Category Archives: Pengobatan Medis

Efek Samping Radioterapi Kanker Nasofaring

Efek Samping Radioterapi Kanker Nasofaring Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Semua jenis kanker sangat berbahaya karena jika sudah bersarang di tubuh akan menyebar dan mempengaruhi seluruh organ tubuh. Termasuk dengan kanker nasofaring.

Kanker nasofaring disebut juga kanker hidung oleh karena terjadi pada bagian hidung bagian dalam sampai dengan tenggorokan. Penanganan kanker ini harus hati-hati karena terjadi pada bagian kepala dan dekat dengan berbagai indra penting.

Untuk menyembuhkan kanker ini sama saja dengan menyembuhkan kanker jenis lain. Bisa dengan operasi kemoterapi dan radioterapi. Namun kebanyakan menggunakan pengobatan radioterapi. Meski termasuk cara yang paling ampuh untuk menghilangkan kanker tapi ada efek samping radioterapi kanker nasofaring.

Ketahui lebih lanjut akan efek sampingnya tersebut pada pembahasan di bawah ini.

Gejala Kanker Nasofaring

Gejala dari kanker nasofaring bisa dibilang mirip dengan flu karena biasanya penderita akan kesulitan bernapas. Hal itu terjadi karena di daerah nasofaring terdapat penyempitan. Namun bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan gangguan berbicara juga, misalnya suara jadi sengau.

Beberapa gejala lain yang bisa saja mengindikasikan penyakit ini, antara lain sakit tenggorokan, ada benjolan pada bagian leher dan hidung, mimisan dari hidung, kesulitan bernafas sehingga suara jadi serak, terjadi infeksi telinga, sakit kepala, telinga berdenging, wajah mati rasa, dan pandangan kabur.

Beberapa penyebab dari kanker ini antara lain:

  • Sering makan sayuran yang diawetkan.
  • Sering makan ikan asin.
  • Mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan precursor nitro atau nitrosamine.
  • Terjangkit virus Epstein-Barr.
  • Antibodi kurang bagus.
  • Terlalu sering menghirup asap seperti pada obat nyamuk bakar, kayu bakar, kemenyan, dupa, dan asap rokok
  • Melakukan pekerjaan yang menghasilkan serbuk kimia seperti serbuk kayu atau peleburan besi.

Radioterapi untuk Kanker Nasofaring

Radioterapi adalah salah satu cara untuk mengobati kanker nasofaring yang ampuh. Namun sama seperti kemoterapi, akan mungkin juga terjadi efek samping radioterapi kanker nasofaring.

Radioterapi atau terapi radiasi akan dilakukan dengan memakai radiasi tingkat tinggi. Contohnya sinar elektron proton, gama, dan sinar X. Tujuannya adalah untuk mengecilkan ukuran tumor juga membunuh sel kanker.  Hampir setengah dari penderita penyakit ini perlu melakukan radioterapi.

Radioterapi sebenarnya juga bisa dilakukan untuk mengobati penyakit lain seperti kelainan darah, penyakit tiroid, dan tumor. Sementara itu, untuk penderita kanker yang sudah sangat parah, radioterapi hanya berguna untuk mengurangi rasa sakit dan gejala si penderita, bukan untuk menyembuhkan.

Ketika melakukan radioterapi dan menggunakan dosis yang sangat tinggi justru bisa ikut mematikan sel-sel normal. Kemudian akan merusak DNA yang dimiliki sel kanker supaya berhenti tumbuh.

Itulah yang membuat terjadinya efek samping radioterapi kanker nasofaring.

Supaya menghindari efek sampingnya maka biasanya dokter akan berusaha hanya memberikan dosis tinggi pada bagian tubuh yang memang terkena kanker. Sedangkan bagian tubuh lain diberi dosis yang rendah sekali. Jika memang sel kanker terlalu ganas maka penggunaan dosis sinar yang tinggi bisa memperparah efek samping.

