Category Archives: Pengobatan Medis

Terapi Gen

Mengupas Kontroversi Terapi Gen untuk Kanker

Kanker adalah penyakit  yang masuk peringkat teratas paling mematikan di dunia.  Penyebaran penyakit yang cepat, membuat penderita harus berjuang agar tidak kalah dengan penyakit. Pengobatan kanker yang lazim dilakukan adalah kemoterapi, pembedahan atau operasi, dan radioterapi. Upaya operasi dan radioterapi biasanya dilakukan untuk penderita kanker stadium awal.

Penanganan radioterapi dan operasi tidak bisa dilakukan pada penderita kanker stadium lanjut atau ketika sel kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh. Pengobatan yang paling mungkin dilakukan adalah kemoterapi karena pengobatan tersebut mampu mencapai seluruh organ tubuh melalui aliran darah. Kemoterapi sebagai pengobatan andalan penyakit kanker justru memiliki risiko tinggi. Selain membunuh sel kanker kemoterapi juga membunuh sel-sel yang masih berfungsi dengan baik. Organ tubuh lainnya juga mengalami gangguan akibat efek dari kemoteraou tersebut.

Dokter ahli kanker dan ilmuwan terus melakukan penelitan dan pengembangan ilmu terkait pengobatan kanker.  Alternatif pengobatan kanker yang saat ini sedang diteliti adalah dengan terapi gen. Ada beberapa macam terapi gen yang dikenal dalam dunia medis, antara lain cell cure, steam cell atau terapi sel punca, dan imunoterapi.

Memahami Terapi Gen

Terapi terhadap penyakit kanker dimulai pada abad ke-18. Ketika itu pengobatan terhadap kanker dilakukan dengan cara pembedahan atau operasi. Namun seringkali pasien yang menjalani pembedahan atau operasi kembali mengidap penyakit yang sama. Kemudian pengobatan kanker dilakukan dengan cara tradisional yaitu dengan mengolah dan mengkonsumsi  tanaman herbal.

Teknik pengobatan kanker melalui radiasi kemudian ditemukan pada 1895. Namun pengobatan tersebut saat itu belum dianggap efektif.  Ketika itu banyak kasus pasien kanker yang menjalani pengobatan dengan jalan radiasi mengalami infeksi.

Kemudian ditemukan terapi imunoterapi yang dikenal efektif dalam pengobatan kanker. Pada tahun 1990 penelitian terapi gen pertama dilakukan di Amerika Serikat dan diujicobakan ke pasien kanker. Sejak saat itu banyak uji klinis dan penelitian lanjutan terkait terapi gen untuk penderita kanker. Ketika itu terapi gen diujicobakan pasien terdiagnosa antara lain kanker darah tipe limfositik akut dan kronis,  kanker otak, kanker leher, dan gejala kanker rahim.

Terapi gen merupakan prosedur untuk mengobati atau meringankan penyakit dengan memodifikasi genetik sel dari pasien. Ada beberapa metode yang bisa digunakan dalam terapi gen. Pertama gene replacement. Pada metode ini melihat adanya kemungkinan menggantikan gen yang termutasi dengan gen normal melalui rekombinasi homolog.  Namun metode ini tidak lazim digunakan pada pasien kanker, karena mutasi gen pada pasien kanker yang kompleks.

Cara lainnya adalah modifikasi gen.  Yaitu dengan mengubah gen termutasi dan merehabilitasi fungsi sel target. Cara ini yang kemudian dikembangkan menjadi terapi CAR- T sel. Baru-baru ini sudah dilakukan penelitian dan pengembangan pengobatan kanker melalui terapi CAR T sel khususnya untuk pasien yang terdiagnosa kanker darah.  Peneliti dan ilmuwan serta tim dokter ahli kanker menginginkan terapi CAR T ini nantinya juga bisa diterapkan pada pasien kanker lainnya.

Pengembangan penelitian terkait terapi gen atau sel untuk penderita kanker terus dilakukan. Salah satu penelitian yang baru adalah cure cell yang dikembangkan di Jerman. Terapi ini menghasilkan sel darah putih yang diambil dari tubuh pasien. Sel darah yang diambil terebut kemudian diolah di laboratorium dan kemudian diinjeksikan ke tubuh pasien penderita kanker.

