Herceptin untuk Kanker Payudara

Plus Minus Penggunaan Herceptin untuk Kanker Payudara

Pada bulan Oktober 2014 silam, sebuah artikel yang dilansir oleh Journal of Clinical Oncology, memaparkan hasil penelitian terbaru tentang pemberian herceptin untuk kanker payudara. Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa harapan hidup (survival rate) pasien dengan kanker payudara tipe HER2 positif yang mendapat pengobatan herceptin pasca kemoterapi meningkat, dibandingkan pasien yang hanya mendapat pengobatan kemoterapi saja.

Persentase peningkatannya mencapai 74% dari yang sebelumnya hanya sebesar 62%.  Atau jika dikonversikan, pasien yang mendapat penambahan kemoterapi herceptin, mampu bertahan hidup 10 tahun lebih lama dari batas rata-rata ketahanan hidup pasien kanker payudara tanpa herceptin (10 year ovearl survival rate).Penggunaan herceptin juga terbukti memperlebar jurang risiko terjadinya kekambuhan atau penyebarluasan sel-sel kanker sekunder yang kemungkinan besar  tertinggal.

Lalu, obat jenis apa sesungguhnya herceptin ini?

Herceptin atau disebut juga dengan nama lain trastuzumab, merupakan obat yang berupa antibody moniklonal (buatan manusia) yang digunakan dalam terapi penyembuhan kanker payudara tipe HER2. Tidak semua pasien kanker payudara mendapat pengobatan herceptin. Penyebabnya, bisa karena ketidaktersediaan obat ini di kota tempat pasien berdomisili, atau memang tidak mendapat rekomendasi dokter untuk menggunakannya.

Lalu, apa pula yang dimaksud dengan HER2 positif?

HER2 positif merupakan suatu kondisi dimana ditemukannya reseptor dari human Epidimeial Growth Factor (EGF) nomor 2 dalam jumlah besar pada tubuh pasien kanker payudara. Reseptor ini berpotensi besar mendorong sel kanker untuk berkembang dan menyebar. Dalam semua kasus kanker payudara, sedikitnya 20% pasien dinyatakan dalam status HER2 positif.

Mekanisme Kerja Herceptin untuk Kanker Payudara

Dalam menjalankan fungsinya, herceptin mempunyai tiga mekanisme kerja terpadu, yaitu:

  1. Menghambat Epdimeial Growth Factor (EGF) agar tidak mencapai sel kanker. Pada mekanisme ini, herceptin mengikat reseptor (EGF) agar tidak bisa melekat pada protein HER2 dan menyebabkan sel menjadi mati.
  2. Menstimulasi sistem imun sel NK(Natural Killer). Sel kanker dapat merusak sistem imun di dalam tubuh. Herceptin berusaha mengatasi hal tersebut dengan merusak reseptor HER2 supaya sistem imun sel NK aktif. Dengan aktifnya sel NK, maka sel-sel abnormal bisa teridentifikasi dan dibasmi keberadaannya di dalam tubuh.
  3. Herceptin bekerja menghambat proses DNA repairing akibat adanya overekspresi HER2. Saat kemoterapi biasa diterapkan, DNA sel tumor akan mengalami kerusakan. Namun, DNA sel tumor yang telah bisa dapat menyembuhkan diri sendiri hingga kemudian berkembang kembali. Dengan penambahan herceptin pada kemoterapi, sel DNA yang telah rusak akan dihambat untuk tumbuh kembali, hingga akhirnya mati karena tidak adanya overekspresi.

Fakta-fakta Efektivitas Herceptin

Telah banyak hasil penelitian membuktikan efektivitas herceptin dalam pengobatan kanker. Hasil riset yang diumumkan pada Journal of Clinical Oncology bukan satu-satunya riset yang pernah dilakukan untuk menguji keefektifan kemoterapi herceptin. Pada tahun-tahun sebelumnya, telah dilakukan beberapa kali riset untuk menemukan fakta keunggulan dari obat kanker payudara yang satu ini.

Riset pertama dilakukan pada tahun 2005. Penambahan Herceptin setelah kemoterapi standar tuntas dilakukan, menuai hasil positif untuk harapan kesembuahan. Tahun 2011, penelitian kedua dilakukan dan hasilnya kemampuan herceptin dalam menekan perkembangan dan mematikan sel kanker masih mengungguli dibandingkan obat-obat lain.