Ada dua jenis terapi sinar yang akan diberikan, yaitu radioterapi internal dan eksternal. Radioterapi internal akan dilakukan dengan memberikan radiasi lewat tubuh bagian dalam. Akan dimasukkan sebuah zat yang mengandung radiasi. Caranya dengan menyuntikkannya melalui pembuluh darah. Ada juga yang harus diminum supaya bisa langsung sampai ke tempat dimana sel kanker berada.

Sementara itu, radioterapi eksternal dilakukan dengan memberikan sinar radiasi lewat sinar X atau dengan mesin. Tentu saja dilakukannya di luar tubuh. Tempat melakukan radioterapi eksternal ini berbentuk seperti tabung yang besar.

Efek Samping Radioterapi untuk Kanker

Efek samping dari terapi ini terhadap kanker nasofaring terbagi menjadi efek jangka pendek dan jangka panjang.

Efek Jangka Pendek

Untuk efek jangka pendek biasanya hanya terjadi ketika proses radioterapi selesai dilakukan. Selanjutnya dalam beberapa jam atau beberapa hari efek tersebut bisa hilang dengan sendirinya.

Beberapa efek jangka pendek yang terjadi antara lain menghitamnya kulit pada bagian tubuh yang terkena sinar radiasi, merasa mual dan muntah, mengalami kerontokan pada bagian kepala, leher dan muka. Kemudian memberikan gangguan menstruasi, kelelahan, kualitas dan jumlah sperma menjadi berkurang lalu terjadi masalah kulit.

Terakhir, pasien bisa mengalami penurunan nafsu makan. Jika begini maka sistem pencernaan akan bermasalah. Agar tidak terjadi hal lain yang buruk maka mereka harus menjaga kesehatan dan gizinya dengan asupan makanan yang baik.

Efek Jangka Panjang

Kemudian untuk efek jangka panjangnya ada lumayan banyak, hal ini tergantung kepada mana bagian tubuh yang terkena radiasi. Apabila radiasi diberikan pada bagian leher dan dada seperti untuk penyembuhan kanker nasofaring ini maka bisa memberikan risiko terjadinya penyempitan pada bagian tenggorokan dan saluran napas. Jika sudah demikian maka akan kesulitan dalam menelan.

Apabila pada bagian perut maka akan membuat pasien sering buang air kecil karena kandung kemihnya menjadi tidak elastis. Sementara itu, jika dilakukan di payudara maka membuatnya bisa lebih kencang dan keras, jika pada bagian pinggul akan membuat vagina kurang elastis dan lebih sempit, dan masih banyak efek lainnya.

Kemudian ada efek samping lanjutan dan akut. Efek samping lanjutan bisa berupa adanya pendarahan, mulut kering, dan pengerutan jaringan. Sementara efek samping akut seperti jaringan nekrotik atau mati, lalu pada bagian kulit muncul gelembung dan kemerahan.

Meski efek sampingnya kelihatan banyak tapi sebenarnya bisa saja tidak akan terjadi. Justru radioterapi ini akan mempercepat proses penyembuhan dan pengobatan kanker.

Mencegah Efek Samping

Efek samping dari radioterapi untuk pengobatan kanker nasofaring bisa dicegah dengan berbagai cara, antara lain:

  • Jangan Minum Dan Makan Yang Terlalu Dingin Dan Panas

Pasien yang mendapatkan penyinaran pada bagian leher dan kepala harus mengikuti pantangan ini. Jika tidak maka selaput-selaput yang berada di rongga mulut bisa terpengaruhi. Efek tersebut bisa menyebabkan luka karena efek radiasi.

  • Jaga Kesehatan Mulut Dan Gigi

Apabila kesehatan mulut dan gigi dari pasien yang akan menjalani radioterapi tidak dijaga maka bisa membuat adanya infeksi lanjutan. Mulut adalah tempat yang paling banyak temannya jadi infeksi bisa muncul.

Akan lebih baik jika pasien yang akan menjalani terapi ini memeriksakan kesehatan mulut dari giginya ke dokter gigi.