Sel darah yang diambil adalah sel darah somatik yang memiliki sifat regeneratif dan regulator.  Butuh waktu yang tidak sebentar sampai tim penelitian mendapatkan temuan ini. Sebelumnya pernah ada terapi sel punca, namun terapi tersebut masih membuka kemungkinan pertumbuhan sel sehat menjadi sel kanker.  Cell cure diklaim lebih aman diterapkan ke penderita kanker.

Ada tiga hasil dari terapi cell cure, yaitu Dendritic Cells (DCs) untuk pengobatan kanker, Repair Macrophages Cells (REMs) atau sel regeneratif untuk pengobatan jantung serta gangguan pembuluh darah dan otak, terakhir Regulatory Macrophages (TOMs) atau sel regulator untuk pengobatan penyakit yang berasal dari sistem kekebalan tubuh (autoimun) seperti diabetes melitus, lupus, erimatosus, dan sebagainya.

Terapi sel lain yang bisa digunakan untuk mengobati kanker adalah imunoterapi. Yaitu melawan kanker menggunakan imun yang ada di dalam tubuh manusia. Setiap manusia, memiliki sistem imunitas atau daya kekebalan tubuh. Sistem tersebut secara otomatis akan bekerja melawan jika terdapat  benda asing dalam tubuh manusia. Namun sayangnya sistem imun sangat lemah mendeteksi keberadaan sel kanker.

Seringkali sistem imun baru mendeteksi adanya kanker ketika sudah memasuki stadium lanjut. Peneliti dan ilmuwan melihat peluang untuk memanfaatkan sistem imun ini menjadi metode pengobatanpenyakit kanker.

Ada tiga cara pengobatan imunoterapi. Pertama dengan menginjeksikan antibodi monoklonal yang  akan langsung memnempel pada  sel abnormal. Antibodi tersebut kemudian akan melakukan perlawanan terhadap sel abnormal.  Cara berikutnya dalam pengobatan imunoterapi adalah pemberian vaksin. Secara umum vaksin kerap digunakan dokter untuk membantu tubuh melawan penyakit. Untuk pemberian vaksin imunoterapi pada penderita kanker, akan menimbulkan reaksi pada sistem imun tubuh. Kemudian akan memicu produksi antibodi. Vaksin tersebut akan membentuk sistem imun yang bereaksi mendeteksi dan menghambat pertumbuhan sel kanker.

Langkah selanjutnya yang ditempuh adalah terapi sel. Caranya dengan mengambil sel imun dalam tubuh pasien yang kemudian disterilkan dan digandakan lalu disuntikkan kembali ke tubuh pasien. Sel imun yang semula lemah lebih bertenaga untuk melakukan perlawanan menghambat pertumbuhan sel kanker.

Manfaat dan Risiko Terapi Gen

Pengobatan mutakhir ini diklaim aman dan ampuh untuk mengobati kanker.  Baru beberapa negara maju yang mengadopsi terapi sel sebagai metode pengobatan kanker. Indonesia memiliki laboratorium cure cell di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Meski sudah mulai beroperasi sejak pertengahan 2017 lalu, keberadaannya masih menimbulkan kontroversi.

Pasalnya pengobatan tersebut saat ini masih dilakukan pengembangan dan penelitian oleh beberapa ilmuwan. Perlu diketahui pengobatan dengan terapi sel ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun lebih aman dibanding dengan pengobatan kanker yang sudah ada seperti kemoterapi, radioterapi, dan operasi atau pembedahan.

Beberapa ujicoba yang dilakukan di negara maju, terapi ini cukup ampuh untuk menghilangkan kanker dalam waktu cepat. Efek samping yang dirasakan oleh penderita pun hanya bersifat sementara.  Itu merupakan reaksi ketika ada sesuatu yang asing dan baru dalam tubuh. Akibatnya pasien akan merasakan demam, mual, muntah, nyeri di persendian, dan beberapa tanda ketika seseorang hendak terserang flu.

