Category Archives: Pengobatan Medis

Perawatan Paliatif

Perawatan Paliatif untuk Pasien Kanker dan Penjelasannya

Kanker adalah salah satu pembunuh paling kejam yang mengintai masyarakat modern, masuk ke dalam tubuh melalui hal-hal yang menyenangkan dan rasanya enak, seperti begadang, berhadapan dengan radiasi monitor atau ponsel berlebihan, makan junk food terus menerus, menolak olahraga, atau bahkan karena tidak makan makanan sehat sama sekali.

Menurut dr. Monika Joy Reverger, SpKJ , saat menghadiri peringatan Hari Kanker Dunia di MRCCC Siloam Hospital, telah menjelaskan sebuah perawatan kanker yang banyak dikenal sebagai perawatan paliatif. Sebagaimana yang diketahui masyarakat, yang disebut perawatan paliatif adalah salah satu jenis perawatan yang direkomedasikan untuk penderita kanker. Bagaimana caranya supaya para penderita kanker bisa hidup dengan baik dan bahagia selama sisa hidup yang tersisa. Bahkan di Amerika Serikat sana, pasien-pasien paliatif adalah para pasien yang memiliki harapan hidup yang jauh lebih besar, sehingga perawatan paliatif ini tidak hanya sekadar merawat pasien kanker yang sedang menghadapi kematian, namun juga meningkatkan semangat hidup dan kualitas hidup para pasien kanker supaya bisa hidup dengan lebih lama.

Sistem Kerja dari Perawatan Paliatif

Lantas, bagaimana sebenarnya sistem kerja dari perawatan paliatif ini? Yang dimaksud dengan perawatan paliatif ini adalah sebuah perawatan kesehatan terpadu yang sangat aktif dan menyeluruh, juga dilakukan khusus dengan melakukan pendekatan multidisiplin, ada integrasi dengan tenaga medis seperti dokter dan dokter spesialis, juga bersama perawat, para terapis, juga para petugas sosial medis. Bukan hanya itu, namun juga para rohaniawan,  psikolog, relawan dan bahkan para profesional lain yang diperlukan dalam perawatan khusus yang satu ini.

Sebelum menjalani perawatan paliatif, para pasien akan mengalami beberapa tahapan seperti yang akan dijabarkan di bawah ini. Fase-fase psikologis ini sangat wajar, dan pasti dialami oleh para pasien yang didiagnosis kanker. Secara umum, berikut adalah fase psikologis yang akan dirasakan.

  1. Saat pertama kali divonis kanker, para pasien akan menyangkal dan tidak terima. Mereka merasa bahwa tubuh mereka tidak menjadi sarang kanker dan berusaha untuk mencari dokter lainnya untuk mendapatkan penjelasan lain mengenai kondisi kesehatannya, dan dinyatakan bebas dari penyakit mematikan tersebut.
  2. Marah-marah. Setelah melewati tahap menyangkal, dan semua pendapat dokter menyatakan bahwa ia mengidap kanker, maka muncul fase marah. Pasien akan marah pada dirinya sendiri, merasa dirinya sudah tak berguna dan menyalahkan dirinya sendiri sampai terjadi penyakit ini.
  3. Setelah berhasil meredam kemarahan pada dirinya sendiri, lantas pasien akan mencoba melakukan penawaran pada Tuhan. Ia akan berdoa supaya Tuhan tiba-tiba menyembuhkan kankernya dengan cepat dan jangan sampai ia harus kehilangan nyawa karenanya.
  4. Stres dan tertekan. Pada saat fase tawar menawar tak memberikan efek baik apapun pada kenyataan yang dihadapi, akhirnya pasien mulai tertekan dan mengalami depresi, karena merasa tidak ada lagi yang mampu dilakukan untuk mengenyahkan kanker tersebut dari dalam tubuh.
  5. Inilah fase psikologis terakhir yang dialami oleh para penderita kanker, pada fase ini biasanya mereka menjadi lebih bijak dan sabar, selain itu juga bisa menerima kondisi mereka dengan hati yang lebih lega walaupun terasa berat. Pikiran pun jadi lebih positif, pengobatan mulai bisa dilakukan dan semangat sembuh pun tinggi.