  • Konsumsi Gizi Yang Cukup

Apabila nutrisi dan gizi mencukupi maka ketika melakukan radioterapi pasien akan merasa kuat. Nanti setelah melakukan terapi pasien bisa saja kehilangan selera makan akibat dari kondisi kesehatan mental yang sudah menurun.

Untuk mencegah hal ini terjadi maka pastikan semua kebutuhan makanan tercukupi dengan baik dari segi jadwal, jenis, dan jumlahnya.

  • Hindari Sinar Matahari Secara Langsung

Bagian kulit yang terkena radiasi kebanyakan menjadi sensitif akan sinar matahari. Jadi jika akan keluar rumah lebih baik gunakan jaket atau payung. Jika dokter mengijinkan juga bisa menggunakan sunblock. Namun sunblock yang digunakan harus aman digunakan pada bagian wajah.

Meski nantinya efek samping ini akan hilang tapi ada juga pasien yang justru lebih sensitif akan sinar matahari.

Demikianlah pembahasan mengenai efek samping radioterapi kanker nasofaring yang mungkin terjadi. Jika Anda akan melakukan radioterapi maka harus mencari berbagai informasi mengenai radioterapi. Jadi bisa mempersiapkan diri jika ada sesuatu buruk yang mungkin terjadi.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Ubi Ungu

Perawatan Paliatif

Perawatan Paliatif untuk Pasien Kanker dan Penjelasannya

Kanker adalah salah satu pembunuh paling kejam yang mengintai masyarakat modern, masuk ke dalam tubuh melalui hal-hal yang menyenangkan dan rasanya enak, seperti begadang, berhadapan dengan radiasi monitor atau ponsel berlebihan, makan junk food terus menerus, menolak olahraga, atau bahkan karena tidak makan makanan sehat sama sekali.

Menurut dr. Monika Joy Reverger, SpKJ , saat menghadiri peringatan Hari Kanker Dunia di MRCCC Siloam Hospital, telah menjelaskan sebuah perawatan kanker yang banyak dikenal sebagai perawatan paliatif. Sebagaimana yang diketahui masyarakat, yang disebut perawatan paliatif adalah salah satu jenis perawatan yang direkomedasikan untuk penderita kanker. Bagaimana caranya supaya para penderita kanker bisa hidup dengan baik dan bahagia selama sisa hidup yang tersisa. Bahkan di Amerika Serikat sana, pasien-pasien paliatif adalah para pasien yang memiliki harapan hidup yang jauh lebih besar, sehingga perawatan paliatif ini tidak hanya sekadar merawat pasien kanker yang sedang menghadapi kematian, namun juga meningkatkan semangat hidup dan kualitas hidup para pasien kanker supaya bisa hidup dengan lebih lama.

Sistem Kerja dari Perawatan Paliatif

Lantas, bagaimana sebenarnya sistem kerja dari perawatan paliatif ini? Yang dimaksud dengan perawatan paliatif ini adalah sebuah perawatan kesehatan terpadu yang sangat aktif dan menyeluruh, juga dilakukan khusus dengan melakukan pendekatan multidisiplin, ada integrasi dengan tenaga medis seperti dokter dan dokter spesialis, juga bersama perawat, para terapis, juga para petugas sosial medis. Bukan hanya itu, namun juga para rohaniawan,  psikolog, relawan dan bahkan para profesional lain yang diperlukan dalam perawatan khusus yang satu ini.

Sebelum menjalani perawatan paliatif, para pasien akan mengalami beberapa tahapan seperti yang akan dijabarkan di bawah ini. Fase-fase psikologis ini sangat wajar, dan pasti dialami oleh para pasien yang didiagnosis kanker. Secara umum, berikut adalah fase psikologis yang akan dirasakan.