Terapi ini bisa menjadi pilihan untuk penderita kanker dan penyakit kronis lainnya. Pasien harus benar-benar dalam kondisi fit ketika dilakukan pengobatan. Masih ada kemungkinan pengobatan ini gagal dan harus diulang akibat ketidakcocokan gen atau sel yang direkayasa dengan tubuh pasien. Dokter yang memeriksa pun harus benar-benar detail dan memastikan bahwa pengobatan ini sesuai.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Sirih Merah untuk Kanker

Imunoterapi

Terapi Imunoterapi, Terapi Kanker yang Layak Dicoba

Siapa saja pasti bergidik ngeri ketika mendengar penyakit kanker. Penyakit itu bisa mematikan penderitanya dalam jangka waktu yang tidak lama. Sebagian besar penderita terdiagnosa penyakit kanker ketika sudah memasuki stadium lanjut. Pengobatan kanker yang lazim dilakukan seperti kemoterapi, radioterapi, operasi, dan transplantasi sel memungkinkan penyakit tersebut muncul kembali. Sel kanker sangat mungkin menyebar dan tumbuh di organ tubuh lainnya.

Sampai sekarang belum ditemukan metode pengobatan untuk penyakit kanker yang ampuh dan minim risiko. Pengobatan tradisional yang memanfaatkan tanaman herbal memang minim risiko namun belum tentu aman bagi penderita. Satu penderita dengan penderita lainnya memiliki kondisi yang berbeda otomatis penanganannya pun berbeda. Itu mengapa pengobatan herbal belum tentu aman bagi penderita kanker.

Terapi sel, cell cure, dan Car T cell menjadi alternatif namun pengobatan tersebut masih tergolong mahal. Selain itu terapi Car T cell juga belum ada di Indonesia.  Ada metode pengobatan kanker lainnya yang bisa jadi alternatif. Pengobatan tersebut adalah imunoterapi yang bisa menstrerilkan benih kanker dalam tubuh manusia.  Metode pengobatan ini bisa diterapkan untuk pasien yang terdiagnosa kanker paru.

Terapi Kanker yang Bisa Jadi Alternatif

Kemoterapi adalah metode pengobatan kanker yang paling sering diberikan kepada pasien kanker.  Namun sayangnya metode tersebut memiliki kelemahan . Bukan hanya sel kanker yang ditumpas, sel lain yang masih sehat juga ikut mati karena efek dari kemoterapi.  Kemoterapi juga berefek pada terganggunya fungsi organ tubuh lain. Itu sebabnya penderita kanker juga harus menyeimbangkan diri dengan mengatur pola hidup sehat mereka.

Operasi juga banyak dilakukan dokter untuk menangani pasien kanker. Operasi biasa dilakukan ketika pasien baru pada tahap awal terkena kanker.  Tumor yang menjadi gejala awal kanker dapat langsung dibuang melalui jalan operasi ketika masih berada di stadium awal. Namun hal ini tidak dapat menyembuhkan jika kanker telanjur menyebar ke organ tubuh lainnya. Jika pasien sudah pada stadium lanjut, maka langkah operasi tidak disarankan.

Pengobatan kanker yang baru ditemukan adalah terapi sel. Ada tiga terapi sel yang bisa dilakukan yaitu Car T sel, cure cell, dan steam cel atau terapi sel punca. Ketiga terapi cell tersebut memiliki metode yang hampir sama yaitu mengambil darah , memisahkan sel, kemudian mensterilkan sel tersebut, kemudian memberikan beberapa  zat tambahan dan menyuntikkan kembali sel yang sudah dimurnikan tersebut ke dalam tubuh pasien.

Terapi Car T sel saat ini belum ada di Indonesia. Untuk terapi cure sel dan steam cell atau terapi sel punca sudah ada di Indonesia. Akan tetapi masih terdapat kontroversi dalam penggunaannya, khususnya untuk cure cell.  Ilmuwan dan dokter sampai saat ini masih memutakhirkan metode tersebut agar tepat digunakan oleh pasien kanker.

Apapun metode yang dipakai untuk pasien kanker,  dokter memang harus benar-benar teliti dalam menerapkannya. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, itu sebabnyas penanganannya pun berbeda. Termasuk reaksi pasien ketika pertama kali menggunakan metode terapi sel. Ada pasien yang mengalami demam dan pembengkakan organ tubuh ada pula yang tidak memberikan reaksi apapun. Pasien yang akan melakukan terapi pengobatan juga harus benar-benar dipastikan kondisinya.

Sebagian besar pasien kanker juga memilih melakukan pengobatan secara tradisional dengan mengkonsumsi pengobatan herbal.  Perlu diperhatikan jika pengobatan ini ditempuh, harus dikonsultasikan lebih dulu apakah bisa dikombinasikan dengan penggunaan obat kimia. Jika digunakan bersamaan pasien akan mengalami kesulitan atau tidak dapat dilihat jenis obat yang bereaksi terhadap tubuh pasien.

