Category Archives: Pengobatan Medis

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Beberapa Obat Kemoterapi Kanker Serviks dan Efek Sampingnya

Kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang menakutkan bagi kaum wanita selain kanker payudara. Semua wanita tanpa batasan usia berisiko terkena penyakit ini. Tetapi, kanker serviks lebih cenderung menyerang para wanita yang aktif melakukan kegiatan seksual.

Kanker serviks bermula saat sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik, kemudian mengubah sel-sel normal menjadi sel-sel abnormal. Sel-sel yang normal akan berkembang dengan kecepatan tertentu, sedangkan sel-sel yang abnormal akan berkembang tanpa terkendali sehingga jumlahnya terus bertambah.

Sel-sel abnormal ini menjadi pemicu timbulnya sel kanker yang akan menyerang jaringan-jaringan tubuh di sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jika ini terjadi, penderita sudah memasuki kanker serviks stadium lanjut. Semakin besar stadiumnya, harapan hidup penderita kanker serviks semakin kecil.

Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks disebut juga dengan kanker leher rahim karena sel-sel kanker menyerang leher rahim para wanita yang berfungsi sebagai pintu masuk dari vagina menuju rahim. Kanker ini disebabkan oleh kumpulan virus bernama human papillomavirus atau HPV. Umumnya, virus ini ditularkan melalui hubungan seks dan dapat memicu timbulnya sel kanker serviks.

Jenis human papillomavirus ada yang tidak berbahaya dan ada yang berbahaya, seperti HPV 16 dan HPV 18, yang menjadi penyebab seorang wanita terjangkit kanker serviks. Saat virus ini masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi untuk mencegah virus tersebut melukai rahim. Tetapi bagi wanita dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, virus ini dapat menembus kekebalan tersebut dan bertahan selama bertahun-tahun hingga berubah menjadi sel kanker.

Vaksin untuk Mencegah Infeksi HPV

Untuk mengurangi angka penderita kanker serviks, pemerintah saat ini sudah menyediakan vaksin untuk mencegah seorang wanita terinfeksi HPV. Ada vaksin bivalen untuk HPV 16 dan HPV 18, vaksin kuadrivalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, dan HPV 18, serta vaksin nonavalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, HPV 18, HPV 31, HPV 33, HPV 45, HPV 52, dan HPV 58. Semua vaksin tersebut dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Gejala Kanker Serviks

Gejala kanker serviks biasanya tidak selalu tampak jelas, bahkan Si Penderita tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya terjangkit HPV. Penderita baru menyadarinya saat kanker serviks sudah memasuki stadium lanjut. Karena itulah, kaum wanita sangat dianjurkan untuk melakukan pap smear secara rutin sebagai langkah pencegahan berkembangnya sel kanker serviks.

Meskipun demikian, ada gejala-gejala yang dapat dijadikan alarm bahwa di dalam tubuh, mulai berkembang sel kanker serviks, antara lain terjadi pendarahan pada vagina di luar masa menstruasi, setelah berhubungan seks, dan setelah memasuki masa menopause; merasakan sakit setiap berhubungan seks; keluarnya cairan dari vagina tanpa henti berwarna cokelat, merah mudah, keruh, atau mengandung darah dengan bau yang menyengat; serta berubahnya siklus menstruasi tanpa sebab.

Penderita kanker serviks stadium lanjut akan mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis; merasakan nyeri pada tulang, punggung, dan pinggang; bermasalah saat buang air kecil karena ureter atau ginjal tersumbat; adanya darah dalam urin; hilangnya selera makan; pembengkakan pada salah satu kaki; serta merasakan sakit pada perut bagian bawah dan panggul.

Kemoterapi sebagai Pengobatan Kanker Serviks

Sebenarnya, ada banyak cara untuk mengobati kanker serviks, salah satunya adalah dengan kemoterapi. Kemoterapi kanker serviks adalah pengobatan yang dilakukan untuk mengurangi, merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker serviks yang berkembang dengan cepat dan tidak terkendali dengan menggunakan obat keras.