Dan, terakhir, seperti yang telah disinggung sebelumnya, dari riset yang dilakukan pada tahun 2014 silam menambah panjang deret bukti bahwa herceptin mampu menambah tingkat kesembuhan keseluruhan (overall survival) pada pasien kanker dan keuntungan jangka panjang (long term benefit), berupa bebas kanker minimal hingga 10 tahun ke depan.

Hasil riset ini diperoleh setelah dilakukan pengamatan panjang dan berkelanjutan terhadap 4.000 wanita yang menderita kanker payudara HER2 positif.

Efek Samping Herceptin

Pemberian herceptin pada kemoterapi ditujukan untuk pasien kanker payudara HER2 positif dalam segala tingkatan umur, status hormonal, serta penyebaran limfatik maupun tidak. Akan tetapi, di balik keunggulan kemoterapi herceptin, pemberian obat ini dapat menimbulkan efek samping. Reaksi efek sampingnya bisa berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Beberapa keluhan yang paling sering terjadi pasca pemberian herceptin untuk kanker payudara, antara lain:

  • Hidung tersumbat dan berair, persis gejala yang ditimbulkan oleh influenza.
  • Merasa dingin hinggal menggigil berkepanjangan. Keluhan ini dapat berlangsung selama 7 hingga 14 hari setelah pemberian dosis herceptin pertama. Namun, untuk pemberian dosis selanjutnya di lain waktu, rasa kedinginan yang cukup hebat ini hanya berlangsung 2 hingga 3 hari saja.
  • Muncul rasa nyeri pada persendian dan tulang.
  • Diare tanpa disertai sakit perut atau kram. Diare dapat berlangsung 7 hingga 10 hari setelah pemberian dosis herceptin pertama. Umumnya keluhan ini tidak berulang pada pemberian dosis selanjutnya.
  • Lelah berkepanjangan, tetapi sangat dapat dibantu dengan menegakkan asupan nutrisi yang cukup.
  • Demam dan rasa mual yang cukup menganggu. Tidak perlu heran, segala obat yang bertujuan untuk menggempur “benda asing” di dalm tubuh pasti menimbulkan reaksi demam dan mual.
  • Lesi atau lepuh seperti jerawat di wajah yang berpotensi muncul sejak pemberian dosis pertama hingga kedua.
  • Infeksi. Hal ini terjadi karena sel darah putih dan sel darah merah tengah mengalami penurunan. Setelah kemoterapi herceptin tuntas dilakukan, keadaan akan kembali normal.

Demikian informasi mengenai obat herceptin untuk kanker payudara. Semoga artikel ini dapat memperluas wawasan pembaca tentang penyembuhan kanker melalui penggunaan herceptin.

Baca artikel lain mengenai Bahaya Makan Gorengan

Imunoterapi pada Kanker

Imunoterapi pada Kanker Meningkatkan Harapan Hidup Penderita Kanker

Beberapa tahun terakhir, dunia kedokteran memperkanalkan metode pegobatan kanker melalui sebuah terapi yang diberi nama imunoterapi. Penamaan ini diambil dari dua gabungan kata yakni imun dan terapi. Jika didefenisikan, imunoterapi adalah sebuah cara atau metode pengobatan yang dilakukan dengan cara memperkuat sistem imun (kekebalan) tubuh untuk tujuan melawan suatu penyakit tertentu.

Imunoterapi pada kanker disebut juga dengan terapi biologi. Hal ini dikarenakan bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan terapi bergantung pada bahan-bahan sintetis atau alami. Tujuan utama dari imunoterapi itu sendiri tiada lain untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh penderita. Seperti yang kita ketahui, sel kanker dapat menghancurkan sistem kekebalan tubuh penderita.

Saat kekebalan tubuh penderita lemah, di saat itu pula sel kanker merajarela, menyebar ke segala orga yang ia tuju. Bila penyebaran sel kanker semakin meluas, upaya penyembuhannya pun semakin sulit. Upaya penyembuhan yang semakin sulit tak pelak membuat harapan hidup penderita semakin sempit.