Para pasien degan penyakit kronis yang stadiumnya sudah lanjut harus mengikuti perawatan paliatif, tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan kualitas hidup sehari-hari dari seorang pasien. Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dan peningkatan kualitas tersebut dilakukan pertama-tama dengan melakukan pendekatan psikologis, sisi psikososial, juga mental juga spiritual dari pasien itu sendiri. Hal itu kelak membuat pasien merasa lebih tenang, nyaman dan bahagia pada sesi-sesi panjang pengobatan mereka.

Penyakit Yang Membutuhkan Perawatan Paliatif

Kementerian Kesehatan di Indonesia telah memberikan ketentuan khusus dimana beberapa jenis penyakit serius diwajibkan untuk menerapkan perawatan paliatif, hanya saja dalam praktiknya masih banyak hal yang menghambat, sehingga para pasien tidak bisa mendapatkan perawatan paliatif yang maksimal untuk kelangsungan hidup mereka. Perawatan paliatif memang identik dengan pasien kanker kronis stadium akhir, namun walau demikian perawatan paliatif juga biasa dilakukan untuk penyakit yang butuh perawatan khusus, misalnya saja:

  • Penyakit usia senja. Misalnya demensia, alzheimer, penyakit-penyakit kardiovaskuler (juga termasuk serangan jantung), paru obstrutif kronis, sirosis, TBC, parkinson, Multiple Sclerosis, gagal ginjal dan juga HIV/AIDS. Bahkan diabetes.
  • Penyakit anak-anak. Beberapa penyakit yang dialami oleh anak misalnya pnyakit gagal jantung dan pembuluh darah, kanker, sirosis, sistem imunitas yang terganggu, meningitis, penyakit ginjal, HIV AIDS dan juga masalah kesehatan pada sistem sarafnya.

Tidak ada orang yang ingin mendapati dirinya memiliki sisa hidup yang tak lama lagi, apalagi jika harus dibarengi dengan penderitaan tak berkesudahan karena penyakit serius seperti kanker. Kenyataan tubuh mengidap kanker tentunya menyebabkan banyak hal yang berubah, dan dampaknya tidak hanya pada kondisi kesehatan saja namun juga pada semua aspek kehidupannya. Itulah kenapa perawatan paliatif itu ada, gunanya untuk mengantisipasi dampak buruk lain yang bisa timbul karena penyakit tersebut.

Gangguan Yang Sering Terjadi Pada Penderita

Adanya gangguan fisik yang paling jelas seperti susah tidur, terasa nyeri, napas tersengal dan pendek-pendek, nafsu makan turun drastis dan juga ada sakit pada perut menjadi hal yang paling sering dirasakan oleh penderita kanker kronis, selain sakit dari lokasi kanker itu sendiri. Yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesakitan-kesakitan tersebut adalah dengan melakukan konseling gizi sesegera mungkin, melakukan terapi fisik, juga mempelajari teknik mengambil napas dalam-dalam supaya tubuh lebih rileks dan pikiran terasa lebih baik.

Selain gangguan fisik, ada lagi gangguan emosi dan sosial yang akan terjadi. Si pasien tentu akan merasa sangat marah, takut, sedih dan semua emosi tersebut tidak bisa dikontrol hingga menjadi depresi. Tak hanya pasien, keluarga pasien juga akan ikut merasakan hal yang sama. Di dalam perawatan paliatif, semua gangguan tersebut bisa dikurangi dengan cara melakukan konseling secara teratur, melakukan diskusi antar dan sesama pasien dengan riwayat kesehatan yang sama juga mengadakan pertemuan keluarga untuk bersama mengatasi depresi atau tekanan mental ini.

Selain gangguan fisik dan mental, sudah tentu akan muncul gangguan pada finansial. Saat sakit tak hanya menyiapkan fisik dan mental, namun juga finansial, sebab berobat dengan kualitas terbaik tentu membutuhkan sejumlah uang yang tidak sedikit nominalnya. Apalagi penyakit seperti kanker membutuhkan perawatan yang tidak murah, dan dalam perawatan paliatif harus dijelaskan berapa besar biaya yang kiranya akan dibutuhkan untuk megobati penyakit, bahkan sebelum melakukan pengobatan. Bahkan tim perawat paliatif juga harus memberikan konseling khusus tentang keuangan pasien.

