyinaran pada bagian leher dan kepala harus mengikuti pantangan ini. Jika tidak maka selaput-selaput yang berada di rongga mulut bisa terpengaruhi. Efek tersebut bisa menyebabkan luka karena efek radiasi.

  • Jaga Kesehatan Mulut Dan Gigi

Apabila kesehatan mulut dan gigi dari pasien yang akan menjalani radioterapi tidak dijaga maka bisa membuat adanya infeksi lanjutan. Mulut adalah tempat yang paling banyak temannya jadi infeksi bisa muncul.

Akan lebih baik jika pasien yang akan menjalani terapi ini memeriksakan kesehatan mulut dari giginya ke dokter gigi.

  • Konsumsi Gizi Yang Cukup

Apabila nutrisi dan gizi mencukupi maka ketika melakukan radioterapi pasien akan merasa kuat. Nanti setelah melakukan terapi pasien bisa saja kehilangan selera makan akibat dari kondisi kesehatan mental yang sudah menurun.

Untuk mencegah hal ini terjadi maka pastikan semua kebutuhan makanan tercukupi dengan baik dari segi jadwal, jenis, dan jumlahnya.

  • Hindari Sinar Matahari Secara Langsung

Bagian kulit yang terkena radiasi kebanyakan menjadi sensitif akan sinar matahari. Jadi jika akan keluar rumah lebih baik gunakan jaket atau payung. Jika dokter mengijinkan juga bisa menggunakan sunblock. Namun sunblock yang digunakan harus aman digunakan pada bagian wajah.

Meski nantinya efek samping ini akan hilang tapi ada juga pasien yang justru lebih sensitif akan sinar matahari.

Demikianlah pembahasan mengenai efek samping radioterapi kanker nasofaring yang mungkin terjadi. Jika Anda akan melakukan radioterapi maka harus mencari berbagai informasi mengenai radioterapi. Jadi bisa mempersiapkan diri jika ada sesuatu buruk yang mungkin terjadi.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Ubi Ungu

Gejala Kanker Nasofaring

Waspadai Gejala Kanker Nasofaring Sejak Dini!

Kanker nasofaring mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Kanker ini memang tidak sepopular kanker-kanker kebanyakan, seperti kanker paru, kanker payudara, kanker rahim, kanker darah, dan kanker otak. Namun, sesungguhnya jumlah penderita kanker ini di Indonesia cukup banyak. Bahkan, tingkat keganasannya menduduki peringakt nomor empat setelah kanker rahim. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi setiap orang untuk mewaspadai gejala dini kanker nasofaring.

Sebelum mengulas lebih jauh tentang apa saja gejala kanker nasofaring itu, sebaiknya kita tahu dulu apa yang dimaksud dengan kanker nasofaring. Kanker nasofaring merupakan kanker yang menyerang wilayah yang terdapat pada bagian belakang tenggorokan dan bagian belakang hidung. Kanker ini bisa menyerang siapa saja, tanpa mengenal gender. Namun, dalam banyak kasus yang pernnnah terjadi, pria dengan rentang usia 35-55 tahun lebih rentan terkena penyakit ini daripada wanita.

Pada tahap awal (stadium dini), penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya mengidap kanker nasofaring. Hal ini dikarenakan, ciri gejala kanker nasofaring mulanya tidak mengkhawatirkan. Hanya menyerupai penyakit flu; hidung berlendir dan mampet. Karena flu dianggap penyakit biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya, banyak penderita yang baru memeriksakan diri ke dokter ketika penyakitnya sudah parah (stadium lanjut).

Untuk dapat mewaspadai gejala kanker nasofaring sedini mungkin, Anda perlu tahu apa-apa saja gejala yang umum ditampakkan oleh penyakit ini, juga dengan gejala yang sering luput dari perhatian kita. Inilah gejalanya:

Timbul Pembengkakan atau Benjolan pada Leher

Pada dasarnya, di manapun letak benjolan abnormal patut dicurigai sebagai tanda suatu penyakit. Salah satu ciri gejala kanker nasofaring ditandai dengan adanya benjolan di bagian leher. Banyak orang yang berasumsi bahwa benjolan di leher selalu berkaitan dengan penyakit gondok.

Padahal, bukan hanya penyakit gondo yang memberi tanda berupa benjolan di leher. Benjolan di leher yang menjadi gejala kanker nasofaring selalu tidak menimbulkan rasa sakit ataupun gatal. Sehingga sifatnya menipu diri penderita itu sendiri. Disangka bahwa benjolan yang tidak terasa sakit adalah benjolan yang aman-aman saja.