Obat-obatan keras kemoterapi tidak hanya mengurangi, merusak, dan membunuh sel-sel kanker serviks. Obat-obatan tersebut juga dapat merusak sel-sel normal dengan menimbulkan beberapa efek samping, seperti mual, muntah, sembelit, diare, rambut rontok, kehilangan nafsu makan, mudah terinfeksi karena kekebalan tubuh menurun, anemia, terjadi pendarahan,sariawan, merasa lemah dan lelah, kerusakan otot jantung dan ginjal, kesemutan, menurunnya periode menstruasi, serta infertilitas.

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Dalam kemoterapi kanker serviks, diperlukan obat-obatan yang memang dapat mengurangi,merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker. Obat-obatan tersebut ada yang digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan obat-obatan lainnya yang disebut dengan rejimen kemoterapi. Obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan adalah carboplatin, cisplatin, cyclophosphamide, fluororacil, ifosfamide, dan paclitaxel.

1. Carboplatin

Carboplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel kanker yang diberikan melalui pembuluh vena dengan cara menyuntikkannya selama 15 menit. Dosis yang diberikan bergantung pada berat badan, kondisi kedehatan, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Carboplatin tidak boleh diberikan lebih dari 4 kali seminggu.

Tetapi, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. Adapun penderita yang dilarang menggunakan carboplatin adalah penderita yang memiliki riwayat alergi terhadap senyawa yang mengandung platinum, memiliki tumor berdarah, mengalami pendarahan yang cukup hebat, mengalami kerusakan ginjal, sedang menggunakan vaksin demam kuning, dan menderita myelosupresi (penekanan sumsum tulang) berat. Wanita hamil dan ibu menyusui juga dilarang menggunakan carboplatin.

Menggunakan carboplatin akan memberikan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, kulit memerah, kehilangan nafsu makan, mudah merasa lelah, sulit bernapas, kulit pucat, sulit berkonsentrasi, detak jantung tidak beraturan, mudah mengalami pendarahan, sakit kuning, sakit perut, demam, luka di mulut dan tenggorok, urin dan fases berwarna gelap, mengalami masalah pada penglihatan dan pendengaran, serta mati rasa pada tangan dan kaki.

2. Cisplatin

Cisplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan karena dapat menghambat atau menghentikan perkembangan sel kanker. Obat ini diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi terhadap pengobatan tersebut. Sebaiknya, cisplatin diberikan tidak lebih dari 3-4 minggu sekali dan harus diimbangi dengan asupan cairan yang banyak sehingga penderita akan sering buang air kecil.

Sama seperti carboplatin, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. adapun penderita yang dilarang menggunakan cisplatin adalah wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, memiliki riwayat alergi, sedang melakukan pengobatan penyakit lain, menderita penyakit ginjal, serta menderita gangguan sel darah, gangguan pendengaran, gangguan fungsi tulang sumsum, dan gangguan keseimbangan mineral.

Menggunakan cisplatin akan memberikan efek samping berupa kehilangan nafsu makan, mual, muntah, rambut rontok, diare, kehilangan keseimbangan, menurunnya fungsi indera perasa, nyeri sendi, pusing, fungsi refleks menurun, penglihatan terganggu, fases berwarna gelap disertai darah, demam, dan mati rasa.

3. Cyclophosphamide

Cyclophosphamide adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan pertumbuhan serta penyebaran sel kanker dengan cara diminum. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut, dan pengobatan lain yang dilakukan.

Wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, penderita dengan riwayat alergi, penderita yang pernah atau sedang menjalani radioterapi dan terapi sitostatika, serta penderita diabetes, cacar air, gangguan ginjal, gangguan kardiovaskular, gangguan hati, dan gangguan fungsi sumsum tulang dilarang menggunakan obat ini.

Menggunakan cyclophosphamide akan menimbulkan efek samping berupa diare, mual, muntah, rambut rontok, sakit perut, ruam kulit, warna kulit dan kuku berubah, kehilangan nafsu makan, berhentinya periode menstruasi, lemas, kesulitan bernapas, kejang, berhalusinasi, urin dan fases mengandung darah, pendarahan, sariawan, sakit saat buang air kecil, pembengkakan pada tangan atau kaki, pneumonia, serta sakit kuning.