Gangguan terakhir adalah masalah spiritual, pada hal ini tim perawat akan membantu untuk mencarikan pasien kedamaian mental dan spiritual mereka dengan mempertemukan mereka dengan tokoh agama sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing. Demikian adalah perawatan paliatif, membantu pasien kronis untuk mendapatkan kualitas hidup lahir dan batin yang lebih baik selama masa pengobatan kanker yang sedang dijalani.

Baca artikel lain mengenai Mengatasi Susah BAB Saat Kemoterapi

Obat Kanker Masa Depan

Begini Perkembangan Obat Kanker Masa Depan

Fakta Keganasan Penyakit Kanker di Dunia

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, kanker merupakan penyakit nomor satu yang paling diwaspadai karena paling banyak menyebabkan kematian. Meskipun sebenarnya, menurut catatan medis, penyakit kanker mempunyai urutan dibawah serangan jantung dengan istilah silent killer-nya.

Dalam satu tahun, para dokter mendiagnosis setidaknya 10 juta kasus kanker dengan penderita yang baru. Dengan statistik yang selalu naik, tren ini tentunya akan semakin berlipat ganda pada tahun 2020 nantinya. Faktanya, serangam penyakit kanker akan menyerang 1 di antara tiga orang dinegara maju.

Pro Kontra Kemoterapi Masa Kini

Kemoterapi merupakan jenis perawatan penyakit kanker yang paling banyak digunakan. Cara kerja kemoterapi yakni dengan memasukan obat – obatan tertentu ke dalam tubuh sehingga nantinya bisa membunuh sel kanker secara bertahap. Masalah lain muncul dari kemoterapi itu sendiri. Tidak jarang, sel atau jaringan sehat dalam tubuh juga ikut terkena imbasnya. Selain itu, efek samping kemoterapi yang dinilai sangat menyiksa juga menjadi pertimbangan utama para peneliti menemukan perawatan kanker dengan metode lain.

Selain kemoterapi, saat ini kemajuan teknologi juga menemukan perawatan kombinasi yang menggabungkan kemoterapi dengan perawatan lainnya. Penggabungan kemo bisa dikombinasi dengan imunoterapi hingga radiasi. Penggabungan ini bertujuan untuk mendapatkan dampak yang lebih maksimal.

Teknologi Molekuler Lengkapi Kinerja Kemoterapi

Riset atau penelitian terhadap kanker terus dilakukan untuk menemukan metode perawatan yang lebih efektif serta efisien. Penyakit kanker yang dapat di deteksi lebih awal tentu akan lebih mudah mendapatkan perawatan serta pengobatan yang sesuai. Dengan begitu, kelangsungan hidupnya juga lebih bisa bertahan lama. Molekuler ini nantinya akan sangat membantu perawatan penderita kanker. Sehingga terapi, baik itu kemo maupun imuno bisa mencapai target yang dituju secara lebih tepat.

Molekuler merupakan salah satu bentuk dari perkembangan teknologi dalam proses kemoterapi pasien kanker. Hal ini karena adanya perancangan antibodi monoklonal untuk membasmi kanker di tingkat molekuler. Penambahan antibodi ini ketika kemoterapi dipercaya dapat membuahkan hasil yang lebih masif. Cara kerjanya yakni obat kemoterapi melemahkan sel kanker sedangkan antibodi berfungsi sebagai penyerang terakhir untuk memastikan sel kanker benar – benar bersih.

Rekayasa Genenika untuk Membasmi Kanker Tanpa Merusak Sel Sehat

Pengobatan kanker dengan membunuh sel sesuai sasaran terus diteliti oleh para ilmuan. Terlebih kelemahan kemoterapi saat ini yakni dampak atau efek samping pasca menjalani terapi dianggap sebagai momok yang mengerikan. Tidak hanya itu, setelah berhasil lolos dari kanker pun pasien tetap mempunyai resiko terjangkit penyakit kanker kedua kalinya.

