Berapa Lama Efek Kemoterapi

Berapa Lama Efek Kemoterapi Terjadi? Bagaimana Cara Menghilangkannya dengan Cepat?

Pengobatan kanker yang paling ampuh dan sering dilakukan adalah kemoterapi. Oleh karena bisa menyembuhkan kanker sampai ke akar-akarnya. Hal ini terjadi karena obat yang digunakan untuk kemoterapi akan masuk ke dalam tubuh penderita kanker lewat pembuluh darah.

Meski banyak pasien kanker yang menjalani kemoterapi sembuh, tapi jika sudah terlalu parah maka tetap tidak bisa tertolong meski dengan menggunakan dosis obat kemoterapi yang tinggi.

Obat yang digunakan untuk kemoterapi terbuat dari bahan kimia sehingga bisa memberikan efek samping kepada pasien. Efek ini akan berlangsung sebentar jika hanya efek samping ringan sementara jika efek sampingnya tinggi bisa lebih lama untuk hilang.

Ketahui informasi mengenai berapa lama efek kemoterapi dengan pembahasan di bawah ini.

Efek Kemoterapi yang Mungkin Terjadi

Efek paling umum yang terjadi adalah kerontokan rambut, kelelahan, dan mual muntah. Buruknya efek ini tergantung dengan kondisi tubuh pasiennya. Jika dia memiliki ketahanan tubuh yang baik maka dapat menghalau kuatnya efek obat kemoterapi dan hanya mengalami efek samping jangka pendek.

Berbagai efek dari kemoterapi antara lain sebagai berikut.

Efek Bagi Orang Lain

Efek kemoterapi bukan hanya bisa terjadi pada pasien tapi juga orang lain seperti perawatnya atau keluarganya. Oleh karena obat kemoterapi akan berada di tubuh pasiennya dalam waktu 2 hari atau 48 jam.

Jadi berbagai cairan yang keluar dari tubuhnya seperti urine, feses, muntahan, keringat, ludah, sperma, dan lain sebagainya mengandung obat kemoterapi. Orang lain jangan sampai terkena cairan cairan tubuh tersebut walaupun sedikit.

Oleh karena mereka juga bisa ikut-ikutan terkena kanker. Jika akan merawat dan menemani pasien maka harus menggunakan benda-benda yang membuat steril seperti sarung tangan karet. Kemudian menyiapkan lap yang sekali pakai dan langsung dibuang supaya risiko terkena cairan yang masih mengandung obat kemoterapi itu tidak ada.

Anemia

Anemia bisa terjadi akibat jumlah sel darah merah berkurang, begitu juga dengan sel darah putihnya. Padahal sel darah merah tersebut memiliki tugas untuk membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh.

Dengan kehilangan sel darah merah maka jumlah oksigen yang didapatkan berkurang. Gejala-gejala yang menunjukkan seseorang mengalami anemia setelah kemoterapi antara lain:

  • Napas pendek.
  • Kehilangan energi.
  • Kelelahan.
  • Detak jantung menjadi tidak beraturan.

Jika sudah seperti ini maka Anda butuh mendapatkan transfusi darah supaya jumlahnya menjadi normal.

Rambut Rontok

Seperti yang sudah sedikit disinggung di atas, rambut rontok termasuk efek yang paling sering terjadi setelah kemoterapi. Jika bertanya mengenai berapa lama efek kemoterapi ini maka jawabannya adalah selama pasien kanker masih melakukan kemoterapi maka rambut rontok akan selalu terjadi.

Kerontokan rambut ini bukan hanya terjadi pada bagian kepala tapi rambut yang lain juga seperti pada kaki dan tangan.

Biasanya kerontokan rambut akan terjadi pada minggu pertama sampai ketiga sesudah melakukan kemoterapi yang pertama. Pada awalnya kerontokan mungkin akan sedikit dan tidak begitu terlihat tapi setelah minimal 1 bulan, kerontokan tersebut semakin jelas terlihat.