4. Paclitaxel

Paclitaxel adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan petumbuhan sel kanker dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Paclitaxel dapat diberikan setiap tiga minggu sekali selama lebih dari tiga jam, dua minggu, atau seminggu sekali selama satu jam dengan dosis rendah.

Wanita hamil, ibu menyususi, anak-anak, penderita yang memiliki riwayat alergi, dan penderita yang sedang menjalani pengobatan lain dilarang untuk menggunakan obat kemoterapi ini.

Menggunakan paclitaxel akan menimbulkan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, diare, nyeri sendi, sariawan, pusing, mati rasa, mudah mengantuk, tangan atau kaki seperti terbakar, anemia, mudah lelah, mudah terkena infeksi, mengalami tekanan darah rendah, mengalami gangguan kognitif, infertilitas, serta meningkatkan risiko pembekuan darah.

Kanker serviks memang menjadi penyakit yang sangat menakutkan bagi kaum wanita. Agar terhindar dari penyakit ini, kaum wanita sangat dianjurkan untuk menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, rajin mengonsumsi air putih, rajin berolahraga, dan istirahat yang cukup.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Pepaya untuk Kanker

Obat Kemoterapi Kanker Payudara

Obat Kemoterapi Kanker Payudara Stadium Awal, Stadium Lanjut, dan HER2 Positif

Kanker payudara memang menjadi momok yang sangat menakutkan. Tidak hanya menyerang kaum wanita, kanker jenis ini dapat menyerang kaum pria karena juga memiliki jaringan payudara meskipun tidak sebesar kaum wanita. Kanker payudara terjadi jika sel-sel di dalam jaringan payudara tumbuh secara abnormal dan membelah diri dengan cepat sehingga membentuk benjolan.

Gejala-Gejala Awal Kanker Payudara

Kebanyakan penderita kanker payudara tidak menyadari gejala-gejala yang terjadi. Mereka baru menyadarinya setelah kanker ini memasuki stadium lanjut. Adapun gejala-gejala awal kanker payudara adalah sebagai berikut.

1. Terasa Ada Benjolan Di Payudara Dan Ketiak

Memang tidak semua benjolan menjadi indikasi kanker payudara. Tetapi jika benjolan tersebut semakin membesar dan sakit, segera kunjungi dokter untuk mengetahui benjolan tersebut benar kanker payudara atau bukan sehingga cepat ditangani.

2. Terasa Nyeri

Rasa nyeri pada payudara memang sering terjadi, terutama jika sedang datang bulan. Tetapi jika rasa nyerinya semakinmenjadi dan intensitasnya semakin sering, penderita patut curiga dan segera kunjungi dokter untuk mendapatkan solusi.

3. Terjadi Perubahan Ukuran Dan Bentuk Payudara

Gejala selanjutnya adalah ukuran dan bentuk payudara yang berubah menjadi besar atau menjadi kecil. Perubahan ini terjadi akibat ketidakstabilan jaringan tubuh yang disebabkan oleh sel kanker.

4. Terjadi Penebalan Dan Pengerutan Kulit Payudara

Hal ini dikarenakan sel-sel kulit yang sehat dikikis oleh sel kanker sehingga sel-sel kulit tersebut mati dan mengalami penebalan serta pengerutan. Biasanya, kulit yang sudah mati ini akan menghitam.

5. Tertariknya Puting Susu Ke Dalam

Gejala selanjutnya yang semakin memperkuat seseorang menderita kanker payudara adalah tertariknya puting susu ke dalam.

6. Keluar Cairan Aneh Dari Puting Susu

Jika tidak sedang menyusui, tetapi keluar cairan aneh berupa nanah atau berwarna bening, kaum wanita patut mencurigainya sebagai gejala kanker payudara. Ini berarti sel kanker sudah menjalar ke bagian puting susu.