Untuk memastikan leher Anda terdapat benjolan atau tidak, lakukan pemeriksaan sendiri terlebih dahulu. Mendongaklah hingga leher Anda terasa kencang, lalu raba permukaan leher. Bila terasa ada benjolan abnormal, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat kepastian apakah benjolan tersebut tumor nasofaring atau bukan.

Benjolan pada Dinding Dalam Maupun Luar Hidung

Eksistensi tumor nasofaring juga bisa dideteksi melalui benjolan abnormal yang terdapat pada dinding luar maupun dalam hidung. Memang, tidak semua benjolan pada hidung merupakan cikal bakal kanker nasofaring. Kemungkinan juga bisa polip hidung yang penyembuhannya tentu tidak sesulit kanker nasofaring. Namun, Anda baru bisa mengetahui benjolan tersebut kanker nasofaring atau bukan setelah menjalani pemeriksaan medis.

Diplopi

Diplopi merupakan masalah penglihatan yang ditandai dengan adanya bayangan berganda. Persis seperti mereka yang mengalami gangguan mata rabun jauh dan silindris. Tetapi, pada penderita kanker nasofaring, masalah ini timbul secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda awal mata rabun.

Wajah Nyeri dan Mati Rasa

Wajah terasa nyeri dan mati rasa merupakan tanda gejala kanker nasofaring yang sering juga ditunjukkan oleh penderita penyakit sinusitis. Saat kanker nasofaring menggerogoti, wajah akan terasa berdenyut nyeri atau justru kebas/menebal karena mati rasa. Bila sudah sampai pada keluhan seperti ini, kemungkinan besar sel kanker telah menyebar.

Hidung Terasa Mampet

Dalam kondisi flu, wajar bila saluran hidung terasa tersumbat. Hal itu disebabkan karena produksi lendir pada saat flu meningkat dari biasanya. Lendir harus rajin dikeluarkan agar saluran hidung menjadi lega. Namun, gejala kanker nasofaring juga menunjukkan gejala seperti flu. Hanya saja, hidung mampet ini berlangsung cukup lama meski penderita tidak sedang mengalami flu. Penyumbatan ini umumnya disebabkan oleh benjolan abnormal yang tumbuh menghalangi saluran hidung. Sehingga menimbulkan ketidaknyamanan saat bernapas.

Epitaksis

Masih berhubungan dengan hidung, ciri gejala kanker nasofaring lainnya yang patut dicurigai adalah pendarahan hidung atau lebih familiar disebut dengan mimisan. Mimisan sering terjadi saat imunitas tubuh melemah atau suhu tubuh sedang tinggi (demam). Darah yang mengalir dari hidung disebabkan karena adanya pembuluh darah yang pecah dan dapat berhenti sendiri jika tidak mempunyai riwayat kelainan darah. Mimisan memang tidak selalu dikhwatirkan sebagai tanda penyakit serius. Namun, jika frekuensi terjadinya cukup sering, Anda patut mencurigai tanda-tanda ini sebagai gejala kanker nasofaring.

Telinga Berdengung

Hampir semua orang pernah mengalami masalah telinga berdengung (tinnitus). Masalah ini umumnya dapat sembuh sendiri. Penyebabnya bisa karena kemasukan air, telinga terjepit bantal, dan perbedaan tekanan udara yang signifikan (seperti saat berada di dalam pesawat terbang). Akan tetapi, telinga berdengung juga bisa dicurigai sebagai gejala dini kanker nasofaring. Sebab, saluran telinga mempunyai keterkaitan yang cukup erat dengan hidung serta tenggorokan (THT).

Radang Tenggorokan

Waspadai juga jika sering mengalami radang tenggorokan. Radang tenggorokan ditandai dengan rasa sakit ketika menelan. Terkadang, turut memengaruhi perubahan suara. Bila radang tenggorokan biasa bisa disembuhkan dengan banyak minum air bening, maka hal itu tidak berlaku pada penderita kanker nasofaring. Jadi, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri ke dokter jika sering mengalami radang tenggorokan dan sulit sembuh.

Merasa Sulit Bernapas

Karena organ pernapasan bagian atas mengalami gangguan, maka oksigen yang masuk juga berkurang. Akibatnya, napas akan terasa sesak dan berat. Jangan anggap remeh jika napas Anda terasa sesak. Bisa jadi itu merupakan gejala dini kanker nasofaring.

Itulah sebagian besar gejala kanker nasofaring yang perlu Anda waspadai sedini mungkin. Semoga informasi yang disampaikan dalam artikel ini bermanfaat dan dapat diserap serta dipahami dengan mudah.

Baca artikel lain mengenai Daun Belalai Gajah