  1. Saat pertama kali divonis kanker, para pasien akan menyangkal dan tidak terima. Mereka merasa bahwa tubuh mereka tidak menjadi sarang kanker dan berusaha untuk mencari dokter lainnya untuk mendapatkan penjelasan lain mengenai kondisi kesehatannya, dan dinyatakan bebas dari penyakit mematikan tersebut.
  2. Marah-marah. Setelah melewati tahap menyangkal, dan semua pendapat dokter menyatakan bahwa ia mengidap kanker, maka muncul fase marah. Pasien akan marah pada dirinya sendiri, merasa dirinya sudah tak berguna dan menyalahkan dirinya sendiri sampai terjadi penyakit ini.
  3. Setelah berhasil meredam kemarahan pada dirinya sendiri, lantas pasien akan mencoba melakukan penawaran pada Tuhan. Ia akan berdoa supaya Tuhan tiba-tiba menyembuhkan kankernya dengan cepat dan jangan sampai ia harus kehilangan nyawa karenanya.
  4. Stres dan tertekan. Pada saat fase tawar menawar tak memberikan efek baik apapun pada kenyataan yang dihadapi, akhirnya pasien mulai tertekan dan mengalami depresi, karena merasa tidak ada lagi yang mampu dilakukan untuk mengenyahkan kanker tersebut dari dalam tubuh.
  5. Inilah fase psikologis terakhir yang dialami oleh para penderita kanker, pada fase ini biasanya mereka menjadi lebih bijak dan sabar, selain itu juga bisa menerima kondisi mereka dengan hati yang lebih lega walaupun terasa berat. Pikiran pun jadi lebih positif, pengobatan mulai bisa dilakukan dan semangat sembuh pun tinggi.

Para pasien degan penyakit kronis yang stadiumnya sudah lanjut harus mengikuti perawatan paliatif, tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari dari seorang pasien. Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dan peningkatan kualitas tersebut dilakukan pertama-tama dengan melakukan pendekatan psikologis, sisi psikososial, juga mental juga spiritual dari pasien itu sendiri. Hal itu kelak membuat pasien merasa lebih tenang, nyaman dan bahagia pada sesi-sesi panjang pengobatan mereka.

Penyakit Yang Membutuhkan Perawatan Paliatif

Kementerian Kesehatan di Indonesia telah memberikan ketentuan khusus dimana beberapa jenis penyakit serius diwajibkan untuk menerapkan perawatan paliatif, hanya saja dalam praktiknya masih banyak hal yang menghambat, sehingga para pasien tidak bisa mendapatkan perawatan paliatif yang maksimal untuk kelangsungan hidup mereka. Perawatan paliatif memang identik dengan pasien kanker kronis stadium akhir, namun walau demikian perawatan paliatif juga biasa dilakukan untuk penyakit yang butuh perawatan khusus, misalnya saja:

  • Penyakit usia senja. Misalnya demensia, alzheimer, penyakit-penyakit kardiovaskuler (juga termasuk serangan jantung), paru obstrutif kronis, sirosis, TBC, parkinson, Multiple Sclerosis, gagal ginjal dan juga HIV/AIDS. Bahkan diabetes.
  • Penyakit anak-anak. Beberapa penyakit yang dialami oleh anak misalnya pnyakit gagal jantung dan pembuluh darah, kanker, sirosis, sistem imunitas yang terganggu, meningitis, penyakit ginjal, HIV AIDS dan juga masalah kesehatan pada sistem sarafnya.

Tidak ada orang yang ingin mendapati dirinya memiliki sisa hidup yang tak lama lagi, apalagi jika harus dibarengi dengan penderitaan tak berkesudahan karena penyakit serius seperti kanker. Kenyataan tubuh mengidap kanker tentunya menyebabkan banyak hal yang berubah, dan dampaknya tidak hanya pada kondisi kesehatan saja namun juga pada semua aspek kehidupannya. Itulah kenapa perawatan paliatif itu ada, gunanya untuk mengantisipasi dampak buruk lain yang bisa timbul karena penyakit tersebut.