7. Terjadi Luka Di Payudara

Gejala terakhir dari kanker payudara adalah terjadinya luka di payudara yang cukup parah dan harus segera ditangani agar tidak memperparah kondisi Si Penderita.

Kemoterapi Salah Satu Pengobatan Kanker Payudara

Ada banyak cara untuk mengobati penyakit kanker payudara, salah satunya dengan kemoterapi yang biasanya berlangsung selama beberapa bulan. Kemoterapi kanker payudara adalah pengobatan yang dilakukan untuk menghancurkan dan mencegah berkembangnya kembali sel-sel kanker payudara. Sebelum melakukan kemoterapi, penderita kanker payudara harus menjalani beberapa tes kesehatan untuk mengantisipasi terjadinya efek samping, seperti tes jantung, tes darah, tes paru-paru, dan tes hati.

Efek Samping Kemoterapi Kanker Payudara

Setiap pengobatan pasti memiliki efek samping, begitu juga halnya dengan kemoterapi kanker payudara. Penderita kanker ini akan mengalami efek samping jangka pendek berupa kerontokan rambut, perubahan kulit dan kuku, perubahan selera makan, terjadinya bisul  di mulut, mudah lelah, diare, mual dan muntah, sering mengalami pendarahan, dan mudah terinfeksi. Selain itu, penderita juga akan mengalami efek jangka panjang berupa, perubahan siklus haid, kerusakan kardiovaskular, terjadi iritasi pada telapak tangan dan telapak kaki, penurunan fungsi mental, dan leukemia.

Obat Kemoterapi Kanker Payudara

Obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi kanker payudara bergantung pada stadium kanker itu sendiri. Biasanya, obat yang digunakan dikombinasikan dengan obat lainnya yang disebut dengan rejimen kemoterapi.

1. Obat Kemoterapi Kanker Payudara Stadium Awal

Obat kemoterapi yang digunakan pada stadium ini adalah Anthracyclines berupa epirubicin (Ellence) dan doxorubicin (Adriamycin) serta Taxanes berupa paclitaxel (Taxol) dan docetaxel (Taxotere) yang dapat dikombinasikan dengan fluorouracil (5-FU), carboplatin, dan cyclophosphamide (Cytoxan).

Anthracyclines adalah salah satu golongan obat yang digunakan untuk kemoterapi kanker payudara dan menjadi salah satu pengobatan paling efektif untuk membunuh sel-sel kanker. Penggunaan Anthracyclines pada kemoterapi kanker payudara akan memberikan efek samping berupa kerusakan otot jantung sehingga pemakaiannya perlu dibatasi.

Selain Anthracyclines, obat kemoterapi kanker payudara stadium awal yang dapat digunakan adalah Taxanes. Penggunaan Taxanes dapat membantu menstabilkan pembelahan sel-sel yang tidak normal sebagai pemicu sel-sel kanker payudara.

2. Obat Kemoterapi Kanker Payudara Stadium Lanjut

Kanker payudara dapat dikatakan sudah memasuki stadium lanjut jika sudah menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis). Obat kemoterapi yang dapat digunakan adalah Eribulin (Halaven), Gemcitabine (Gemzar), Ixabepilone (Ixempra), Liposomal doxorubicin (Doxil), Mitoxantrone, Paclitaxel terikat albumin (Abraxane atau nab-paclitaxel), Platinum (Cisplatin dan Carboplatin), Tamoxifen, dan Vinorelbine (Navelbine).

Eribulin akan mencegah pertumbuhan sel kanker payudara dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Penderita kanker payudara yang menggunakan obat ini harus menjalani tes darah sebelum dan selama pengobatan untuk mengtahui kadar sel darah dan zat lain serta fungsi kerja ginjal dan hati.

Gemcitabine diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat memperlambat, bahkan menghentikan, pertumbuhan sel kanker payudara.

Ixabepilone dapat meningkatkan kondisi kesehatan penderita kanker payudara dengan cara menghentikan pertumbuhan dan mencegah penyebaran sel kanker.

Liposomal doxorubicin diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara.