Penanganan kanker melalui kemoterapi didasarkan pada anatomi tubuh manusia. sedangkan teknologi mendatang akan memecahkan kanker melalui gen. Dengan begitu, sel atau jaringan dalam tubuh tidak akan terkena dampak dari proses penyembuhan kanker itu sendiri. Menanggapi hal ini, Paul Workman, Direktur The Institute of Cancer Research di Sutton mengatakan bahwa perawatan kanker di masa mendatang akan dipecahkan secara genetik. Sehingga setiap pasien kanker mempunyai struktur gen yang dilengkapi juga dengan profil ekspresi dari biopsi.

Taklukan Kanker dengan Memecahkan DNA Sel Kanker

Para ahli medis berusaha dengan keras melibatkan genetika untuk mengatasi penyakit kanker. Harapannya, melalui genetika inilah pasien dapat memperoleh perawatan paling personal. Para penderita kanker harus mengirimkan sample biopsi untuk di analisa terlebih dahulu. Setelah itu, tim medis akan melakukan ekstraksi DNA sel kanker dalam tubuh pasien guna memecahkan kode genetik sel kanker tersebut.

Berdasarkan kode genetik tersebut, peneliti akan mencari mutasi yang sesuai uji klinis sehingga dapat menemukan jenis perawatan paling tepat untuk pasien. Untuk mendeteksi sejak awal penyakit kanker, para beberapa peneliti juga berfokus pada upaya biopsi cair. Cara kerjanya yakni dengan mendeteksi segala macam kanker sedini mungkin melalui tes darah. Beberapa perusahaan di negara maju bahkan telah melakukan eksperimen terkait dengan tes darah ini.

Nanoteknologi, Serang Sel Kanker Tanpa Efek Samping Kemoterapi

Selain melalui genetika, pada masa mendatang pengobatan kanker juga akan menggunakan teknologi nano. Jika sekarang ini kemoterapi dilakukan dengan beragam efek samping hingga bahaya, teknologi nano ini nantinya akan membasmi kanker secara lebih smoot. Jadi sel atau jaringan lain dalam tubuh tidak akan mengalami kerusakan selama proses penyembuhan kanker.

Para peneliti di negara Swedia telah melaakukan pengembangan teknik penyembuhan kanker dengan menggunakan nanoteknologi. Cara kerjanya yakni dengan memanfaatkan pengontrolan nanoteknologi secara magnetis yang akan membuat sel – sel kanker menghancurkan dirinya sendiri tanpa berpengaruh pada jaringan disekitarnya. Penelitian lanjutan bahkan menunjukan bahwa pemanfaatan teknologi nano ini tidak hanya bisa digunakan untuk mengatasi kanker. Namun dapat juga digunakan untuk mengatasi penyakit diabetes tipe 1.

Terapi Kombinasi untuk Perawatan Kanker

Upaya penanganan kanker semakin gencar dilakukan oleh pemerintah. Mengingat penyakit ini tergolong penyakit kronis yang mematikan. Di negara maju seperti Amerika, bahkan presiden mencanangkan upaya nasonal untuk mengatasi kanker. Setidaknya membuat penyakit kronis ini dapat dikendalikan dengan bantuan obat maupun teknologi mutakhir.

Penanganan kanker melalui kemoterapi terus ditelaah. Para peneliti terus melakukan inovasi perawatan yang paling tepat dan efektif. Salah satunya yakni dengan menggabungkan kemoterapi dengan imunoterapi atau radiasi. Hal ini dimaksudkan peningkatan sistem imun setidaknya akan membuat tubuh mudah mengenali sel kanker lagi.

Nantinya sistem kekebalan tubuh inilah yang akan melawan sel kanker yang tersisa pasca kemoterapi. Penggunaan terapi kombinasi saat ini memang mulai dilakukan. Meskipun masih perlu pengembangan lebih dalam untuk memastikan jenis perawatan sesuai dengan jenis kanker yang diderita pasien.

