Category Archives: Pengobatan Medis

Menjaga Stamina Saat Kemoterapi

Tips Menjaga Stamina Saat Kemoterapi Agar Prosesnya Tidak Terputus

Kemoterapi adalah pengobatan penyakit kanker yang harus dilakukan berulang-ulang. Maka dari itu yang akan menjalaninya harus selalu menjaga stamina agar proses kemoterapi bisa terus dijalankan.

Proses ini bisa berlangsung sampai dengan 6 atau 8 kali. Semua prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus tanpa terputus. Jika tidak akan fatal akibatnya.

Oleh karena itu, dianjurkan pasien yang akan menjalani kemoterapi lanjutan harus menjaga stamina dengan cara mengonsumsi makanan, minuman, dan lakukan gaya hidup yang sehat.

Kemoterapi Terputus

Jumlah penderita penyakit kanker yang ada di Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Namun jumlah rumah sakit kanker yang ada hanya satu buah, yaitu Rumah Sakit Kanker Dharmais yang ada di daerah Slipi, Jakarta Barat.

Jumlah pasien yang diobati dan menjalani kemoterapi di rumah sakit tersebut sejak tahun 2014 semakin banyak. Oleh karena adanya program jaminan kesehatan nasional.

Dengan seperti ini maka rumah sakit harus benar-benar memperhatikan para pasien yang akan menjalani kemoterapi. Selain itu pasiennya sendiri juga harus bisa menjaga staminanya setelah menjalani kemoterapi agar proses kemoterapi tidak terputus.

Ada jangka waktu tertentu untuk melakukan kemoterapi dari yang pertama sampai kemoterapi selanjutnya. Jika kemoterapi pertama telah dilakukan maka pasien harus menunggu sampai dengan 3 minggu supaya terjadi perkembangan sel baru. Sesudah itu baru menjalani tahap kedua.

Hal ini akan terus terjadi sampai dengan siklus ke-8. Siklus ini jangan sampai terputus, jika terputus maka nanti pasien harus mengulangi lagi kemoterapi mulai dari siklus pertama.

Selain kemoterapi ada juga terapi sinar yang akan diberikan kepada pasien sebanyak 5 kali dalam seminggu. Setiap kali pasien harus menerima sinar sebanyak 200 rad jadi total jumlah sinar yang harus diterima adalah 6600 sampai 7200 rad. Terapi ini pun harus kembali lagi ke tahap awal apabila terputus.

Kenapa Harus Diulang Dari Awal?

Sel kanker yang sudah ada di dalam tubuh akan tumbuh dengan sangat cepat. Sel-sel tersebut bisa menyebar ke seluruh tubuh dan menggerogoti sel yang masih sehat. Jika tidak diobati maka tubuh pasien akan cepat dirusak oleh sel tersebut.

Makanya tidak boleh ada yang namanya kemoterapi yang terputus agar sel kanker tidak terlalu banyak menyebar. Kemoterapi bisa memberikan efek yang negatif kepada tubuh seperti rambut rontok mual, dan muntah kelelahan infeksi anemia dan masih banyak lagi.

Salah satu cara untuk mencegah atau mengurangi hal tersebut adalah pasien harus menjaga stamina ketika sedang menjalani kemoterapi. Apabila stamina tidak baik maka proses kemoterapi ini bisa saja terputus karena adanya gangguan di dalam diri pasien sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan proses kemoterapi.

Jaga Stamina dengan Mengonsumsi Banyak Nutrisi

Ketika melakukan kemoterapi berbagai efek mungkin muncul di tubuh pasien. Seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, diare, sembelit, sariawan, dan lain sebagainya.

Jika demikian maka pasien harus mengkonsumsi banyak nutrisi yang dihasilkan dari makanan-makanannya. Apabila efek negatif tersebut terjadi dalam tubuh dan membuat pasien menjadi sangat lemas mungkin tidak bisa melanjutkan proses kemoterapi. Harus menunggu sampai keadaannya membaik.

Supaya tidak ada kendala kesehatan maka pasien harus mengonsumsi berbagai makanan yang dianjurkan. Jadinya tubuh akan lebih fit.

Berikut ini informasi mengenai kiat pola makan agar nutrisi tubuh pasien kanker terpenuhi.

Mual dan Muntah

Efek ini akan terjadi hampir pada separuh dari jumlah pasien yang melakukan kemoterapi. Supaya gejala ini tidak terjadi biasanya onkologi akan memberikan resep anti muntah. Meskipun memang gejalanya sudah reda tapi obat tersebut harus terus diminum supaya tidak kambuh kembali.