Mitoxantrone dapat memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah penderita.

Paclitaxel terikat albumin diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah si Penderita. Cara kerja obat ini sama dengan cara kerja obat lainnya, yaitu dapat memperlambat, bahkan menghentikan, laju pertumbuhan sel kanker payudara.

Salah satu obat kemoterapi yang mengandung unsur Platinum adalah Cisplatin. Cisplatin diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara yang sangat cepat.

Tamoxifen dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara dengan cara mengganggu efek hormon estrogen di dalam jaringan payudara. Berbeda dengan obat kemoterapi lainnya, obat ini diberikan dengan cara diminum sebelum atau sesudah makan.

Vinorelbine diberikan dengan dua cara, yaitu diminum atau disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat mencegah dan menghentikan perkembangan sel kanker payudara.

3. Obat Kemoterapi Kanker Payudara HER2 Positif

Kanker payudara HER2 terbagi menjadi dua, yaitu kanker payudara HER2 positif dan kanker payudara HER2 negatif. Salah satu obat kemoterapi yang dapat digunakan oleh penderita kanker payudara HER2 positif adalah herceptin (trastuzumab) yang terbukti dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup dan dapat menurunkan terjadinya kekambuhan. Cara kerja herceptin (trastuzumab) adalah dengan menempelkan dirinya pada permukaan-permukaan protein HER2, protein penyebab kanker payudara HER2 positif, sehingga sel-sel kanker tersebut tidak dapat berkembang dan akhirnya mengalami kehancuran.

Pemberian obat ini dilakukan kurang lebih selama 1 tahun bagi penderita kanker payudara primer dan selama mungkin bagi penderita kanker payudara sekunder (metastasis) dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah atau ke dalam jaringan lemak di bawah kulit paha setiap 3 minggu sekali.

Efek Samping Herceptin (Trastuzumab)

Setiap obat pasti memberikan efek samping bagi penggunanya, begitu pula dengan herceptin (trastuzumab). Tetapi, efek samping yang ditimbulkan dari obat ini berbeda antara penderita yang satu dengan penderita yang lainnya, bergantung pada daya tahan tubuh setiap penderita. Berikut ini adalah efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan herceptin (trastuzumab).

1. Demam

Efek samping ini lebih sering terjadi saat pertama kali menggunakan herceptin (trastuzumab). Penderita akan merasakan nyeri di beberapa bagian tubuh, menggigil, dan demam yang akan segera hilang.

2. Diare

Efek samping selanjutnya adalah diare. Jika terjadi diare, dokter yang menangani Si Penderita akan segera memberikan obat antidiare agar kondisi penderita tidak semakin parah.

3. Mual

Efek samping ini sangat wajar terjadi pada penderita kanker payudara saat atau setelah menjalani kemoterapi dengan herceptin (trastuzumab). Tetapi, tidak perlu khawatir karena rasa mual ini akan hilang dengan sendirinya.

4. Terjadi Pembekuan Darah

Terjadinya pembekuan darah pada penderita kanker payudara ditandai dengan adanya rasa sakit, kemerahan, atau pembengkakan pada kaki, sakit dada, hingga sesak napas. Segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

5. Reaksi Alergi

Efek samping ini terjadi pada beberapa jam setelah kemoterapi berupa gatal, ruam kulit, sesak napas, nyeri punggung, hingga pingsan.

6. Terjadi Masalah Pada Jantung

Masalah yang terjadi pada jantung sebagai efek samping dari penggunaan herceptin (trastuzumab) adalah sesak napas dan detak jantung yang tidak beraturan.

Kanker payudara dapat menyerang siapa saja. Kita dapat menghindarinya dengan menjalankan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rajin berolahraga, banyak mengonsumsi air putih, dan rajin melakukan medical check up.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Pepaya untuk Kanker

Guangzhou sebagai Kota Terbaik Terapi Kanker

Sejarah Guangzhou sebagai Kota Terbaik Terapi Kanker

Pasien kanker akan mengusahakan apapun untuk berobat.  Tidak sedikit pasien kanker yang hampir menyerah dengan penyakit mematikan itu. Namun tidak sedikit pula yang memiliki semangat tinggi untuk sembuh. Ada beberapa metode pengobatan yang sering dipakai mulai dari operasi sampai kemoterapi.