Apa Itu Imunoterapi?

Selain kemoterapi, operasi, transplantasi, terapi sel, dan obat herbal ada satu lagi pengobatan kanker yang bisa dicoba. Dunia medis menyebutnya imunoterapi.  Pengobatan kanker yang satu ini memanfaatkan sistem kekebalan tubuh atau imun manusia untuk melawan kanker. Pada dasarnya  dalam tubuh manusia memiliki imun yang otomatis akan melawan jika ada makhluk asing yang masuk.

Ada dua cara yang bisa digunakan untuk pengonatan imunoterapi.Pertama merangsang sistem kekebalan pasien untuk menghentikan pertumbuhan dan perkembang biakan sel kanker dalam tubuh. Kedua memberikan zat khusus yang memiliki fungsi dan sifat seperti imun, misalnya protein imun.

Sistem kekebalan yang ada pada tubuh manusia seharusnya bisa membantu menyerang virus, bakteri, dan kuman yang menjadi penyebab penyakit pada manusia.  Imun tubuh secara otomatis sudah mengetahui zat apa saja yang seharusnya ada pada tubuh manusia.   Jika ada makhluk asing yang tidak dikenalinya dan berbahaya bagi tubuh secara otomatis dia akan bekerja untuk mencegah timbulnya reaksi tubuh.

Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada tubuh pasien yang terdiagnosa kanker. Pasalnya kanker diakibatkan oleh perkembangbiakan sel abnormal dalam jumlah banyak dan menyebar di luar kendali. Proses perkembangbiakan sel atau mutasi gen dalam tubuh adalah sesuatu yang lumrah terjadi dan ini yang tidak disadari oleh sistem imun. Di beberapa kasus sistem imun tubuh bisa mendeteksi adanya bahaya, namun ketika terdeteksi oleh imun tubuh, kanker sudah menyebar dan cukup ganas sehingga imun tidak dapat menyerangnya.

Ilmuwan dan ahli dalam bidang kesehatan kanker melihat bahwa imun tubuh berpotensi untuk mendeteksi pertumbuhan kanker. Imun tubuh memiliki kemampuan lebih efektif dan sistematis untuk mendeteksi pertumbuhan kanker.

Belum banyak negara yang menerapkan imunoterapi sebagai alternatif pengobatan kanker.  Negara yang sudah menerapkannya antara lain Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris.  Indonesia masih dalam tahap meneliti dan mengembangkan kemungkinan penerapan terapi ini.

Jenis-jenis Imunoterapi

Imunoterapi dibedakan menjadi tiga cara pengobatan. Pertama Antibodi monoklonal, yaitu salah satu imun bikinan manusia yang ditujukan untuk sel kanker tersebut. Antibodi tersebut akan disuntikkan ke tubuh manusia dan menempel pada sel abnormal. Kemudia antibodi tersebut akan melakukan perlawanan terhadap sel abnormal.

Kedua dengan cara vaksin. Vaksin adalah cara yang sering digunakan di dunia medis untuk membantu tubuh melawan penyakit. Vaksin yang diberikan akan menimbulkan reaksi pada sistem imun tubuh yang memicu produksi antibodi.  Kemudian dengan vaksin tersebut sistem imun akan bereaksi untuk mendeteksi dan mencegah sel kanker.

Ketiga, dengan cara terapi sel. Dokter atau ahli akan mengambil sel imun pada tubuh pasien. Sel imun tersebut disterilkan dan digandakan di laboratorium kemudian diinjeksikan kembali ke tubuh pasien. Tujuannya agar sel imun yang semula lemah dan tidak mampu melawan sel kanker memiliki tambahan kekuatan untuk melakukan perlawanan. Selain itu bisa juga dilakukan rekayasa sel agar bisa bekerja dan mendeteksi dan menghambat pertumbuhan sel kanker.