Tidak perlu khawatir jika mengalami hal ini karena apabila kemoterapi telah selesai rambut Anda akan tumbuh kembali. Namun untuk menunggu sampai hal itu tiba lumayan lama juga karena setiap pasien yang melakukan kemoterapi setidaknya akan melakukannya sampai 6 kali. Dari kemoterapi pertama sampai selanjutnya memiliki jangka waktu tertentu, yaitu sekitar beberapa minggu. Begitu juga dari kemoterapi kedua ke kemoterapi ketiga, begitu seterusnya.

Mual dan Muntah

Hal ini wajar terjadi karena obat kemoterapi yang sifatnya terlalu kuat sehingga mendorong keadaan di dalam tubuh menjadi kurang baik. Salah satu cara untuk mengurangi perasaan ini adalah dengan menggunakan pengobatan antiemetik yang dapat berupa.

  • Kapsul yang harus dimasukkan lewat bokong supaya bisa larut. Obat ini disebut dengan supositoria.
  • Obat injeksi.
  • Obat dalam bentuk kapsul dan tablet.

Jika sudah menggunakan obat ini biasanya efek ingin muntah dan mual bisa hilang.

Kelelahan

Hampir semua pasien akan mengalami kelelahan setelah melakukan kemoterapi. Oleh karena tubuh akan berupaya untuk menghalau kuatnya obat kemoterapi. Sel-sel di dalam tubuh dan beberapa organ akan bekerja dengan lebih keras sehingga menimbulkan kelelahan.

Namun efek samping ini bisa dihindari dengan melakukan kegiatan sehari-hari yang normal atau tetap olahraga.  Efek kelelahan ini mungkin juga hanya akan muncul sampai beberapa jam setelah kemoterapi.

Risiko Infeksi Meningkat

Imunitas tubuh dapat berkurang akibat kemoterapi. Hal ini masih berhubungan dengan turunnya jumlah sel darah merah dan sel darah putih. Dengan demikian Anda akan merasa sulit berpikir, kulit menjadi pucat, cepat lelah, merasa melayang, dan merasa kedinginan.

Kesuburan

Kesuburan termasuk efek samping jangka panjang jadi bisa berlangsung dalam waktu yang lama. Akibat kemoterapi, gairah seksual seseorang bisa menurun bahkan hilang.

Jika ditanya mengenai berapa lama efek kemoterapi ini maka jawabannya adalah hanya sampai pengobatan selesai juga.

Itulah dia beberapa efek samping kemoterapi yang mungkin bisa terjadi pada pasien. Berapa lama efek kemoterapi tersebut kebanyakan tergantung dengan berapa lamanya kemoterapi dilakukan.

Meskipun ada yang membutuhkan waktu lumayan lama juga, contohnya sampai bertahun-tahun. Contoh efek yang bisa berlangsung sangat lama, minimal berbulan-bulan adalah apabila obat kemoterapi membuat kesehatan organ reproduksi menurun seperti ginjal, paru-paru, dan jantung.

Efek samping juga bisa tertunda, tidak semuanya langsung terjadi. Contoh efek seperti ini adalah adanya kanker lanjutan. Oleh karena ada kemungkinan sel-sel kanker yang didiagnosa sudah hilang bisa muncul kembali. Contoh alasannya karena gaya hidup mantan penderita kanker kurang baik dan kurang bisa menjaga diri.

Mencegah Efek Samping Kemoterapi

Tentunya efek samping dari kemoterapi bisa dicegah dengan beberapa cara. Seperti pemberian perawatan atau pengobatan pendamping agar rasa sakit karena efek kemoterapi bisa berkurang.

Obat-obatan yang digunakan ini efeknya pada setiap orang bisa saja berbeda. Ada pasien yang meskipun sedang menjalani kemoterapi tetapi tetap bisa melakukan kegiatan normal, ada juga yang justru jadi mengalami keterbatasan aktivitas.

Untuk mengetahui apa yang harus dilakukan maka Anda bisa mengonsultasikannya kepada dokter Anda.

Sementara itu, untuk cara lainnya adalah sebagai berikut.