Selain memanfaatkan obat tentu saja pola makan juga harus diatur. Maka dari itu pasien kemoterapi harus melakukan diet dengan mengikuti pola makan sebagai berikut.

  • Makan makanan yang kering setiap hari seperti roti panggang dan biskuit.
  • Sebelum kemoterapi dilakukan maka pasien harus makan.
  • Harus makan makanan yang lembut, lunak, dan mudah dicerna.
  • Setiap hari harus minum secara perlahan-lahan.
  • Sesudah makan maka tubuh bagian atas harus dinaikkan selama 1 jam sambil berbaring atau duduk tegak.
  • Sebelum dan sesudah makan harus berkumur dulu.
  • Hisap permen menthol, es batu, atau permen yang keras agar mulut pasien tetap segar.

Sedangkan makanan-makanan atau minuman yang harus dihindari antara lain, makanan yang berminyak dan digoreng, makanan pedas dan panas, makanan yang mengandung gula dan manis sekali, makanan yang berkuah, makanan besar, makanan yang aromanya kuat sekali, berbaring sesudah makan minum, dan makan terlalu cepat serta minum sambil makan.

Hilang Nafsu Makan

Gejala ini juga sangat umum terjadi ketika pasien sedang kemoterapi. Penyebabnya adalah perkembangan dari sel kanker maupun kemoterapi yang dilakukan. Jika kemoterapi adalah penyebabnya maka gejala ini akan hilang dengan sendirinya ketika pengobatan telah selesai.

Agar tidak mengalaminya maka pasien harus berusaha makan dengan sangat baik setiap harinya selama pengobatan kanker dilakukan. Beberapa kiat makan yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Harus merencanakan menu sehari-hari sejak jauh hari sebelumnya.
  • Sepanjang hari harus makan 6 buah makanan kecil secara reguler.
  • Per hari setidaknya harus makan makanan yang mengandung energi dan protein yang tinggi.
  • Selalu menyediakan makanan ringan.
  • Ketika sarapan harus makan makanan yang mengandung sepertiga dari jumlah kebutuhan kalori.
  • Coba makanan baru supaya tidak bosan.
  • Makan makanan yang aroma dan rasanya menarik.

Diare

Siklus buang air besar pasien selama masa kemoterapi bisa terpengaruh. Dokter bisa saja memberikan obat anti diare kepada Anda. Namun Anda juga harus melakukan diet ketat sendiri supaya gejala yang timbul akan menjadi lebih baik.

Pola makan yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Hindari sayuran krusifera seperti kembang kol, brokoli, dan kubis.
  • Harus mengonsumsi makanan yang dapat menggantikan kalium dan garam yang hilang. Antara lain makanan dengan kaldu, minuman elektrolit, sup, pisang sampai buah-buahan kaleng.

Sedangkan untuk makanan yang patut dihindari antara lain makanan pedas dan panas, makanan yang digoreng atau berminyak, makanan penutup yang berat, minuman dingin atau panas, biji-bijian, kacang-kacangan, buah kering, minuman yang mengandung susu, dan minuman berkafein seperti cola, teh, kopi, dan cokelat.

Sariawan

Apabila sariawan terjadi maka bisa saja menyebabkan adanya darah dan infeksi jadi membuat pasien akan mengalami kesulitan makan. Pola makan yang harus dijalani supaya terhindar atau mengurangi efeknya adalah sebagai berikut.

  • Makan makanan yang lunak, seperti bubur atau makanan cair agar pengunyahan bisa dikurangi.
  • Jangan makan makanan yang menggunakan bahan tomat, dan jeruk.
  • Hindari makanan yang kasar, berat, dan kering misalnya roti panggang, kerupuk, sayuran mentah, dan lain sebagainya.
  • Jangan makan makanan yang asam seperti acar cuka dan lain sebagainya.
  • Jangan makan yang asin dan pedas.
  • Makan makanan yang banyak mengandung protein dan kalori. Lebih baik jika ditambah dengan suplemen nutrisi.

Demikianlah informasi mengenai tips menjaga stamina saat kemoterapi agar prosesnya tidak terputus. Harap ikuti saran ini agar kemoterapi berjalan lancar.