Gangguan Yang Sering Terjadi Pada Penderita

Adanya gangguan fisik yang paling jelas seperti susah tidur, terasa nyeri, napas tersengal dan pendek-pendek, nafsu makan turun drastis dan juga ada sakit pada perut menjadi hal yang paling sering dirasakan oleh penderita kanker kronis, selain sakit dari lokasi kanker itu sendiri. Yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesakitan-kesakitan tersebut adalah dengan melakukan konseling gizi sesegera mungkin, melakukan terapi fisik, juga mempelajari teknik mengambil napas dalam-dalam supaya tubuh lebih rileks dan pikiran terasa lebih baik.

Selain gangguan fisik, ada lagi gangguan emosi dan sosial yang akan terjadi. Si pasien tentu akan merasa sangat marah, takut, sedih dan semua emosi tersebut tidak bisa dikontrol hingga menjadi depresi. Tak hanya pasien, keluarga pasien juga akan ikut merasakan hal yang sama. Di dalam perawatan paliatif, semua gangguan tersebut bisa dikurangi dengan cara melakukan konseling secara teratur, melakukan diskusi antar dan sesama pasien dengan riwayat kesehatan yang sama juga mengadakan pertemuan keluarga untuk bersama mengatasi depresi atau tekanan mental ini.

Selain gangguan fisik dan mental, sudah tentu akan muncul gangguan pada finansial. Saat sakit tak hanya menyiapkan fisik dan mental, namun juga finansial, sebab berobat dengan kualitas terbaik tentu membutuhkan sejumlah uang yang tidak sedikit nominalnya. Apalagi penyakit seperti kanker membutuhkan perawatan yang tidak murah, dan dalam perawatan paliatif harus dijelaskan berapa besar biaya yang kiranya akan dibutuhkan untuk megobati penyakit, bahkan sebelum melakukan pengobatan. Bahkan tim perawat paliatif juga harus memberikan konseling khusus tentang keuangan pasien.

Gangguan terakhir adalah masalah spiritual, pada hal ini tim perawat akan membantu untuk mencarikan pasien kedamaian mental dan spiritual mereka dengan mempertemukan mereka dengan tokoh agama sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing. Demikian adalah perawatan paliatif, membantu pasien kronis untuk mendapatkan kualitas hidup lahir dan batin yang lebih baik selama masa pengobatan kanker yang sedang dijalani.

Baca artikel lain mengenai Mengatasi Susah BAB Saat Kemoterapi

Obat Kanker Masa Depan

Begini Perkembangan Obat Kanker Masa Depan

Fakta Keganasan Penyakit Kanker di Dunia

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, kanker merupakan penyakit nomor satu yang paling diwaspadai karena paling banyak menyebabkan kematian. Meskipun sebenarnya, menurut catatan medis, penyakit kanker mempunyai urutan dibawah serangan jantung dengan istilah silent killer-nya.

Dalam satu tahun, para dokter mendiagnosis setidaknya 10 juta kasus kanker dengan penderita yang baru. Dengan statistik yang selalu naik, tren ini tentunya akan semakin berlipat ganda pada tahun 2020 nantinya. Faktanya, serangam penyakit kanker akan menyerang 1 di antara tiga orang dinegara maju.

Pro Kontra Kemoterapi Masa Kini

Kemoterapi merupakan jenis perawatan penyakit kanker yang paling banyak digunakan. Cara kerja kemoterapi yakni dengan memasukan obat – obatan tertentu ke dalam tubuh sehingga nantinya bisa membunuh sel kanker secara bertahap. Masalah lain muncul dari kemoterapi itu sendiri. Tidak jarang, sel atau jaringan sehat dalam tubuh juga ikut terkena imbasnya. Selain itu, efek samping kemoterapi yang dinilai sangat menyiksa juga menjadi pertimbangan utama para peneliti menemukan perawatan kanker dengan metode lain.