Mencegah Anemia

Apabila efek yang dirasakan adalah anemia maka cara untuk mencegahnya adalah mengonsumsi makanan yang mengandung banyak zat besi. Contoh makanan tersebut antara lain:

  • Kismis.
  • Aprikot.
  • Daging.
  • Kacang polong.
  • Roti yang kandungan buat besinya banyak.
  • Sayuran yang berwarna hijau gelap.

Mencegah Risiko Infeksi

Cara untuk mencegah terjadinya efek ini antara lain:

  • Kebersihan tubuh harus terjaga dengan baik, seperti mandi setiap hari. Kemudian, benda berupa kain yang sering dipakai seperti sprei, handuk, dan baju harus dicuci bersih dan rutin.
  • Sering membersihkan tangan menggunakan air panas dan sabun. Apalagi sebelum makan dan menyiapkan makanan, dan setelah dari toilet.

Mencegah Mual dan Muntah

Supaya Anda tidak merasa mual dan ingin muntah maka bisa mengonsumsi jahe. Cara untuk mengonsumsinya adalah sebagai berikut.

  • Siapkan 1 sdm jahe yang sudah dipotong lalu masukkan ke dalam air panas. Biarkan dulu 5 sampai 10 menit. Lalu tambahkan dengan perasan lemon dan madu sedikit saja agar rasanya lebih enak.
  • Hindari makanan yang mengandung minyak.

Jika langsung mengonsumsi jahe maka mual muntah bisa segera dihilangkan.

Demikianlah pembahasan mengenai berapa lama efek kemoterapi dan cara untuk menyembuhkannya. Semoga semua pembahasan ini bermanfaat!

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker Nasofaring

Makanan Penghilang Mual

Makanan Penghilang Mual Paling Tepat Setelah Kemoterapi

Kemoterapi adalah salah satu cara paling efektif untuk menyembuhkan penyakit kanker. Meski memang tidak semua pasien bisa disembuhkan karena sudah terlalu parahnya kanker yang diderita. Kemoterapi adalah serangkaian terapi dengan memberikan obat anti kanker yang akan bereaksi ke seluruh tubuh.

Oleh karena reaksinya sangat dahsyat, ketika selesai kemoterapi pasien bisa mengalami berbagai efek samping. Contohnya adalah mual, bahkan rasa ini bisa berkelanjutan. Untuk mengatasinya maka pasien harus menyantap makanan penghilang mual.

Ketika mual maka akan ada banyak nutrisi dan air yang terbuang dari tubuh Anda. Jika demikian, kondisi badan akan semakin lemas apalagi setelah melakukan kemoterapi. Tidak ada efek sampingnya saja kemoterapi bisa membuat penderitanya merasa lemas sekali.

Namun, rasa mual sebenarnya bisa diatasi dengan berbagai cara. Jika tetap tidak berhasil maka bisa langsung mengonsumsi makanan penghilang mual. Ingin tahu apa saja yang harus Anda lakukan untuk mengatasinya? Pembahasan di bawah ini akan menjadi jawabannya.

Mengatasi Rasa Mual Setelah Kemoterapi dengan Makanan

Mual dan muntah setelah kemoterapi termasuk yang paling sering terjadi. Bahkan menurut dokter hal tersebut wajar terjadi. Efek samping ini memang tidak berbahaya, hanya saja membuat ketahanan tubuh pasien menjadi lebih buruk. Dengan hadirnya rasa ini maka pasien juga bisa mengalami penurunan nafsu makan.

Ada beberapa orang yang risiko mengalaminya lebih besar seperti sering melakukan kemoterapi, kemoterapinya dilakukan menggunakan jalur intravena, dosis obatnya yang tinggi, berusia kurang dari 50 tahun, wanita, dan memang rentan mengalami muntah ketika ada dalam perjalanan atau sakit.

Akan tetapi, sebelum menyimpulkan apakah rasa mual ini berasal dari kemoterapi. Pasien harus memeriksakan diri dulu kepada dokter supaya bisa diketahui penyebab pastinya. Oleh karena mual juga bisa terjadi karena efek obat-obatan, efek pengobatan, atau kankernya.