Uji Coba Manusia Virtual Sebagai Bahan Prediksi Hasil Kemoterapi

Percobaan klinis selalu dilakukan oleh para peneliti penyakit kanker guna menemukan perawatan terbaik bagi pasien. Kemoterapi membutuhkan obat – obatan yang secara legal disetujui oleh medis dan pemerintah. Proses persetujuan penggunaan obat kemoterapi inilah yang membutuhkan waktu lama. Padahal kemungkinan obat tersebut tidak lolos uji juga besar. Untuk itu, penggunaan manusia virtual yang dilengkapi dengan jaringan biologis canggih ini bisa dijadikan bahan pengujian obat.

Cara kerja manusia virtual ini yakni dengan menggunakan organ on a chip yang mampu menganalisis banyak jenis obat dalam waktu singkat. Tentunya ilmuan bisa menelaah obat mana yang paling berdampak baik jika digunakan untuk kemoterapi pasien kanker.

Sensor Implan Mampu Memantau Kondisi Tubuh Pasca Kemoterapi

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa kemoterapi tidak hanya merusak sel kanker saja, namun nyatanya juga merusak jaringan disekitarnya juga. Hal inilah yang umumnya memicu timbulnya masalah baru seperti gangguan ginjal. Efek samping dari kemoterapi pun bisa terlihat secara fisik seperti kerontokan total pada rambut, mual dan lemas. Kondisi fisik pasien harus dalam keadaan prima sebelum melakukan kemoterapi. Hal ini supaya efek samping yang timbul nantinya juga dapat diatasi.

Perkembangan teknologi kemoterapi terus bermunculan. Salah satunya penanaman sensor implan pada jaringan tubuh manusia untuk memantau kondisi pasien pasca kemoterapi. Umumnya impan sensor ini akan ditanam pada kulit pasien, otomatis mulai dari suhu tubuh hingga tanda vital lainnya dapat terus terpantau. Sehingga nantinya dapat menjadi alarm penting bagi pasien atau perawat melakukan tindakan medis untuk menangani gejala yang timbul.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker di Penang

Kemoterapi dan Imunoterapi

Penyembuhan Kanker dengan Perpaduan Kemoterapi dan Imunoterapi

Mengenal Kemoterapi dan Cara Kerjanya

Kemoterapi merupakan upaya perawatan bagi penderita kanker yang paling populer. Obat kemoterapi ini bisa berupa pil atau suntikan melalui infus. Umumnya pasien akan mendatangi klinik atau rumah sakit ketika akan menjalani kemoterapi. Obat kemo untuk kanker sangatlah beragam. Obat ditentukan dari jenis kanker dan kondisi tubuh pasien. Hal ini karena cara kerja obat juga sangat beragam. Ada yang benar – benar membunuh sel kanker atau sekedar menghentikan pertumbuhan kanker.

Dokter biasanya akan membuat resep obat kemo bahkan merekomendasikan jenis terapi lain. Salah satu terapi modern untuk mengatasi kanker yakni kombinasi kemo dan terapi radiasi. Selain itu, ada juga jenis kombinasi terapi kanker yang memadukan kemo dengan imunoterapi. Perpaduan jenis terapi ini dipercaya mempunyai hasil yang lebih maksimal.

Mengenal Imunoterapi dan Cara Kerjanya

Imunoterapi merupakan cabang ilmu biomedis yang secara luas mencangkup segala hal mengenai sistem imun. Penerapan dari imunoterapi ini sangatlah luas, mulai dari cara kerja, malfungsi, karakter serta peranan fisiologis sistem imun itu sendiri. Imunoterapi kini juga mengerucut pada metode penyembuhan penyakit tertentu dalam tubuh.

Imunoterapi merupakan terapan dari ilmu biomedis yang menggunakan imun sebagai upaya penyembuhan penyakit kanker. Cara kerja imunoterapi ini tentunya mempunyai perbedaan dibandingkan penanganan kanker menggunakan kemoterapi ataupun terapi radiasi. Imunoterapi tidak hanya fokus menghancurkan sel kanker dalam tubuh saja, tapi lebih fokus pada upaya menambah sistem kekebalan tubuh itu sendiri.