Baca artikel lain mengenai Ciri-Ciri Kanker Serviks

Dokter Kanker Terbaik

Dokter-dokter Kanker Terbaik dari Malaysia dan Singapura

Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh ketidaknormalan pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang lama-kelamaan berubah menjadi sel kanker yang dapat menyebar ke bagian-bagian tubuh lain dan jika didiamkan dapat menyebabkan kematian. Biasanya, penderita kanker tahap awal tidak merasakan gejala apapun, tetapi baru merasakannya saat kanker tersebut sudah memasuki stadium lanjut.

Kebanyakan orang menganggap bahwa kanker adalah tumor, padahal tidak semua tumor dapat dikatakan sebagai kanker. Tumor memiliki pengertian benjolan abnormal pada tubuh dan digolongkan menjadi dua jenis, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor ganas inilah yang disebut dengan kanker.

Pengobatan Kanker dengan Kemoterapi

Salah satu pengobatan penyakit kanker yang umum dilakukan adalah dengan kemoterapi. Pengobatan ini menggunakan obat-obatan khusus yang dapat memperlambat, menghentikan, dan menghancurkan pertumbuhan sel-sel kanker yang menyerang bagian-bagian tubuh. Selain itu, kemoterapi juga dapat digunakan oleh penderita kanker yang membutuhkan terapi kombinasi, seperti berikut ini.

1. Kemoterapi neo-ajuvan

Kemoterapi ini digunakan untuk mengecilkan tumor sebelum penderita melakukan bedah pengangkatan tumor.

2. Kemoterapi ajuvan

Kemoterapi ini digunakan oleh penderita kanker hanya sebagai terapi lanjutan, baik untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker setelah bedah pengangkatan tumor ganas maupun untuk terapi radiasi.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh tenaga medis dalam pemberian kemoterapi ini, antara lain dengan suntikan melalui pembuluh darah vena (intra-vena/IV), suntikan melalui rongga perut (intra-peritonial/IP), suntikan melalui pembuluh darah arteri (intra-arteri/IA), dengan diminum (oral), atau dengan obat oles (topikal).

Onkolog sebagai Dokter Spesialis Kanker

Dokter yang khusus menangani penyakit kanker disebut dengan onkolog dan ilmu yang mempelajari segala hal tentang kanker disebut dengan onkologi. Onkolog dibagi menjadi tiga, yaitu onkolog bedah yang fokus pada pembedahan, onkolog medis yang fokus pada pengobatan seperti kemoterapi, dan onkolog radiasi yang fokus pada terapi radiasi.

Onkolog yang lebih sering berhubungan dengan penderita kanker adalah onkolog medis karena melakukan pemeriksaan, mendiagnosis, berdiskusi dengan penderita tentang langkah-langkah yang harus dilakukan, mengatur dan mengawasi proses pengobatan, dan memantau kondisi penderita pasca-pengobatan.

Referensi Onkolog Medis di Malaysia dan Singapura

Tidak jarang penderita kanker berobat ke luar negeri, khususnya Malaysia dan Singapura, karena peralatan yang lebih canggih dan pelayanan yang lebih baik. Berikut ini adalah beberapa onkolog medis yang dapat dijadikan referensi.

Onkolog Medis Malaysia

Salah satu negara yang menjadi negara tujuan berobat bagi penderita kanker adalah Malaysia. Berikut ini adalah onkolog yang dapat dijadikan referensi berobat.

1. Christina Ng Van Tze

Dr. Christina Ng Van Tze adalah dokter spesialis onkoligi di Sunway Medical Centre Kuala Lumpur dan Pantai Hospital Kuala Lumpur yang fokus menangani kanker ganas pada lambung dan usus, kanker kolorektal, kanker paru-paru, kanker payudara, dan terapi sistemik untuk berbagai jenis kanker. Sub-spesialis yang beliau geluti meliputi spesialisasi diagnosis dan penyembuhan kanker dengan kemoterapi, terapi hormone (hormonal therapy), terapi tertarget (targeted therapy), dan immunotherapy.

Onkologi media wanita ini menempuh pendidikan di University of Melbourne, Australia, dan mendapatkan gelar Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS) pada 1992. Kemudian, melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar Felloship of the Royal Australasian College of Physicians pada 2002 di Australia. Pada 2007, beliau mendapatkan penghargaan sebagai Honorary Consultant to Clinical Research Center, Ministry of Health, Malaysia.