Selain kemoterapi, saat ini kemajuan teknologi juga menemukan perawatan kombinasi yang menggabungkan kemoterapi dengan perawatan lainnya. Penggabungan kemo bisa dikombinasi dengan imunoterapi hingga radiasi. Penggabungan ini bertujuan untuk mendapatkan dampak yang lebih maksimal.

Teknologi Molekuler Lengkapi Kinerja Kemoterapi

Riset atau penelitian terhadap kanker terus dilakukan untuk menemukan metode perawatan yang lebih efektif serta efisien. Penyakit kanker yang dapat di deteksi lebih awal tentu akan lebih mudah mendapatkan perawatan serta pengobatan yang sesuai. Dengan begitu, kelangsungan hidupnya juga lebih bisa bertahan lama. Molekuler ini nantinya akan sangat membantu perawatan penderita kanker. Sehingga terapi, baik itu kemo maupun imuno bisa mencapai target yang dituju secara lebih tepat.

Molekuler merupakan salah satu bentuk dari perkembangan teknologi dalam proses kemoterapi pasien kanker. Hal ini karena adanya perancangan antibodi monoklonal untuk membasmi kanker di tingkat molekuler. Penambahan antibodi ini ketika kemoterapi dipercaya dapat membuahkan hasil yang lebih masif. Cara kerjanya yakni obat kemoterapi melemahkan sel kanker sedangkan antibodi berfungsi sebagai penyerang terakhir untuk memastikan sel kanker benar – benar bersih.

Rekayasa Genenika untuk Membasmi Kanker Tanpa Merusak Sel Sehat

Pengobatan kanker dengan membunuh sel sesuai sasaran terus diteliti oleh para ilmuan. Terlebih kelemahan kemoterapi saat ini yakni dampak atau efek samping pasca menjalani terapi dianggap sebagai momok yang mengerikan. Tidak hanya itu, setelah berhasil lolos dari kanker pun pasien tetap mempunyai resiko terjangkit penyakit kanker kedua kalinya.

Penanganan kanker melalui kemoterapi didasarkan pada anatomi tubuh manusia. sedangkan teknologi mendatang akan memecahkan kanker melalui gen. Dengan begitu, sel atau jaringan dalam tubuh tidak akan terkena dampak dari proses penyembuhan kanker itu sendiri. Menanggapi hal ini, Paul Workman, Direktur The Institute of Cancer Research di Sutton mengatakan bahwa perawatan kanker di masa mendatang akan dipecahkan secara genetik. Sehingga setiap pasien kanker mempunyai struktur gen yang dilengkapi juga dengan profil ekspresi dari biopsi.

Taklukan Kanker dengan Memecahkan DNA Sel Kanker

Para ahli medis berusaha dengan keras melibatkan genetika untuk mengatasi penyakit kanker. Harapannya, melalui genetika inilah pasien dapat memperoleh perawatan paling personal. Para penderita kanker harus mengirimkan sample biopsi untuk di analisa terlebih dahulu. Setelah itu, tim medis akan melakukan ekstraksi DNA sel kanker dalam tubuh pasien guna memecahkan kode genetik sel kanker tersebut.

Berdasarkan kode genetik tersebut, peneliti akan mencari mutasi yang sesuai uji klinis sehingga dapat menemukan jenis perawatan paling tepat untuk pasien. Untuk mendeteksi sejak awal penyakit kanker, para beberapa peneliti juga berfokus pada upaya biopsi cair. Cara kerjanya yakni dengan mendeteksi segala macam kanker sedini mungkin melalui tes darah. Beberapa perusahaan di negara maju bahkan telah melakukan eksperimen terkait dengan tes darah ini.

Nanoteknologi, Serang Sel Kanker Tanpa Efek Samping Kemoterapi

Selain melalui genetika, pada masa mendatang pengobatan kanker juga akan menggunakan teknologi nano. Jika sekarang ini kemoterapi dilakukan dengan beragam efek samping hingga bahaya, teknologi nano ini nantinya akan membasmi kanker secara lebih smoot. Jadi sel atau jaringan lain dalam tubuh tidak akan mengalami kerusakan selama proses penyembuhan kanker.