Sejarah Munculnya Imunoterapi

Imunoterapi pada penyakit kanker sebenarnya bukan sesuatu yang baru di dunia kedokteran. Terapi ini sudah pernah diperkenalkan oleh seorang ahli bedah dari Amerika, William Coley, dan diterapkan pada pasien kanker pada abad ke-19. Oleh Coley, sel kanker yang bersarang dalam tubuh pasiennya dibasmi dengan cara menginfeksikan bakteri Colex Toxins dan berhasil. Sayangnya, keberhasilan metode ini terhenti sampai di situ karena tidak mendapat perhatian besar dari khalayak.

Imunoterapi pada kanker baru berjalan lagi di era 90-an. Rentang tahun 1992 hingga 1998, interleukin-2 dimanfaatkan sebagai obat untuk penyembuhan penyakit kanker melanoma dan kanker ginjal. Selang lima tahun kemudian, imunoterapi berdengung kembali dengan ditemukannya antibodi yang dapat dihubungkan dengan protein sel limfosit T atau dikenal dengan sebutan CTLA-4. Antibodi ini diketahui dapat menghambat penyebaran sel kanker ke bagian tubuh lainnya. Sekaligus membantu proses penyembuhan bagi pasien yang sel kankernya telah terlanjur bermetastasis (menyebar).

Seiring berjalannya waktu, imunoterapi pada kanker semakin banyak diperkenalkan di berbagai negara maju. Mekasnisme kerjanya pun terus berkembang hingga semakin banyak jenis kanker yang dapat ditolong dengan metode pengobatan imunoterapi ini.

Mekanisme Kerja Imunoterapi untuk Penyakit Kanker

Setiap tubuh manusia dilengkapi dengan sistem pertahanan yang mampu bekerja secara kompleks, dalam merespon dan mengidentifikasi benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Ketika ada benda asing yang masuk dan terdeteksi ke dalam tubuh, maka secara otomatis imun akan merespon dengan cara menghancurkan benda asing tersebut.

Dengan kinerja sistem pertahanan tubuh yang begitu hebat itu, idealnya tidak ada benda-benda asing yang dapat bertahan lama dan membahayakan tubuh. Tetapi pada kenyataannya, sel kanker yang berperan sebagai benda asing, tidak mampu dikenali oleh sistem pertahanan tubuh itu sendiri. Sehingga dengan masuk dan berkembangnya sel kanker, memberi kesan bahwa pertahanan tubuh tengah kecolongan.

Mengapa bisa demikian?

Ternyata, hal ini disebabkan karena sel kanker bukanlah asli benda asing yang terdapat di luar tubuh manusia lalu masuk dan merusak. Sel kanker awalnya berasal sel baik yang berubah aktif menjadi sel jahat akibat kebiasaan buruk manusia. Perubahan ini yang kemudian tidak terbaca oleh sistem pertahanan tubuh. Sulit bagi sistem pertahanan tubuh membedakan antara sel jahat dengan sela baik karena keduanya berasal dari dalam tubuh, bukan dari luar.

Karena tidak terdeteksi sebagai sesuatu yang asing dan membahayakan, akibatnya sel kanker berkembang biak dan bertindak di luar batasan. Bahkan secara perlahan-lahan, sel kanker akan merobohkan sistem pertahanan tubuh itu sendiri. dengan sistem pertahanan tubuh yang kian lemah, maka sel kanker dapat menggerogoti organ apa saja yang dihinggapinya.

Oleh sebab itulah, imunoterapi pada kanker diterapkan. Melalui imunoterapi, sistem kekebalan tubuh yang melemah dibangkitkan kembali. Penarapan imunoterapi juga dimaksudkan untuk melatih sistem pertahanan tubuh aagar dapat mengenali dan menghancurkan sel-sel karsonogen secara spesifik.

Jenis-jenis Imunoterapi untuk Kanker

Berdasarkan penerapan imunoterapi yang pernah dilakukan, terdapat sekurang-kurangnya tiga jenis imunoterapi pada kanker, yakni:

  1. Imunoterapi antibodi monoclonal. Jenis ini biasa digunakan untuk membasmi sel kanker yang jenisnya telah diketahui secara spesifik melalui rangkaian pemeriksaan. Jadi, sistem pertahanan tubuh yang dibangun akan fokus menyerang bagian sel kanker tertentu itu saja.
  2. Imunoterapi non-spesifik. Jenis ini digunakan untuk membangkitkan sistem pertahanan secara umum guna melawan segala jenis kanker yang berkembang biak di dalam tubuh. Biasanya diaplikasikan pada penderita kanker stadium lanjut.
  3. Vaksin kanker. Jenis ini digunakan untuk memicu kinerja pertahanan tubuh dan menguatkannya. Sehingga tidak mudah terkalahkan oleh keganasan sel kanker.