Kemungkinan mual karena kankernya terjadi apabila sel kanker telah bermetastasis ke organ cerna dan otak. Apabila hal ini yang menjadi penyebabnya maka harus ada pengobatan lebih lanjut. Tidak bisa hanya dihilangkan oleh makanan penghilang rasa mual.

Namun jika memang karena efek kemoterapi perasaan mual ini tidak akan berlangsung lama, paling maksimal hanya sampai lima hari. Efek tersebut bisa hilang sendiri. Namun jika Anda tidak tahan dan ingin segera mengakhirinya maka bisa mengonsumsi makanan penghilang mual yang sudah terbukti ampuh.

Kadang mual juga terjadi beberapa hari setelah kemoterapi, supaya tidak terjadi bisa dicegah juga dengan makanan-makanan yang akan disebutkan di bawah ini.

Jahe

Selain bisa untuk menghilangkan mual ketika di perjalanan dan kehamilan, jahe juga bisa digunakan sebagai makanan penghilang mual setelah kemoterapi. Hal ini sudah diteliti lebih jauh oleh para peneliti di Bond University dalam penelitian yang disebut sebagai Supplemental Prophylactic Intervention for Chemotherapy-induced Nausea and Emisis (SPICE).

Dalam penelitian tersebut mereka mencoba memberikan jahe untuk dikonsumsi pasien sebanyak 4 kali sehari sebelum melakukan kemoterapi. Jahe yang diberikan ada dalam bentuk kapsul dan sudah diekstrak. Ternyata terbukti bahwa mereka jadi tidak mengalami mual sama sekali. Bisa juga dalam bentuk permen jahe.

Di dalam jahe terdapat banyak sekali senyawa aktif yang berkhasiat, sebut saja karbohidrat, gingerol, zingerone, 1-dehydrogingerodine, palmetic acid, shogaol, 6-gingesulfonic acid, oleic acid, linoleic acid, caproc acid,caprylic acid, lauric acid, myristic acid, dan masih banyak lagi.

Meski memang bermanfaat tapi Anda harus tetap mengonsultasikannya kepada dokter karena jika dikonsumsi sembarangan bisa menyebabkan efek samping yang buruk. Apalagi jika Anda juga mengonsumsi obat-obatan yang tidak bisa berdampingan dengan jahe.

Makanan Berwarna Putih

Anda bisa mengonsumsi berbagai makanan berwarna putih seperti roti panggang, nasi putih, kentang rebus, yogurt dan puding rendah lemak rasa plain, dan makanan-makanan yang punya serat rendah.

Makanan Ringan dari Tepung

Makanan ringan tidak selamanya tidak menyehatkan, justru ada juga yang bagus untuk dikonsumsi. Beberapa diantaranya roti panggang, kue cracker, dan pretzel. Makanan-makanan ini bisa membuat asam lambung pembuat mual terserap sehingga tidak akan merasakan enek dan ingin muntah.

Meski bisa dikonsumsi dan khasiatnya bagus tapi tetap harus pilih camilan yang tepat. Jangan yang terlalu banyak menggunakan pengawet, Anda bisa mencari camilan-camilan enak, tapi sehat dengan mudah.

Oatmeal

Makanan yang terbuat dari gandum ini termasuk makanan sehat yang juga bisa dikonsumsi untuk menghilangkan mual setelah atau mencegah mual sebelum kemoterapi. Namun jenis oatmeal yang baik adalah baunya tidak terlalu kuat dan bisa dengan mudah dicerna.

Anda bisa mengonsumsinya bukan hanya untuk sarapan tapi makan malam juga. Tentunya mudah mendapatkan produk oatmeal sehat yang dijual di pasaran.

Apel

Jika mencari buah yang kaya manfaat maka apel salah satu jawabannya. Apel memiliki kandungan serat yang tinggi sehingga bisa membersihkan zat-zat dalam tubuh yang membuat mual. Selain mengonsumsinya secara langsung Anda bisa meminum jus apel yang bisa “menenangkan” perut dan mencegah mual.

Jika tidak suka apel, pir juga punya khasiat yang sama.

