Lymphedema Kanker Payudara

Hati-Hati dengan Lymphedema (Limfedema) Bagi Penderita Kanker Payudara

Sudah lama dari posting yang sebelumnya saya tidak melakukan posting pada blog ini. Kali ini saya ada waktu untuk membagikan pengalaman lagi kepada para pembaca blog ini ataupun yang sedang mencari informasi mengenai apa yang akan dihadapi saat berperang melawan kanker payudara.

Penderita kanker payudara semakin banyak dengan berjalannya waktu, tetapi dengan deteksi dini seharusnya penderita kanker payudara dapat dicegah. Kali ini saya ingin membahas mengenai limfedema yang sedang diderita oleh mama saya akibat dari kanker payudara yang dideritanya.

Apa itu limfedema?

Limfedema adalah pembengkakan yang terjadi pada bagian tubuh tertentu akibat terganggunnya fungsi dari getah bening. Para ahli memperkirakan 5-40% penderita kanker payudara mengalami limfedema.

Pengalaman Berperang Dengan Limfedema

Mama saya sejak kemoterapi yang kedua mulai terjadi pembekakan pada lengan bagian kanan dimana letak dari kanker payudara juga ada di sebelah kanan dan sudah menyebar ke getah bening pada bagian ketiak. Ketika getah bening terganggu fungsinya terjadi pembengkakan pada bagian lengan kanan.

Akibatnya lengan jadi terasa kaku dan susah digerakkan, kemudian pada bagian pundak juga susah untuk digerakkan sehingga lengan tidak berputar ke belakang.

Terapi yang dulu dijalankan dan tetap berlanjut hingga saat ini sedang dijalankan oleh mama saya adalah meminum obat pengencer darah yaitu Zarelto. Pada saat lengan mulai terjadi pembengkakan Dr Kong merekomendasi untuk melakukan USG pada lengan tersebut dan ternyata ditemukan blood clot (darah beku) sehingga harus diencerkan. Untuk pertama kali kami menggunakan obat suntikan yaitu Clexane dan selanjutnya menggunakan Zarelto. Butuh waktu 11 bulan untuk menghilangkan blood clot (darah beku) pada bagian lengan kanan untuk kembeli lancar. Hasil USG terakhirnya menyatakan bahwa pembulu darah menjadi kecil yaitu 2mm dari yang kiri yaitu 7mm.

Penyebab limfedema yang diderita oleh mama saya adalah karena 2 hal yaitu yang pertama karena kanker sudah menjalar ke getah bening yang menyebabkan aliran cairan tidak lancar dan yang kedua karena terjadi blood clot sehingga lengan menjadi bengkak.

Cara Mencegah Limfedema

Menurut sumber yang saya baca (link sumber dapat dibaca dibagian bawah posting ini) limfedema merupakan kondisi yang cenderung untuk bertahan atau kambuh lagi pada tingkat tertentu jadi lebih baik dicegah. Untuk mencegahnya jaga kulit terutama bagi penderita kanker payudara yang telah melakukan operasi payudara. Pemberian antibiotik diperlukan jika terjadi infeksi.

Pengalaman saya mendampingi mama menjalani kemoterapi kanker payudara ini, saya tidak tahu bahwa akan terjadi limfedema setelah tahu begini menjadi problem tersendiri saat kanker payudara mulai membaik. Saran saya bagi pembaca blog ini dan yang mencari informasi mengenai kanker payudara, alangkah lebih baiknya jika anda menanyakan efek samping seperti apa yang akan dialami oleh pasien dan apakah bisa terjadi limfedema? Jadi limfedema tidak sampai diderita olehnya.

Cara Mengatasi Limfedema

Pengalaman mama saya dalam perang melawan limfedema ini, saat tidur lengan harus dibuat lebih tinggi dari badan kita. Jadi cara yang mudah yaitu menaruh bantal pada bagian lengan sehingga aliran cairan tidak sampai ke jari-jari jadi ketika pagi hari lengan bisa mengecil. Tetapi terapi ini bukan menyembuhkan hanya bertahan saja dari kondisi saat ini. Tips lain olah raga bisa membantu meringankan atau bahkan jika limfedema sudah berat tindakan operasi diperlukan agar limfedema dapat berkurang.

Itulah pengalaman saya dalam mendampingi mama saya melawan limfedema dan di bagian bawah posting ini ada link yang dapat membantu anda menambah informasi mengenai limfedema. Semoga posting ini membantu para pembaca semuanya dan membantu para penderita kanker payudara yang sedang berjuang. TETAP SEMANGAT JANGAN STRESS DAN JANGAN PUTUS ASA.

