Donor Sumsum Tulang Belakang

Begini Mekanisme Donor Sumsum Tulang Belakang Pasien Kanker

Sebagian orang mungkin masih sangat asing dengan istilah donor sumsum tulang belakang atau biasa disebut dengan istilah transplantasi sumsum tulang belakang. Wajar saja, mengingat istilah transplantasi biasanya lebih populer digunakan dalam menyebut transplantasi ginjal atau transplantasi jantung.

Jadi istilah donor sumsum tulang belakang atau transplantasi sumsum tulang merupakan salah satu metode pengobatan pasien kanker darah atau leukimia. Bagi pasien leukimia, donor sumsum tulang belakang atau bisa juga diartikan sebagai cangkok sumsum tulang belakang ini merupakan upaya medis dengan tujuan memberikan harapan hidup yang lebih lama bagi mereka.

Kondisi yang Menyebabkan Perlu Donor Sumsum Tulang

Salah satu alasan utama mengapa seseorang perlu melakukan donor sumsum tulang belakang yaitu karena kondisi sumsum tulang dalam tubuh pasien rusak dan tidak lagi mampu menjalankan tugasnya sebagai penghasil sel darah sehat. Biasanya transplantasi sumsum tulang belakang digunakan untuk mengobati beberapa penyakit seperti gagal sumsum tulang belakang (Anemia Aplastik), kanker darah (Leukimia), kanker yang mempengaruhi sel darah putih (Limfoma) dan Myeloma.

Alasan Kuat Menapa Perlu Transplantasi

Dalam hal ini, transplantasi sumsum tulang belakang dilakukan untuk menggantikan sel darah yang telah rusak karena perawatan kanker yang intensif. Adapun gangguan kondisi yang menyebabkan seseorang perlu melakukan transplantasi yaitu saat seseorang telah mengalami gangguan dalam sistem kekebalan tubuhnya, gangguan metabolisme, penyakit SCID (Severe combined immunodeficiency), dan kondisi saat seseorang mengalami sindrom hurler atau kondisi yang sangat memerlukan transplantasi sumsum tulang belakang.

Proses Transplantasi Sumsum Tulang Belakang

Sumsum tulang merupakan materi lunak dalam tulang yang mengandung sel induk hematopoietik atau sel-sel yang belum matang. Secara normal, nantinya sel induk hematopoietik inilah yang akan berkembang dan menghasilkan tiga jenis darah yaitu sel darah putih, sel darah merah, dan juga trombosit.

Transplantasi sumsum tulang belakang sendiri merupakan metode pengobatan dengan prosedur bedah yang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang mengalami kerusakan dengan sel induk sumsum tulang belakang yang sehat. Proses transplantasi sumsum tulang belakang antara lain yaitu sebagai berikut.

1. Proses Harvesting atau Panen

Proses pertama yang akan dilakukan sebelum melakukan transplantasi yaitu proses pengambilan sample sumsum tulang dari seseorang yang nantinya akan menjadi pendonor bagi pasien. Seperti namanya ‘panen’ dalam hal ini akan dilakukan pengambilan sumsum tulang pendonor dengan cara memasukkan jarum pada kulit pendonor hingga ke dalam tulang. Umumnya, seluruh proses harvesting membutuhkan waktu sekitar satu jam dan biasanya donor akan diberikan anestesi.

2. Proses Pemberian Donor Sumsum Tulang Belakang

Proses ini biasanya akan dilakukan setelah pasien menjalani kemoterapi intensif atau terapi radiasi. Dalam proses ini, pasien akan diberikan infus sumsum tulang belakang dari pendonor melaui jalur intravena. Proses ini biasanya diikuti dengan proses engraftment yaitu proses dimana sel-sel induk baru akan menemukan jalan menuju sumsum tulang belakang dan kembali menghasilkan sel darah. Pada proses ini, jika engraftment berjalan lambat, pasien akan diberikan obat yang dapat merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah.

Jenis Leukimia Apa yang Perlu Donor Sumsum Tulang Belakang?

Sejauh ini dibandingkan risikonya, metode pengobatan dengan cara transplantasi memang memiliki lebih memiliki manfaat yang besar bagi pasien. Meskipun biasanya, proses transplantasi menjadi metode pengobatan terakhir setelah perawatan lain tidak lagi bisa membantu.

Adapun jenis leukimia yang biasanya perlu melakukan donor sumsum tulang belakang, yaitu:

  1. Leukimia darah atau leukimia
  2. Leukimia yang mempengaruhi sel darah putih atau Limfoma
  3. Leukimia myeloid atau kanker yang mempengaruhi sel plasma

Siapa yang Boleh Menjadi Pendonor? Apa Saja Syaratnya?