2. Joseph K. Joseph

Dr. Joseph K. Joseph adalah dokter spesialis onkologi di Sunway Medical Centre Kuala Lumpur yang fokus menangani kemoterapi sistemik dan terapi kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker saluran cerna. Selain itu, beliau juga melakukan pendekatan integrative dengan melibatkan ukuran gaya hidup dan memberikan terapi gratis bagi penderita kanker stadium lanjut.

Beliau menempuh pendidikan di Royal College of Surgeons, Dublin, Irlandia, pada 1988. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar MRCP di Royal College of Physicians, Inggris; mendapatkan sertifikat kompetensi untuk Onkologi Medis dari European Society of Medical Oncology; dan mendapatkan gelar Spesialis Terakreditasi Onkologi Medis dan Penyakit Dalam di Malaysian Medical Council.

Onkolog Medis Singapura

Selain sebagai destinasi wisata, Singapura juga menjadi salah satu negara tujuan untuk berobat, seperti pengobatan kanker. Di sana, banyak rumah sakit dengan peralatan canggih yang digunakan untuk mengobati salah satu penyakit mematikan ini.

1. Ang Cher Siang Peter

Dr. Ang Cher Siang Peter adalah dokter spesialis onkologi medis di Parkway Hospital Singapore, Mount Elizabeth Medical Centre, dan Gleneagles Medical Centre Singapore yang fokus menangani kanker kolorektal, kanker paru-paru, dan kanker payudara. Selain itu, beliau juga menjadi Anggota Royal College of Physicians di Inggris. Keahliannya ini beliau tuangkan dalam buku berjudul “Illustrative Cases in Breast Cancer” pada 2006.

Beliau menempuh pendidikan di National University of Singapore dan mendapatkan gelar Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS) pada 1991. Pada 1997, beliau melanjutkan pendidikan dan mendapatkan gelar Master in Medicine di universitas yang sama. Sebelum membuka praktik sendiri, beliau pernah menjadi Konsultan Senior di Departemen Onkologi Medis Pusat Kanker Nasional, dokter utama untuk program kanker payudara, dan Direktur Pendidikan Kanker.

2. Lim Hong Liang

Dr. Lim Hong Liang adalah dokter spesialis onkologi medis di Parkway Cancer Centre dan Mount Elizabeth Medical Centre Singapura yang fokus menangani kanker kepala, kanker leher, dan kanker paru-paru. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Hematologi dan Onkologi serta Ketua Asosiasi dari Medical Board di National university Hospital; pemimpin ahli onkologi medis di Klinik Tumor Paru-Paru, Tan Tock Seng Hospitas; dan kepala bagian Onkologi Torasik bagian Kepala dan Leher dan Program Transplantasi Sumsum Tulang di National University Hospital.

Beliau menempuh pendidikan di National University Hospital pada 1986 dan mendapatkan gelar Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS). Pada 1992, onkolog senior berpengalaman ini mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Department of Thoracic Oncology di Tokyo National Cancer Centre Jepang, dari Japan JICA. Pada 1995, beliau juga mendapatkan beasiswa untuk mendalami kemoterapi dosis tinggi dan transplantasi sumsum tulang di St. Vincent’s Hospital Sydney, Australia, dari Departemen Kesehatan Singapura.

3. Tay Miah Hiang

Dr. Tay Miah Hiang adalah dokter spesialis onkologi medis di Gleneagles Medical Centre Singapore, Mount Elizabeth Medical Centre, dan Mount Alvernia Hospital Singapore yang fokus menangani kanker ginjal dan kanker prostat. Beliau membagikan ilmunya dengan menulis beberapa bab di dalam beberapa buku, seperti buku teks komprehensif “Genitourinary Oncology” edisi ke-3, “Panduan Lengkap Kanker Amerika untuk Kanker Prostat” pada 2006, dan buku pelajaran tentang Urologic Oncology pada 2004.

Beliau menempuh pendidikan di National University of Singapore dan mendapatkan gelar Master of Medicine pada 1992; mendapatkan beasiswa Program Pengembangan Tenaga Kerja Departemen Kesehatan pada 2003 di Dana Farber Cancer Institute, Boston, Amerika; dan menyelesaikan Program Pengobatan Kanker dan Hematologi pada 2003 di Harvard Medical School, Boston, Amerika. Pada 2006, Dr. Tay Miah Hiang pernah mendapatkan Penghargaan Emas Pelayanan Terbaik dan pada 2007, pernah mendapatkan penghargaan Star Award.