Penerapan Kemoterapi dan Imunoterapi untuk Atasi Kanker

Jika sebelumnya kita telah membahas bahwa kemoterapi adalah upaya menghancurkan atau menahan laju pertumbuhan sel kanker. Sedangkan imunoterapi adalah upaya penanganan kanker dengan menguatkan sistem kekebalan tubuh itu sendiri sehingga sel kanker bisa dibersihkan secara perlahan. Dua upaya penanganan kanker ini tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri.

Ada jenis penyakit kanker yang lebih sesuai menggunakan penanganan kemoterapi. Namun ada pula yang lebih susuai menggunakan imunoterapi karena beragam alasan. Tentunya keputusan mengenai cara mana yang akan dipilih merupakan hasil rekomendasi dokter ahli. Umumnya dokter akan lebih mengetahui mana proses yang paling sesuai untuk pasien kanker. Selain jenis penyakit kanker yang diderita, pertimbangan lain seperti kondisi fisik maupun riwayat penyakit juga menjadi pertimbangan sebelum memilih penanganan penyembuhan kanker.

Penelitian menemukan metode baru, yakni menggabungkan kemoterapi dan imunoterapi. Di Providence Cancer Center bahkan telah melakukan riset. Hasilnya cukup memuaskan ketika menggabungkan kemoterapi dan imunoterapi. Pasien penderita kanker memperoleh hasil yang lebih maksimal dibandingkan jika melakukan salah satu terapi saja.

Perpaduan Perawatan Kanker dengan Inovasi Terbaru (Radiasi, Kemoterapi, dan Imunoterapi)

Untuk menangani kanker, anda tidak hanya bisa memilih satu satu dari jenis penanganan. Tidak hanya kemoterapi, imunoterapi dan penggabungan keduanya saja. Jenis terapi radiasi juga lumayan menjanjikan untuk membersihkan sel kanker. Yang perlu anda perhatikan yakni ketepatan terapi dengan hasil yang didapatkan nantinya. Berikut ini perpaduan perawatan kanker dengan beragam inovasi terbaru.

1. Perpaduan Imunoterapi dengan Radiasi

Seorang ilmuwan, Dr. Kristina Young melakukan riset terhadap penerapan dari perpaduan imunoterapi dengan terapi radiasi membuahkan hasil yang lebih maksimal. Penggabungan imunoterapi yang disebut sebagai inhibitor TGF-beta ini apabila disatukan dengan terapi radiasi dapat membuat perawatan semakin membaik. Cara kerja perpaduan imunoterapi dan radiasi yakni dengan hilangnya sel yang dapat mencegah radiasi aktif sehingga nantinya akan membuat sel kekebalan anti kanker semakin menguat. Pada riset ini, Dr Kritina Young melibatkan penderita kanker rektum stadium II hingga III yang memang membutuhkan terapi radiasi dan kemoterapi.

2. Perpaduan Kemoterapi dengan Imunoterapi

Dalam istilah imunoterapi, protein yang bertugas menghambat jaringan meradang ataupun sel kanker dikenali oleh sel T disebut sebagai PD-1. Dalam penerapan imunoterapi untuk penderita kanker, para ilmuwan menggunakan antibodi yang menghambat PD-1. Antibodi ini disebut sebagai anti PD-1.

Uji klinis yang dilakukan oleh pakar onkologi melakukan perpaduan kemoterapi dengan imunoterapi pada kanker payudara. Proses penyembuhan kanker dengan kemoterapi akan membunuh dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Sedangkan imunoterapi akan mengenali sisa peradangannya, sehingga sel – sel kanker yang masih tersisa bisa dibersihkan secara tuntas.

3. Perpaduan Imunoterapi dan Radiasi

Memadukan imunoterapi dengan radiasi sebagai upaya penanganan penyakit kanker diteliti tidak hanya berhadil mengecilkan tumor, namun berguna juga untuk memaksimalkan penanganan kanker. Terapi radiasi atau SBRT berfungsi membersihkan sel kanker, sedangkan imunoterapi berfungsi sebagai pemicu meningkatnya reaksi sistem imun tubuh dalam menghadapi sel – sel kanker dalam tubuh itu sendiri.