Efek Samping Imunoterapi

Penerapan imunoterapi untuk kanker secara terpadu terbukti dapat menurunkan jumlah sel kanker di dalam tubuh penderita. Dengan demikian, kualitas dan harapan hidup penderita menjadi lebih besar.

Akan tetapi, sesuatu yang tidak dapat dipungkiri, penerapan imunoterapi pada penyakit kanker jangka panjang dapat menimbulkan efek samping yang cukup membahayakan. Meski tidak semua penderita kanker mengalaminya, namun sebagian kecil kasus kecil yang pernah terjadi seperti demam tinggi, detak jantung tidak beraturan, diare, penurunan berat badan, dan juga alergi kulit.

Demikian ulasan mengenai imunoterapi pada penyakit kanker. Semoga tulisan ini dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca sekalian.

Baca artikel lain mengenai Bahaya Makan Gorengan

Manfaat Mahkota Dewa

Manfaat Mahkota Dewa yang Ampuh Tangkal Kanker

Buah mahkota dewa (Phalaria Macrocarpa), tumbuh dan tersebar di wilayah Indonesia timur, atau lebih tepatnya di Papua. Dahulu, belum banyak orang yang mengenal dan mengetahu manfaat mahkota dewa. Baru pada tahun 2007, berkat penelitian para ahli dari IPB, buah berciri khas merah merona ini diperkenalkan ke masyarakat luas.

Sejak lama, oleh penduduk setempat, buah mahkota dewa dijadikan salah satu tanaman obat. Tanaman ini dianggap istimewa karena seluruh bagiannya yakni buah, dahan, maupun daunnya dapat dimanfaatkan sebagai obat berbagai macam penyakit dan untuk memelihara kesehatan tubuh. Dan, ternyata manfaat mahkota dewa bukan omong kosong belaka. Sebab, setelah melewati uji klinis, buah yang satu ini memang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Bahkan, kandungan nutrisi dan senyawa aktif yang terdapat di dalamnya, terbukti dapat mengurangi massa tumor dan membasmi sel-sel kanker.

Adapun senyawa aktif yang dimaksud antara lain:

  • Polifenol. Manfaat mahkota dewa untuk kanker tidak terlepas dari peranan polifenol yang dimilikinya. Polifenol adalah jenis senyawa yang bersifat antikanker dan antialergi yang bertugas memproteksi tubuh dari bahaya radikal bebas.
  • Alkaloid. Tanpa disadari, tubuh menyerap racun yang berasal dari apa yang kita konsumsi dan hirup. Racun-racun tersebut harus disita oleh ginjal dengan bantuan alkaloid.
  • Flavonoid. Flavanoid berfungsi membasmi lemak-lemak jahat yang berpotensi menjadi sumber penyakit.
  • Saponin. Manfaat mahkota dewa diperkuat dengan adanya kandungan senyawa saponin. Senyawa saponin berkontribusi untuk meningkatkan imunitas tubuh. Dengan pertahanan tubuh yang kuat, maka virus, kuman, maupun bakteri tidak mudah masuk dan berkembang biak.
  • Sterol. Senyawa sterol memberi pengaruh positif untuk kesehatan kulit. Dengan kadar yang seimbang, senyawa sterol dapat mendorong pembentukan Vitamin D yang baik untuk menjaga kulit dari bahaya kanker akibat paparan  sinar ultraviolet.
  • Minyak Atsiri. Telah banyak penelitian yang mengungkapkan manfaat menakjubkan dari minyak atsiri. Selain sebagai antiinflamasi, minyak atsiri terbukti efektif menahan laju perkembangan sel kanker. Dengan kandungan minyak atsiri ini pula, buah mahkota dewa terbukti ampuh untuk pengobatan penyakit kanker payudara dan kanker hati.
  • Antihitamin. Fungsi senyawa antihistamin hampir serupa dengan fungsi yang diberikan oleh senyawa saponin. Antihistamin bertugas untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar tidak mudah diterjang oleh virus, kuman, dan bakteri. Pada buah dewa, antihistamin paling banyak terdapat pada buah dan daun. Keunggulan ini membuktikan bahwa buah dewa cocok untuk mengatasi kanker hati, kanker kolon, kanker darah, dan kanker hati.