Hal terpenting sebelum melakukan proses transplantasi sumsum tulang belakang, yaitu mencari pendonor sumsum tulang belakang itu sendiri. Hal tersebut disebabkan karena pasien harus mencari sumsum tulang yang cocok. Umumnya, sumsum tulang tersebut akan mudah didapatkan dari keluarga seperti orang tua, saudara kandung, atau kerabat. Meskipun begitu, tidak jarang anda juga bisa menemukan kecocokan sumsum tulang dari orang lain yang tidak memiliki hubungan darah. Namun sebelum menjadi pendonor, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Adapun syarat tersebut, yakni:

  1. Setidaknya pendonor memiliki usia 18-44 tahun. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengurangi risiko komplikasi bagi pendonor.
  2. Pendonor memiliki berat badan maksimal 40.
  3. Pendonor tidak mengidap penyakit autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik, fibronyalgia, psoriasis parah, dan penyakit autoimun lainnya.
  4. Pendonor tidak memiliki kelainan darah seperti hemofilia, anemia aplastik, memiliki gangguan pembekuan darah seperti penyakit Von Willebard.
  5. Tidak memiliki penyakit menular seperti HIV/AIDS, hepatitis B atau C kronis.
  6. Tidak menderita tumberkulosis aktif dalam dua tahun belakangan.

Efek Samping Penerima Donor Sumsum Tulang Belakang

Akan selalu ada konsekuensi dari semua proses yang dijalani. Tentunya tidak hanya bagi pendonot, tetapi juga bagi penerima donor itu sendiri. Biasanya, efek samping metode pengobatan ini jauh lebih parah dibandingkan dengan kemoterapi. Adapun beberapa efek samping bagi penerima donor, yaitu:

  1. Pasien akan mengalami risiko pendarahan dan infeksi.
  2. Dalam jangka pendek, transplantasi akan memberikan efek mual dan muntah, kelelahan, serta hilangnya nafsu makan.
  3. Dalam jangka panjang, transplantasi akan memeberikan efek ketidaksuburan bagi pasien, katarak, atau pengembangan kanker sekunder.
  4. Karena sel darah putih pendonor menganggap tubuh penerima sebagai benda asing, akibatnya penerima akan mengalami penyerangan yang akhirnya memberikan efek seperti diare, gagal hati, dan ruam pada kulit.
  5. Mengalami penurunan jumlah trombosit.

Apakah dengan Donor Leukimia Bisa Sembuh 100%?

Pasien leukimia umumnya akan dibagi menjadi dua macam, yakni leukimia akut dan leukimia kronis. Jumlah sel darah putih pada pasien leukimia kronis terbilang lebih banyak dibandingkan leukimia akut. Hal ini pula yang biasanya membuat pasien leukimia akut mempunyai harapan hidup yang lebih lama dibandingkan usia penderita leukimia kronis.

Beragam upaya medis seperti kemoterapi hingga transplantasi dilakukan untuk menaikkan angka harapan hidup pasien. Dengan biaya yang terbilang tinggi pun, pasien leukimia yang mendapatkan donor untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang juga tidak bisa mendapatkan kesembuhan 100%.

Efek Samping Pendonor Sumsum Tulang Belakang

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain memberikan efek samping bagi penerima, proses transplantasi juga akan memberikan efek samping bagi si pemberi atau pendonor. Meskipun jika dibandingkan dengan efek yang diterima oleh penerima sumsum tulang belakang. Efek samping yang dirasakan pendonor jauh lebih ringan. Adapun efek samping bagi pendonor tersebut antara lain, yaitu:

  1. Akan merasakan kaku di daerah sekitar lokasi pengambilan sumsum tulang belakang selama beberapa hari.
  2. Membutuhkan waktu pemulihan beberapa hari, sebagai proses pemulihan serta penggantian sumsum tulang yang telah disumbangkan pada pasien.
  3. Masa pemulihan bisa membutuhkan waktu 3-4 minggu.

Berapa Estimasi Biaya Transplantasi Sumsul Tulang Belakang?

Untuk biaya proses transplantasi sumsum tulang belakang sendiri bervariasi. Tentunya semakin intensif pengobatan dilakukan, biaya yang anda keluarkan juga samakin tinggi. Umumnya, biaya transplantasi sumsum tulang belakang tergantung dari beberapa poin, seperti:

  1. Tergantung pada rumah sakit tempat anda melakukan transplantasi sumsum tulang belakang.
  2. Tergantung jenis prosedur transplantasi sumsum tulang belakang seperti, prosedur pengambilan sel induk dari pasien sendiri (autologus) dan prosedur pengambilan sel induk dari pendonor (allogeneic).
  3. Tergantung pada prosedur pemeriksaan pra-transplantasi dan jenis tes yang dijalani pasien.
  4. Tergantung pada intensitas kemoterapi dan radiasi yang biasanya perlu dilakukan sebelumnya.
  5. Tergantung pada jenis pemeriksaan pasien dan perawatan setelah menjalani transplantasi.
  6. Tergantung berapa lama perawatan yang harus pasien jalani di rumah sakit.

Baca artikel lain mengenai Madu dan Jahe untuk Kanker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.