Para peneliti di negara Swedia telah melaakukan pengembangan teknik penyembuhan kanker dengan menggunakan nanoteknologi. Cara kerjanya yakni dengan memanfaatkan pengontrolan nanoteknologi secara magnetis yang akan membuat sel – sel kanker menghancurkan dirinya sendiri tanpa berpengaruh pada jaringan disekitarnya. Penelitian lanjutan bahkan menunjukan bahwa pemanfaatan teknologi nano ini tidak hanya bisa digunakan untuk mengatasi kanker. Namun dapat juga digunakan untuk mengatasi penyakit diabetes tipe 1.

Terapi Kombinasi untuk Perawatan Kanker

Upaya penanganan kanker semakin gencar dilakukan oleh pemerintah. Mengingat penyakit ini tergolong penyakit kronis yang mematikan. Di negara maju seperti Amerika, bahkan presiden mencanangkan upaya nasonal untuk mengatasi kanker. Setidaknya membuat penyakit kronis ini dapat dikendalikan dengan bantuan obat maupun teknologi mutakhir.

Penanganan kanker melalui kemoterapi terus ditelaah. Para peneliti terus melakukan inovasi perawatan yang paling tepat dan efektif. Salah satunya yakni dengan menggabungkan kemoterapi dengan imunoterapi atau radiasi. Hal ini dimaksudkan peningkatan sistem imun setidaknya akan membuat tubuh mudah mengenali sel kanker lagi.

Nantinya sistem kekebalan tubuh inilah yang akan melawan sel kanker yang tersisa pasca kemoterapi. Penggunaan terapi kombinasi saat ini memang mulai dilakukan. Meskipun masih perlu pengembangan lebih dalam untuk memastikan jenis perawatan sesuai dengan jenis kanker yang diderita pasien.

Uji Coba Manusia Virtual Sebagai Bahan Prediksi Hasil Kemoterapi

Percobaan klinis selalu dilakukan oleh para peneliti penyakit kanker guna menemukan perawatan terbaik bagi pasien. Kemoterapi membutuhkan obat – obatan yang secara legal disetujui oleh medis dan pemerintah. Proses persetujuan penggunaan obat kemoterapi inilah yang membutuhkan waktu lama. Padahal kemungkinan obat tersebut tidak lolos uji juga besar. Untuk itu, penggunaan manusia virtual yang dilengkapi dengan jaringan biologis canggih ini bisa dijadikan bahan pengujian obat.

Cara kerja manusia virtual ini yakni dengan menggunakan organ on a chip yang mampu menganalisis banyak jenis obat dalam waktu singkat. Tentunya ilmuan bisa menelaah obat mana yang paling berdampak baik jika digunakan untuk kemoterapi pasien kanker.

Sensor Implan Mampu Memantau Kondisi Tubuh Pasca Kemoterapi

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa kemoterapi tidak hanya merusak sel kanker saja, namun nyatanya juga merusak jaringan disekitarnya juga. Hal inilah yang umumnya memicu timbulnya masalah baru seperti gangguan ginjal. Efek samping dari kemoterapi pun bisa terlihat secara fisik seperti kerontokan total pada rambut, mual dan lemas. Kondisi fisik pasien harus dalam keadaan prima sebelum melakukan kemoterapi. Hal ini supaya efek samping yang timbul nantinya juga dapat diatasi.

Perkembangan teknologi kemoterapi terus bermunculan. Salah satunya penanaman sensor implan pada jaringan tubuh manusia untuk memantau kondisi pasien pasca kemoterapi. Umumnya impan sensor ini akan ditanam pada kulit pasien, otomatis mulai dari suhu tubuh hingga tanda vital lainnya dapat terus terpantau. Sehingga nantinya dapat menjadi alarm penting bagi pasien atau perawat melakukan tindakan medis untuk menangani gejala yang timbul.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker di Penang