Pengobatan imunoterapi bukan berarti tanpa efek samping. Pasien akan mengalami efek seperti demam, mual,  muntah, sakit kepala, nyeri pada persendian, tekanan darah tinggi atau rendah, dan sesak nafas atau kesulitan bernafas. Namun efek samping tersebut hanya bersifat sementara.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Sirih Merah untuk Kanker

Terapi Sel

‘Cell Cure’ Terapi Sel, Teknik Pengobatan Terkini untuk Kanker

Pengobatan kanker yang lazim dikenal selama ini antara lain kemoterapi, radioterapi, transplantasi sel, dan operasi. Pengobatan secara medis tersebut tidak menghilangkan sel kanker dalam tubuh penderita. Ada kemungkinan sel kanker tersebut tumbuh di organ tubuh lainnya.  Selain itu ada efek lainnya pada tubuh seperti rasa pusing, mual, dan gangguan kerja organ lainnya.

Selain memiliki efek samping yang’berat’ pengobatan kanker juga tidak murah.  Butuh biaya besar untuk menjalani pengobatan kanker. Pengidap juga harus mengimbangi pengobatan dengan gaya hidup sehat.   Selain pengobatan secara medis, pasien kanker kebanyakan juga menjalani pengobatan herbl. Mereka bisa mengolah sendiri obat herbal yang berasal dari tanaman atau mengkonsumsi obat herbal yang sudah dikemas dalam kapsul.

Setiap pengobatan pasti ada risiko dan efek samping yang dirasakan.   Namun tak perlu khawatir selain dua alternatif pengobatan kanker yang lazim dijalani ada pengobatan lain yang bisa dijalani oleh pasien kanker. Terapi asal Jerman tersebut dikenal dengan ‘Cell Cure’, namun perlu diketahui pengobatan melalui terapi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit sekitar Rp 300 juta- Rp500 juta.

Terapi kanker jenis ini sekarang sedang dikembangkan di Indonesia, tepatnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta. Kendati masih menimbulkan kontroversi,  terapi ini tetap dikembangkan dan diklaim aman  untuk mengatasi bahaya penyakit kanker.

Asal Mula Terapi Sel Punca

Teknik pengobatan kanker yang pernah menjadi tren sekitar tahun 2013 adalah steam cell atau terapi sel punca. Bukan hanya penyakit kanker, terapi cell yang membutuhkan dana sedikitnya Rp200 juta ini juga bisa digunakan untuk penyakit kronis lainnya termasuk perawatan kecantikan.

Terapi cell cure merupakan pengembangan dari steam cell yang dikembangkan oleh ilmuwan asal Jerman.  Pada terapi ini menghasilkan sel darah putih autologous yang diambil dari tubuh pasien. Sel tersebut kemudian diprogram dan dikembangkan di laboratorium khusus, kemudian disuntikkan kembali ke pasien yang bersangkutan.

Sel yang diambil tersebut berasal dari sel darah somatik, bukan sel punca.   Sama dengan sel punca, sel tersebut memiliki sifat regenatif dan regulator. Penelitian terkait cell cure ini memakan waktu yang tidak sebentar. Tim pimpinan Prof. Dr. Med F Fandrich, FRCS seorang ahli bedah memulai riset pada 2005. Dari hasil penelitian diklaim bahwa terapi cell cure lebih unggul ketimbang terapi cell punca.

Sel punca masih ada kemungkinan berubah menjadi sel kanker, bila berada di lingkungan sel kanker sehingga berpotensi gagal apabila diterapkan pada penderita kanker. Proses pembuatan sel punca pun lebih rumit dibandingkan cell cure. Lain dengan sel punca, cell cure yang diinjeksikan ke dalam tubuh tidak dapat menjadi sel kanker. Dengan demikian sel tersebut lebih aman untuk diterapkan ke penderita kanker.

Berdasar hasil penelitian,  ada tiga jenis produk yang dihasilkan dari terapi cell cure yaitu Dendritic Cells (DCs) untuk pengobatan kanker, Repair Macrophages Cells (REMs) atau sel regeneratif untuk pengobatan jantung serta gangguan pembuluh darah dan otak, terakhir Regulatory Macrophages (TOMs) atau sel regulator untuk pengobatan penyakit yang berasal dari sistem kekebalan tubuh (autoimun) seperti diabetes melitus, lupus, erimatosus, dan sebagainya.

Seperti Apa Sih Cara Kerja Cell Cure?