Cara Kerja Kemoterapi dan imunoterapi dalam Membasmi Sel Kanker

Kemoterapi menggunakan racikan obat – obatan tertentu yang mempunyai cara kerjanya masing – masing. Terdapat obat kemo yang membunuh sel kanker maupun sel sehat atau hanya membunuh sel kanker. Ada pula jenis obat kemo yang menghambat laju pertumbuhan sel kanker dengan cara menjauhkannya dari pembuluh darah yang tumbuh. Sedangkan imunoterapi lebih berfokus pada upaya peningkatan sistem imun dalam tubuh. Sehingga sel – sel kanker dapat terkikis perlahan. Tentu saja jenis perawatan ini membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan kemoterapi.

Meskipun kemoterapi bisa membersihkan sel kanker dalam tubuh, namun tidak bisa dipungkiri kesempatan sel kanker tumbuh kembali dikemudian hari tetap ada. Untuk mengatasi masalah ini, ilmuwan mulai menerapkan terapi kombinasi yang terdiri dari penggabungan kemoterapi dan imunoterapi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan hasil perawatan yang lebih maksimal. Setelah sel – sel kanker dibersihkan melalui kemoterapi, pasien juga menjalani imonuterapi supaya sisa – sisa sel kanker tidak bisa tumbuh kembali dikemudian hari.

Kemoterapi dan imunoterapi Efektif Tingkatkan Harapan Hidup Pasien Kanker

Penggabungan kemoterapi dan imunoterapi sangat tepat dijalani oleh penderita kanker paru – paru. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kanker Perlmutter New York. Dalam uji klinis tersebut ditelaah mana jenis perawatan yang paling tepat untuk penderita kanker paru – paru. Hasilnya ialah kombinasi kemoterapi dan radiasi untuk membunuh sel – sel kanker.

Perawatan tambahan lainnya yakni dengan imunoterapi yang mampu meningkatkan harapan hidup pasien. Risiko kematian dapat berkurang sebanyak 51% jika pasien penderita kanker paru – paru menjalani pengobatan pembrolizumab, platinum dan pemetrexed. Dengan menurunnya kemungkinan perkembangan sel kanker, maka harapan hidup pasien dapat meningkat.

Mengapa Perpaduan Kemoterapi dan imunoterapi Bisa Dapatkan Hasil Lebih Maksimal?

Penyembuhan kanker dengan menggabungkan kemoterapi dan imunoterapi dinilai mempunyai dampak yang lebih maksimal. Melakukan pendekatan dengan keduanya secara tidak langsung akan membuahkan efek yang berlipat ganda. Terlebih setelah kemoterapi dinyatakan berhasil, tidak sedikit sel – sel yang ikut mati dan meninggalkan protein. Dalam kondisi ini, apabila pasien juga menjalani imunoterapi maka sistem imun tubuh akan kembali aktif.

Sistem kekebalan tubuh inilah yang akan membunuh sisa – sisa sel kanker pasca kemoterapi. Dengan begitu, kemungkinan sel kanker akan tumbuh kembali dikemudian hari bisa diminimalisasi. Meskipun kemoterapi dan imunoterapi sangat masif membunuh sel kanker, namun tidak semua pasien bisa menggunakan gabungan perawatan jenis ini karena beragam alasan medis. Penanganan penyakit kanker mempunyai perbedaan antar satu pasien dengan pasien lainnya.

Efek Samping Proses Penyembuhan Kanker dengan Kemoterapi dan imunoterapi

Jenis perawatan paling mutakhir pun pastinya akan memunculkan efek samping bukan? terlebih untuk penyakit yang tergolong berat seperti kanker. Umumnya pasien yang menjalani terapi kombinasi ini akan mengalami rasa mual, kurang darah atau anemia, tubuh lemah, hingga yang paling parah yakni berisiko mengalami cidera ginjal yang akut. Sedangkan ciri – ciri fisik yang nampak yakni rontoknya rambut pasien.

Sedangkan efek samping menjalani imunoterapi untuk meningkatkan sistem imun tubuh biasanya akan mengalami gejala yang mirip dengan flu yakni demam, lemas dan menggigil. Dampak yang lebih parah yakni pembengkakan tubuh akibat cairan ekstra, jantung berdebar, hingga diare.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker di Penang