Souce Limfedema
Baca artikel lain mengenai Healing Crisis Atau Proses Penyembuhan

Obat Herbal Untuk Kanker

Life Experience 05 – Memilih Obat Herbal Untuk Kanker Payudara Yang Baik

Banyak orang memakai obat herbal sebagai jalan alternatif pengobatan selain jalan medis. Tetapi sering kali karena obat herbal ini menyebar dari mulut ke mulut langsung saja dipakai tanpa memperhatikan kondisi dari penderita. Saya ingin membagikan pengalaman bagaimana mama saya mencoba berbagai macam obat herbal yang orang lain cocok tetapi mama saya tidak cocok dan akhirnya mama saya menemukan obat herbal yang cocok dengan kondisi badannya.

Daun Sirsak

Banyak artikel mengatakan daun sirsak mempunyai kemampuan 10.000x dari kemoterapi, mendengar kalimat itu banyak orang ingin mencoba termasuk mama saya mencoba minum rebusan daun sirsak. Mama saya mencoba 7 lembar dan meminum air-nya. Setelah bebarapa hari yang dirasakan bukan rasa baikan tetapi malah MEMPERPARAH KONDISI BADAN. Pinggang jadi sakit semuanya dan yang paling terasa di daerah pinggang bagian kiri dan kanan terasa pegal-pegal. Setelah di selidiki kenapa bisa begitu sedangkan orang lain kok tidak? Ternyata daun sirsak mengandung Vitamin C yang sangat tinggi dan kondisi badan mama saya tidak mampun menerimanya sehingga memperburuk keadaan. Ada cerita lagi teman mama berumur 60 tahun ke atas juga mengalami hal yang sama, alangkah baiknya sebelum mencoba herbal daun sirsak ini berkonsultasi pada ahlinya agar efek positif yang didapat bukan negatifnya.

Daun Sambung Nyawa

Daun sambung nyawa diperkenal pada mama saya melalui temannya karena temannya memakan mentah daun ini sembuh dari kanker liver (cirrhosis). Diduga daun ini mempunyai kasiat anti oksidan tinggi yang mampu membunuh sel kanker. Mama saya langsung mencoba memakan mentah daun ini sebanyak 5 daun setiap kali makan. Setelah 3-4 hari mencoba mengkonsumsi daun ini efek positif kurang bisa dirasakan sedangkan efek negatif lebih terasa karena lambung mama yang sensitif jadi membuat asam lambung meningkat. Lagi-lagi obat herbal yang orang lain cocok belum tentu dicoba pada kita menjadi cocok.

Daun Waru

Terakhir mama saya mencoba daun waru. Informasi ini diberikan dari teman mama saya, mama saya meminum 50 daun waru dan di juice sebanyak 2x seminggu. Hasil positif lebih banyak dirasakan dalam meminum herbal ini turmor marker tetap turun terus. Obat hormonal dari dokter tetapi diminum dengan didampingi obat herbal daun waru ini kondisi mama semakin membaik. Hal ini belum tentu cocok dengan orang lain jika ingin mencobanya akan lebih baik berkonsultasi pada ahlinya atau bisa mencoba dengan dosis ringan dahulu.

Memilih obat herbal yang cocok untuk penderita kanker tidak mudah dan itu tergantung juga dari kondisi penderita apakah mampu menerima obat herbal atau tidak. Pengalaman dari mama saya ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi pembaca blog ini atau penderita kanker lainnya sehingga dapat diambil langkah tepat untuk memilih obat herbal kanker.

Baca artikel lain mengenai Healing Crisis Atau Proses Penyembuhan

Pola Makan Saat Kemoterapi

Life Experience 04 – Pola Makan Untuk Penderita Kanker dan Saat Kemoterapi

Sebelum menjalani perawatan medis mama saya menjalani pengobatan alami tetapi saat itu belum membawa hasil yang begitu bagus hanya masih mengurangi sakitnya saja. Saat itu pola makan yang diterapkan sama mama begitu ketat. Mama harus menjadi vegetarian, hanya makan sayuran saja. Karena daging bisa menyebabkan penyebaran lebih banyak pada sel kanker.

Vegetarian dan Kanker

Menurut pendapat banyak orang menjadi vegetarian lebih sehat dan nutrisi tetap bisa tergantikan meskipun tidak memakan daging. Pendapat seperti ini menurut saya ada benarnya tetapi tidak 100% karena kondisi badan setiap orang tidak sama, jadi orang vegeratian-pun masih tetap bisa terkena kanker. Tetapi ada juga vegetarian yang lebih sehat daripada orang biasa yang makan daging. Pola makan sangat penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Apa yang kita makan menentukan kesehatan kita. Penyakit datang dari mulut kita sendiri jika tidak bisa menjaga makanan apa yang kita makan selama kesehatan kita tidak bisa baik.

Pengalaman Menjadi Vegetarian Saat Kemoterapi

Mama saya sebelum ke Singapura hanya makan sayur saja sama telur jadi tidak makan daging sama sekali. Kemudian setelah menjalani serangkaian test dan akhirnya kami putuskan kemoterapi (cerita detail ada pada posting sebelumnya) maka mama tidak bisa menjalani kemoterapi dengan vegetarian. Karena kemoterapi selain membunuh sel kanker juga membunuh sel yang lainnya juga, maka mama harus makan untuk menggantikan sel baik yang ikut terbunuh saat kemoterapi.