Pisang

Buah kesukaan banyak orang ini menjadi salah satu makanan penghilang mual karena bisa merangsang lendir yang berada pada lapisan lambung.

Makanan yang Dingin

Tidak selamanya makanan atau minuman dingin kurang baik bagi kesehatan. Buktinya bisa menjadi salah satu makanan yang menghilangkan mual. Contohnya adalah es Italia, sherbet bahkan es batu. Perut Anda jadi bisa lebih baik.

Pengonsumsian makanan dingin ini bisa jadi alternatif jika Anda tidak kuat atau merasa mual juga ketika meminum segelas air. Mengonsumai makanan yang hangat atau panas justru bisa membuat rasa mual kian muncul, bahkan jika hanya menghirup baunya.

Itulah dia beberapa makanan dan beberapa minuman yang bisa dikonsumsi untuk menghilangkan mual. Meski menurut Anda ketika makan justru akan lebih terasa mualnya tapi justru Anda harus tetap makan. Paksakan diri Anda untuk menyantap makanan-makanan yang sudah disebutkan tadi.

Temulawak

Temulawak biasa dijadikan minuman kesehatan yang khasiatnya terbukti ampuh. Anda bisa meminum temulawak yang sudah dijadikan minuman ketika selesai kemoterapi. Namun pastikan tanyakan dulu pada dokter apa boleh dikonsumsi tepat setelah kemo atau justru baru bisa dikonsumsi nanti.

Selain dengan mengonsumsi makanan Anda bisa mengatasi mual dengan cara lainnya. antara lain:

  • Konsumsi obat mual sekitar setengah sampai satu jam sebelum makan. Cara ini efektif untuk menghilangkan rasa tidak enak tersebut.
  • Makan makanan yang Anda suka.
  • Meski harus makan, tapi jangan banyak-banyak. Makan sedikit saja tapi sering.
  • Setiap hari minum air putih sebanyak 6 sampai 8 gelas.
  • Jangan makan makanan yang sulit dicerna seperti makanan yang berlemak dan pedas.
  • Makan perlahan-lahan dan harus mengunyah makanan dengan baik.
  • Minum obat untuk mencegah mual sesuai dengan waktunya.

Jika muntah-muntah dan mual terus berlanjut maka harus segera hubungi dokter. Takutnya membuat Anda dehidrasi. Beberapa tanda-tanda mual yang merupakan gejala kurang baik adalah jantung berdenyut dengan cepat, air kemih jumlahnya sedikit dan berwarna gelap, pusing ketika berdiri, nyeri kepala, kulit terasa kering dan wajah kemerahan, mudah merasa tersinggung dan marah, dan lidah bagian pinggirnya berwarna kemerahan.

Demikianlah informasi mengenai makanan penghilang mual setelah kemoterapi.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker Nasofaring

Efek Kemoterapi Bagi Orang Lain

Efek Kemoterapi Bagi Orang Lain yang Perlu Diketahui, Bahaya Loh!

Jumlah penderita kanker di Indonesia dan seluruh dunia banyak sekali. Per tahunnya selalu ada peningkatan jumlah penderitanya. Kanker memang penyakit yang nakal sehingga susah untuk diobati terutama jika sudah parah. Kemoterapi adalah pengobatan paling ampuh dari semua jenis pengobatan kanker.

Kemoterapi dilakukan dengan memberikan cairan khusus yang bisa menyebar ke seluruh tubuh. Obat berupa cairan tersebut akan menghancurkan sel-sel kanker yang ada dalam tubuh. Dosis pemberiannya akan disesuaikan dengan tingkat keparahan kankernya. Jika dosisnya banyak maka bisa memberikan efek samping.

Selain bisa memberikan efek untuk pasien yang melakukan kemoterapi juga ada efek kemoterapi bagi orang lain. Banyak orang mungkin tidak tahu akan hal ini. Supaya Anda tahu apa efek kemoterapi yang bisa terjadi pada orang lain bisa membaca pembahasannya di bawah ini.