Manfaat Mahkota Dewa untuk Tumor dan Kanker

Selain fungsi senyawa-senyawa aktif pada mahkota dewa yang berperan sangat besar dalam menangkal kanker, nutrisi vitamin yang terdapat di dalamnya pun tidak kalah penting. Dari komposisi gabungan antara senyawa aktif dan vitamin penting itu, maka buah mahkota dewa dapat memberi manfaat-manfaat lain, seperti:

  1. Melancarkan peredaran darah. Sirkulasi peredaran darah yang lancar akan membuat tubuh terasa sehat. Apabila sirkulasi darah mengalami hambatan, risiko yang dihadapi berupa serangan jantung dan stroke.
  2. Menstabilkan kadar gula darah. Penderita kanker yang memiliki riwayat penyakit gula harus harus lebih berhati-hati dalam menjaga kadar gula darah. Beberapa jenis kanker tertentu memiliki ciri khas berupa munculnya luka-luka kecil terbuka. Apabila kadar gula darah tinggi, maka kondisi luka yang ditimbulkan oleh kanker tersebut semakin sulit disembuhkan. Dengan rutin mengonsumsi mahkota dewa, niscaya dapat menstabilkan kadar gula darah di dalam tubuh.
  3. Meningkatkan metabolisme tubuh. Serangan kanker mampu merusak seluruh sel-sel di dalam tubuh. Kerusakan ini akan berdampak pada metabolisme tubuh, sehingga tubuh tidak dapat menyerap nutrisi yang dibutuhkan. Dengan seluruh kandungan istimewa yang dimiliki mahkota dewa, stabilitas metabolisme tubuh akan terkontrol dengan baik.
  4. Meminalisasi rasa sakit. Penderitaan yang ditimbulkan oleh kanker sangat luar biasa. Rasa sakit yang dirasakan penderita berlipat kali lebih besar daripada sakit yang ditimbulkan oleh penyakit biasa. Namun, rasa sakit itu dapat minimalisasi dengan mahkota dewa. Hal ini dikarenakan, minyak atsiri yang terdapat di teruji mampu menyamankan bagian yang sakit.

Efek Samping Mahkota Dewa

  1. Pada biji buah mahkota dewa terdapat racun yang bisa membuat lidah menjadi kelu, mati rasa, dan menimbulkan demam. Jika ingin mengonsumsi buah ini, pisahkan terlebih dahulu antara biji dengan dagingnya.
  2. Terlalu banyak mengonsumsi buah ini juga dapat menyebabkan sakit kepala hebat. Mintalah petunjuk ahli herbal untuk mendapatkan dosis penggunaan yang tepat.
  3. Menyebabkan keguguran. Ibu hamil dilarang keras mengonsumsi buah mahkota dewa. Kandungan oksitosis dan sintosinon dapat memicu terjadinya kontraksi dini.

Cara Mengolah Mahkota Dewa

Cara mengolah mahkota dewa harus dilakukan secara tepat agar manfaat yang diperoleh maksimal. Untuk pengobatan kanker, ikuti petunjuk penyajian berikut ini.

  • 5 gram buah mahkota dewa yang telah dikeringkan.
  • 15 gram kunyit putih.
  • 10 gram sambiloto yang telah dikeringkan.
  • 15 gram daun dewa.

Cara Membuatnya

Rebus semua bahan di atas dengan 5 gelas air. Tunggu hingga menyusut setengahnya. Saring, lalu minum dalam keadaan hangat. Lakukan setiap 3x sehari.

Itulah informasi mengenai manfaat mahkota dewa untuk tumor dan kanker. Semoga bermanfaat.

Baca artikel lain mengenai Bahaya Makan Gorengan

Membantu Penyembuhan Dengan 4Life Transfer Factor