Cara kerja Cell Cure sebetulnya tidak jauh berbeda dengan terapi sel punca. Hanya saja terapi ini dianggap lebih efektif untuk mengobati penyakit kanker.  Penyakit kanker padat atau disebut solid tumor yang bisa diatasi dengan terapi ini antara lain tumor otak, tumor THT, tumor paru-paru, tumor saluran cerna, tumor  hati, tumor pankreas, tumor ovarium, dan tumor pada anak.

Tahapan terapi yang dilakukan adalah dengan mengambil monosit dari darah pasien. Pengambilan monosit tersebut mengginakan alat aferesis yang telah diprogram.  Pengambilan darah ini memakan waktu yang tidak sebentar, kurang lebih tiga jam. Sebelum tindakan tersebut dilakukan, dokter melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium terhadap kondisi pasien untuk menjalani terapi tersebut.

Dokter harus memastikan kondisi pasien benar-benar fit dan prima ketika menjalani terapi ini.  Setelah pengambilan monosit tersebut dilakukan, langkah berikutnya adalah memurnikan monosit dengan alat elutrasi.  Tindakan ini dilakukan dengan kondisi yang benar-benar steril. Seperti ruangan yang steril dan peralatan serta kondisi laboran yang sehat. Tujuannya agar tidak terjadi kontaminasi  yang bisa berdampak pada kegagalan terapi.  Sel monosit yang telah dimurnikan tersebut kemudian ditambahkan dengan zat tertentu baru setelah itu dimasukkan ke tubuh pasien.

Ada sembilan tabung steril yang digunakan untuk menampung sample darah yang diambil. Kemudian dari sembilan tabung tersebut diambil bagian monisitnya. Monosit yang diambil tersebut kemudian ditempatkan di sebuah wadah yang disebut flask. Kemudian ditambah sitkoin atau molekul protein. Banyak sedikitnya penambahan sitkoin termasuk jenisnya tergantung dari tujuan pengembangan sel. Untuk pengembangan sel yang dapat melawan kanker maka digunakan dendritic cell.

Sel yang diletakkan dalam flask tersebut kemudian dimasukkan ke dalam inkubator untuk dipantau perkembangannya selama tujuh hari. Setiap harinya akan ada petugas yang mengecek perkembangannya dari hari pertama sampai hari ke tujuh. Pengecekan tersebut juga bertujuan untuk memantau apakah sel yang dimurnikan tersebut terus berkembang atau justru mati.

Ruangan puh harus steril. Termasuk kelembaban udara, suhu, dan tekanan udaradi ruangan harus sesuai. Itu sebabnya selain laboratorium yang steril ada juga ruangan khusus untuk mengontrol suhu ruangan. Jangan sampai sel yang sudah dimurnikan dan akan disuntikkan ke pasien mati. Artinya jika terjadi kegagalan sangat mungkin pemeriksaan dilakukan sejak awal lagi.

Sembuh Total dengan Cell Cure?

Terapi cell cure diklaim lebih aman ketimbang pengobatan kanker lainnya. Kendati sudah ada di Indonesia, namun masih menimbulkan kontroversi karena keilmuan dan uji klinisnya masih masif dikembangkan di beberapa negara. Itu sebabnya karena belum ada hasil yang autentik maka pengobatan jenis ini masih diperdebatkan.

Pengobatan kanker dengan terapi cell cure ini bukan hanya membutuhkan biaya yang banyak. Akan tetapi, juga ketelatenan dan kesabaran. Kondisi pasien harus benar-benar fit ketika pemeriksaan dilakukan. Padahal kondisi pasien kanker seringkali tidak stabil. Apalagi pasien terdiagnosa kanker yang sudah memasuki stadium lanjut.

Sel-sel baru yang sudah dimurnikan dan diberikan zat tambahan dapat bertahan lama dalam tubuh pasien. Kadar yang disuntiikkan pun harus diukur terlebih dahulu. Pasien yang satu dengan lainnya tidaklah bisa sama. Pengobatan dengan cara ini diyakini mampu membunuh sel-sel kanker dan tidak merusak sel lain yang masih sehat.

Pasien kanker kini punya alternatif pengobatan yang minim risiko. Reaksi yang mungkin terjadi adalah demam dan meriang. Sel-sel  baru yang disuntikkan ke dalam tubuh mulai menyerang sel kanker sehingga reaksi yang dialami oleh tubuh pasien adalah demam dan meriang. Tidak perlu khawatir karena itu tidak akan berlangsung lama.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Sirih Merah untuk Kanker