Mengenal Kemoterapi dan Efek Samping Bagi Pasien

Sebelum membahas tentang efek kemoterapi bagi orang lain, akan dibahas dulu mengenai kemoterapi dan efek samping untuk pasiennya sendiri.

Kemoterapi merupakan pengobatan kanker biasanya menggunakan obat berbentuk cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh penderita kanker. Obat tersebut akan mengalir ke seluruh aliran darah dan menghancurkan semua sel kanker yang ada di dalam tubuh. Semakin parah kankernya maka semakin besar pemberian dosis obatnya.

Berikut ini daftar cara pemberian obat kemoterapi kepada pasien kanker.

  • Suntik. Ini adalah kemoterapi yang paling umum dilakukan. Suntikan akan diberikan pada bagian tubuh yang memiliki lapisan lemak atau otot seperti perut, paha, dan lengan.
  • Oral. Pemberian obatnya dengan memberikan cairan, kapsul, atau pil sehingga langsung diminum.
  • Topikal. Obat kemoterapinya berbentuk krim, cara menggunakannya langsung dioleskan pada kulit.
  • Intraarteri (IA). Obat kemoterapi akan dimasukkan langsung ke dalam bagian arteri. Jika di dalam tubuh ada sel kanker, arteri juga akan menyalurkan darah menuju kanker.
  • Intraperitoneal (IP). Dilakukan lewat cara operasi tapi bisa juga menggunakan selang khusus yang akan dimasukkan ke dalam rongga perut di mana lambung, hati, dan usus berada.
  • Intravena (IV). Obat langsung diberikan ke bagian pembuluh darah vena.

Cara pemberian obat ini disesuaikan dengan jenis kanker yang diderita.

Semua pengobatan ini bisa saja memberikan efek samping bagi penderitanya, seperti:

  • Nafsu makan kehilangan.
  • Nyeri tubuh.
  • Kerontokan rambut.
  • Muntah dan mual.
  • Pendarahan seperti gusi berdarah, mudah memar atau mimisan.
  • Sesak napas.
  • Mengalami kelainan detak jantung.
  • Kulit jadi kering.
  • Sulit tidur.
  • Tubuh sering infeksi.
  • Sariawan.
  • Kesuburan wanita terganggu.
  • Gairah seksual mengalami penurunan.
  • Diare dan konstipasi.

Efek samping bisa terjadi jika kondisi tubuh pasien kurang kuat menerima efek obat kemoterapi yang diberikan.

Efek Kemoterapi untuk Orang Lain

Untuk efek kemoterapi bagi pasien sudah banyak yang tahu, tapi bagaimana dengan efek kemoterapi untuk orang lain? Mungkin banyak yang belum tahu bahwa orang lain tidak boleh dekat-dekat dengan pasien yang sudah menjalani kemoterapi dalam waktu beberapa jam. Oleh karena bisa terkena efeknya dan mungkin membahayakan orang sehat.

Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Obat kemoterapi yang sudah masuk ke dalam tubuh penderita akan membuat semua cairan mereka mengandung obat kemo. Butuh waktu 2 sampai 7 hari untuk semua obat kemonya hilang dari tubuh. Anda jangan sampai terkena berbagai cairan yang keluar dari pasien, seperti:

  • Tinja.
  • Keringat.
  • Lendir atau cairan dari vafina.
  • Cairan sperma.
  • Air ludah.
  • Muntahan.
  • Air kencing.
  • Darah.

Apabila terkena orang sehat, walaupun sedikit tapi kandungan obat kemonya akan masuk ke tubuh orang lain yang menyentuhnya.

Menurut para dokter, kemoterapi juga justru bisa memberikan efek yang dapat menimbulkan penyakit kanker kepada orang lain. Jika terkena kontak dengan bahan kemoterapi. Bahkan bisa menyebabkan kanker lainnya kepada pasien. Kejadian paling sering adalah mengalami kanker darah atau leukimia.

Penderita penyakit kanker yang melakukan kemoterapi untuk kanker payudara juga harus berhati-hati selama 48 jam. Jika tidak maka risiko terkena kanker darah jadi lebih besar, begitu juga dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Supaya aman maka Anda harus lebih hati-hati dalam melakukan sesuatu, tapi bukan berarti Anda harus memisahkan diri atau menjauhi pasien. Jika akan menggunakan toilet yang sama maka semuanya harus sudah dibersihkan dan hilang seperti feses dan urinnya.