Itulah beberapa onkolog di Malaysia dan singapura yang dapat dijadikan referensi berobat bagi penderita kanker. Sebelum berobat ke luar negeri, alangkah baiknya jika penderita kanker beserta keluarga mempelajari, merundingkan, dan mempertimbangkan segala hal yang diperlukan.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Binahong untuk Kanker

Dokter Onkologi

Dokter-dokter Onkologi Medis di Indonesia yang dapat Dijadikan Referensi

Penyakit kanker memang menjadi salah satu penyakit mematikan di dunia setelah penyakit radiovaskular, seperti penyakit jantung dan penyakit stroke. Penyakit kanker memang menjadi penyakit yang menakutkan sebab para penderita kanker baru menyadari penyakit ini saat sudah memasuki stadium lanjut yang membuat pengobatannya memakan jangka waktu yang lama dan harapan untuk sembuhnya kecil. Berdasarkan hal inilah, pihak kedokteran harus memberikan perhatian khusus pada penyakit kanker.

Banyak faktor yang menjadi pencetus seseorang menderita penyakit kanker, misalnya menjalani pola hidup yang tidak sehat, tidak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, faktor genetik, dan kurang berolahraga. Jumlah penderita kanker terus meningkat setiap tahun, tetapi sayangnya kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah dokter yang khusus menangani penyakit kanker. Di Indonesia, jumlah dokter yang khusus menangani penyakit kanker terhitung masih minim dan kebanyakan dari dokter tersebut berpusat di Pulau Jawa.

Bidang Onkologi

Dokter yang khusus menangani penyakit kanker disebut dengan onkolog, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang penyakit kanker secara khusus disebut dengan onkoligi. Untuk menangani seorang penderita kanker, terkadang diperlukan lebih dari satu onkolog. Secara klinis, onkolog dibagi menjadi tiga bidang, yaitu onkolog bedah, onkolog medis, dan onkolog radiasi.

  1. Onkolog bedah adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan pembedahan, seperti reseksi bedah tumor, biopsy, dan stadium.
  2. Onkolog medis adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan pengobatan, seperti kemoterapi.
  3. Onkolog radiasi adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan radiasi terapeutik.

Dari ketiga onkolog tersebut, onkolog yang lebih banyak berhubungan dengan penderita kanker adalah onkolog medis karena akan memeriksa, mendiagnosis, dan memberikan rekomendasi tentang penanganan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan si penderita, seperti bekerja sama dengan bidang onkologi lainnya. Peran onkolog medis cukup besar, mulai dari melakukan diagnosis penyakit kanker, melakukan diskusi tentang langkah-langkah penanganan yang akan dilakukan, mengatur dan mengawasi jalannya pengobatan, hingga merawat kondisi penderita kanker pasca-penanganan.

Pilihlah Onkolog yang Tepat

Setelah mendapatkan hasil diagnosis melalui pemeriksaan fisik, pemeriksaan sampel biopsi, tes darah dengan penanda kanker, endoskopi, rontgen, CT scan, USG, atau MRI dan dinyatakan positif terkena kanker, langkah yang harus dilakukan oleh penderita kanker adalah memilih onkolog yang tepat. Pemilihan ini harus dilakukan dengan cepat dan sungguh-sungguh agar pengobatannya dapat dilakukan secepat mungkin.

Penderita kanker harus memilih onkolog yang sudah berpengalaman dalam menangani jenis kanker yang diderita, sudah mengikuti banyak pelatihan, sudah mengantongi sertifikat onkolog, sudah melakukan penelitian, dan menerbitkan artikel tentang perkembangan terbaru pengobatan kanker. Selain itu, mencari onkolog yang enak diajak berdiskusi juga menjadi hal yang penting karena penderita dan onkolog akan terus berhubungan selama pengobatan berlangsung.

Referensi Onkolog Medis di Indonesia

Setiap bidang onkolog memiliki fokus penanganan kanker yang berbeda, seperti penanganan yang fokus dilakukan oleh onkolog medis. Onkolog medis lebih fokus pada penanganan kanker dengan pengobatan, seperti kemoterapi. Kemoterapi adalah metode pengobatan penyakit kanker yang umum dilakukan dengan menyuntikkan berbagai obat ke dalam tubuh untuk menghentikan dan membunuh sel-sel kanker serta mencegah sel-sel tersebut kembali.

Jumlah onkolog medis di Indonesia memang masih sedikit dan kebanyakn berpusat di Pulau Jawa. Meskipun demikian, ada beberapa onkolog medis yang dapat dijadikan referensi oleh penderita kanker berdasarkan pengalaman masing-masing.

1. Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM

Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM adalah salah satu dokter spesialis kanker darah. Selain sebagai dokter spesialis, beliau juga menjabat sebagai Kasubag Hematologi-Onkologi Medis Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Beliau juga pernah menjadi Tim Dokter Kepresidenan RI pada 1982 dan menjadi salah satu pendiri Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1963, dokter yang praktik di Rumah sakit Kanker Dharmais ini mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan gelar Spesialis Ilmu Penyakit Dalam pada 1963-1969. Setelah itu pada 1969-1970, beliau mengikuti Pendidikan Hematologi di St. Louis Hospital, L’Universite de Paris, Perancis. Pada 1978, beliau mengikuti Postgraduate Training di St. Bartholomew’s Hospital, London, Inggris, dan pada 1984, beliau mendapatkan gelar Doktor Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2. Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD, KHOM

Sama seperti Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD, KHOM adalah dokter spesialis kanker darah. Beliau membuka praktik di tiga rumah sakit di Jakarta, yaitu MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Rumah Sakit Islam Jakarta, dan Rumah sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Pada 1985, dokter kelahiran Bandung ini meraih gelar Dokter dari Kedokteran Umum Universitas Indonesia. Pada 1995, beliau melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Indonesia dan pada 2006, beliau mendapatkan gelar sebagai Konsultan Hematologi Onkologi Medik dari Universitas Indonesia.

3. Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, FINASIM

Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, FINASIM adalah dokter spesialis kanker darah yang membuka praktik di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Dokter kelahiran Washington DC ini menyelesaikan pendidikannya di Kedokteran Umum Universitas Indonesia pada 1976, melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia untuk menjadi Spesialis Penyakit Dalam pada 1986, dan melanjutkan pendidikan di universitas yang sama pada 1995 untuk menjadi Konsultan Hematologi Onkologi Medik.

4. Dr. dr. Laila Nuranna, Sp.OG, K.Onk

Dr. dr. Laila Nuranna, Sp.OG, K.Onk adalah dokter spesialis kanker obstetrik dan ginekologi yang membuka praktik di Rumah Sakit Medistra dan RSIA Bunda Jakarta. Selain sebagai Sekretaris dan Instruktur Kursus Pendidikan Ahli Kolposkopi Perhimpunan Patologi Serviks dan Kolposkopi Indonesia (PPSKI), dokter yang lahir di Surabaya ini juga menjadi anggotaAsen-Oceanian Clinical Oncology Association dan anggota Internasional Gynaecological Cancer Society.

Pada 1979, beliau lulus sebagai dokter umum dari Kedokteran Umum Universitas Indonesia dan pada 1986, beliau menjadi Spesialis Obstetri dan Ginekologi di universitas yang sama. Pada 1988, beliau melanjutkan pendidikan Onkologi Ginekologi di Academisch Ziekenhuiz Groningen, Belanda.

5. Apolorida Situmorang

Selain keempat dokter onkologi di atas, ada perawat wanita spesialis onkologi medis (kemoterapi) di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Sumatera Utara, bernama Apolorida Situmorang atau yang akrab dipanggil Polo. Wanita kelahiran Tiga Lingga ini menjadi satu-satunya perawat wanita spesialis onkologi, khusus kemoterapi. Polo sempat menganggur setelah lulus dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Depkes RI pada 1988.

Setelah diterima bekerja di RSUP H. Adam Malik, Polo ditugaskan selama satu tahun di bagian Intensif Gawat Darurat (IGD), kemudian dipindahtugaskan ke bagian perawatan onkologi bedah. Pada 1999, Polo mengikuti pelatihan onkologi khusus kemoterapi di Rumah sakit Kanker Dharmais selama satu minggu. Setelah selesai menjalani pelatihan dan kembali ke RSUP H. Adam Malik, peraih gelar perawat spesialis onkologi ini dipercaya untuk menjadi perawat di bagian onkologi khusus kemoterapi hingga saat ini.

Kanker memang dapat menyerang siapa saja. Pencegahan dan pemeriksaan dini sangat diperlukan untuk mengetahui ada atau tidaknya sel-sel kanker yang berkembang di dalam tubuh. Jika terbukti adanya sel-sel kanker, segera hubungi dokter onkologi, seperti dokter-dokter onkologi di atas, agar segera dapat ditangani.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Binahong untuk Kanker