Selain itu mama biasanya makan daging tetapi tidak makan daging hanya sayur saja badan terasa lebih lemas dari biasanya. Jika lemas seperti ini kami kurang yakin bisa menjalani kemoterapi dengan lancar. Akhirnya kami berkonsultasi untuk masalah pola makan ini ke Dr Kong. Dari Dr Kong memberikan panduan makan untuk penderita kanker akan saya bahas dibawah ini. Kemudian dengan mempertimbangkan segala hal akhirnya mama menjalani pola makan sayur semuanya dan daging hanya daging babi atau daging kambing. Daging kambing mama tidak bisa makan karena terlalu panas dan lagi tensi bisa langsung naik. Jadi mama saya menjalankan pola makan vegetarian dan hanya makan daging babi saja sampai sekarang.

Sesama penderita kanker kami pernah bertemu dengan pasien lain mereka bercerita pola makan mereka. Ada yang mengatakan bahwa penderita kanker tidak boleh makan roti karena roti mengandung ragi yang bisa menyebabkan penyebaran sel kanker lebih cepat. Saya pernah membaca pada suatu artikel kesehatan di Inggris mereka meneliti bahwa dengan makan roti kita lebih bersiko terkena kanker. Bagaimana bisa? Padahal roti menjadi camilan yang hampir kita makan tiap hari. Peneliti membuktikan bahwa karbohidrat jika dipanggang/oven tidak bisa hancur dengan sempurna hal ini yang menyebabkan resiko kena kanker. Tetapi nutrisi yang didapatkan dari roti lebih besar daripada resiko tersebut jadi pada kondisi orang sehat resiko tersebut bisa dicegah oleh sistem imun tubuh kita. Dan kita hanya menerima nutrisinya saja saat makan roti. Untuk ini nanti saya akan membuat posting lebih detailnya.

Putih Telur Sumber Albumin Alami dan Murah

Sebelum menjalani kemoterapi menjadi kebiasaan Dr Kong untuk melakukan test darah dahulu. Yang pasti akan di cek adalah kondisi darah, liver, ginjal dan tumor marker. Biasanya saat orang kemo kondisi albumin, darah putih, darah merah atau trombosit turun. Dengan bantuan makanan kita bisa menaikan kondisi itu secara alami. Saya ingin membagikan tips bagaimana mama saya meningkatkan albumin dengan putih telur.

Putih telur memang bisa meningkatkan albumin secara alami dan lagi pastinya murah. Kalau melalui infus albumin harga tentu mahal dan lagi khusus trombosit tidak ada transfusi trombosit. Trombosit harus didapatkan dari makanan. Pengalaman mama yaitu albumin turun tidak bisa diatas normal karena mama jarang makan daging jadi albumin tidak bisa diatas normal. Kondisi seperti itu kami menemukan solusinya yaitu dengan PUTIH TELUR. Putih telur harus dimakan saat setelah bangun pagi, perut kosong makan PUTIH TELUR MENTAH. Sebelumnya mama makan putih telur yang sudah dimasak dan albumin tidak bisa naik dengan baik, akhirnya kami memakai cara dimakan mentah saat setelah bangun pagi dan hasilnya albumin bisa naik dengan baik. Tips ini bisa dipakai oleh para penderita kanker lain yang sedang menjalani kemo semoga bermanfaat.

IMG_0089 (kecil)

Pola Makan Yang Harus Diterapkan Saat Menjalani Kemoterapi – Dr Kong Hwai Loong

Kami menjalani kemoterapi di Klinik Dr Kong, kami diberikan buku panduan oleh Dr Kong bagaimana pola makan yang baik untuk penderita kanker atau yang sedang menjalani kemoterapi. Berikut ini ringkasan dari buku tersebut:

  • Hindari minuman beralkohol. Alkohol dapat merusak liver sehingga mengganggu kemoterapi
  • Masak makanan yang akan dimakan, jangan makan makanan mentah. Makanan mentah mengandung banyak bakteri sehingga bisa menyebabkan infeksi pada pasien kemoterapi
  • Hindari obat tradisional China. Obat tradisional bisa mengganggu tingkat efektifitas dari kemoterapi
  • Jangan memakan jeruk bali (Grapefruit). Jeruk Bali bisa mengganggu proses metabolisme dari liver. Terganggunya metabolisme liver dapat mengganggu proses kemoterapi.

Selain itu buku berjudul “Patient’s Guide to Chemotherapy” membahas mengenai kemoterapi dan effect samping yang harus diwaspadai oleh penderita kanker. Untuk download lengkapnya buku tersebut bisa langsung DOWNLOAD DI SINI.

Baca artikel lain mengenai Pendapat Dokter Tentang 4Life Transfer Factor

Membantu Penyembuhan Dengan 4Life Transfer Factor