Jika pasien laki-laki akan buang air kecil juga harus berusaha menjaga urinnya supaya tidak muncrat ke bagian toilet yang bisa mengenai kulit orang lain. Lalu selalu cuci tangan dengan sabun dan air hangat ketika sudah menggunakan toilet.

Cara Menghindari Efek Kemoterapi untuk Orang Lain

Selain yang sudah disebutkan di atas, cara lain yang harus dilakukan untuk melindungi diri dari efek kemoterapi bagi orang lain ada banyak. Lihat infonya di bawah ini.

Jika Ada Tumpahan Cairan Tubuh Pasien Kemoterapi

Jika ada cairan dari pasien kemoterapi keluar dan mengenai berbagai benda atau tempat maka cara untuk membersihkannya seperti di bawah ini.

  • Segera bersihkan tumpahan cairan dari pasien kemoterapi menggunakan kain pembersih yang digunakan sekali pakai lalu buang, dan sarung tangan dari karet.
  • Lap yang sudah digunakan langsung buang dan masukkan dulu ke dalam kantong kresek. Sesudah itu ikat sampai benar-benar rapat. Masukkan kembali kresek tersebut ke kresek satu lagi kemudian baru bisa dibuang.
  • Jika cairannya tercecer di lantai atau meja bersihkan saja dengan sarung tangan karet. Kemudian bersihkan sarung tersebut menggunakan air deterjen.
  • Jika ada baju, sarung bantal, sprei, handuk, dan berbagai bahan dari kain yang terkena cairan maka cuci secara terpisah. Lalu cuci dalam waktu yang sangat lama dan keringkan di luar rumah.

Jika Melakukan Hubungan Sex

Jika Anda memang ingin melakukan hubungan suami istri meski pasangan Anda baru dikemoterapi maka bisa saja dilakukan. Namun harus menggunakan kondom supaya tidak terkena cairan yang keluar dari pasangan.

Namun, jika ingin lebih aman maka jangan dulu melakukan hal ini. Tunggu setidaknya sampai ingin lebih aman maka jangan dulu melakukan hal ini. Tunggu setidaknya sampai 7 hari setelah kemoterapi.

Jika Pasien Merasa Mual dan Muntah

  • Anda harus menyiapkan mangkok atau kantong plastik yang selalu tersedia untuk menadah muntahannya. Jika menggunakan mangkok plastik maka meski sudah dicuci jangan gunakan lagi. Oleh karena biasanya kotoran akan sulit dihilangkan dari benda dari plastik.
  • Buang mangkok plastiknya jika tidak dibutuhkan lagi untuk menadah muntahan karena kemoterapinya sudah selesai dilakukan.

Jika Anda ingin membantu menangani obat kemo dari pasien kanker maka harus selalu menggunakan sarung tangan agar tidak terkena cairannya. Kemudian ketika akan melepaskannya jangan langsung menggunakan tangan tanpa pelindung. Jika sarung tangan ini akan dipakai lagi maka simpan dalam kantong plastik dan pisahkan dari benda lainnya.

Selalu cuci tangan dengan sabun jika sudah merawat pasien yang selesai melakukan kemoterapi.

Selain keluarga, orang lain yang bisa terkena efek kemoterapi adalah perawat yang membantu proses kemoterapi. Jika mereka tidak pakai sarung tangan ketika menangani pasien maka 15 sampai 20 tahun kemudian bisa mengalami kanker. Jadi semua orang harus hati-hati!

Demikianlah pembahasan mengenai efek kemoterapi bagi orang lain yang harus diketahui. Jadi tidak hanya pasien yang harus diberikan pengertian ketika akan melakukan kemoterapi, tapi juga keluarga yang akan merawat dan memberi dukungan kepada pasien setelah ada di rumah.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker Nasofaring

Membantu Penyembuhan Dengan 4Life Transfer Factor