Ada pula yang berobat ke pengobatan alternatif untuk mengobati penyakit kanker. Ada juga pengobatan modern yang jadi rujukan pasien kanker. Hanya saja pengobatan modern tentu memakan biaya yang tidak sedikit. Paling tidak pasien kanker membutuhkan dana Rp 300 juta untuk menjalani pengobatan modern.

Ada beberapa negara yang jadi rujukan untuk berobat kanker. Rumah sakit di Indonesiapun ada beberapa yang memiliki layanan bagus untuk mengobati kanker. Beberapa negara yang menjadi rujukan pasien kanker antara lain Singapura, Malaysia, Filipia, Inggris, Jerman, China, dan Amerika Serikat. Negara-negara tersebut memiliki kelebihan dan pengobatan yang hampir sama. Namun tentu ada negara favorit yang menjadi rujukan pasien kanker.

Salah satu pengobatan modern yang jadi rujukan adalah pengobatan kanker di kota Guangzhou yang berada di China bagian selatan. Kota tersebut memiliki beberapa rumah sakit yang khusus menangani kanker. Tidak salah jika banyak pasien kanker merujuk rumah sakit tersebut untuk pengobatan.

Mengenal Guangzhou

Guangzhou adalah satu dari tiga kota besar di China  selain Shanghai dan Beijing. Dikenal sebagai Pintu Gerbang Tiongkok Sebelah Selatan, juga dikenal sebagai kota budaya dan sejarah. Lokasi kota yang berada di garis pantai subtropis ini membuat hawa kota sejuk.  Cukup menyenangkan jika berjalan-jalan di kota ini karena bunga-bunga bermekaran sepanjang tahun.

Letak kota Guangzhou cukup strategis karena terhubung dengan berbagai kota besar di dunia. Menuju kota ini bisa ditempuh melalui jalur darat, udara, dan laut. Bahkan jika bertolak dari Hongkong dan Macau bisa melalui jalur darat dengan berkendara selama dua jam. Selain dikenal dengan wisata budaya dan sejarah kota ini juga dikenal sebagai surga kuliner.Ada banyak makanan enak dan terkenal yang jadi incaran siapa saja yang berkunjung ke kota ini.

Selain menjadi kota bisnis, dalam perjalanannya Guangzhou juga dikenal sebagai ‘kota kanker’. Bukan karena banyaknya penderita kanker, tetapi menjadi rujukan pengidap kanker untuk berobat. Adanya rumah sakit kanker menjadikan kota ini banyak dikunjungi. Selain berobat mereka juga berwisata budaya, wisata kuliner, dan wisata belanja.

Dulu negara China dikenal dengan obat-obatan yang aman. Bahkan sampai sekarang banyak yang mempercayai pengobatan ala China itu manjur untuk melawan atau menyembuhkan berbagai penyakit. Pengobatan tradisonal inilah yang kemudian menjadikan China sebagai negara yang ramah di dunia medis.

Bahkan pengobatan tradisional ini juga diadopsi oleh rumah sakit kanker yang sekarang ada di beberapa kota di China, termasuk Guangzhou. Tim medis menggabungkan pengobatan modern dan tradisional untuk menangani pasien kanker. Ini adalah kelebihan rumah sakit kanker di Guangzhou dibanding rumah sakit kanker di negara lain. Tentu saja selain teknologi canggih yang terus dimutakhirkan.

Cikal Bakal Kota Terapi Kanker

Semula  di kota ini berdiri rumah sakit tumor Nanyang Guangzhoup pad 1993. Sebelumnya rumah sakit tersebut sudah berada di Beijing sejak 1978. Pengobatan modern penyakit kanker berawal dari rumah sakit pimpinan Prof. Dr. Sun Yang. Rumah sakit Nanyang disebut-sebut sebagai rumah sakit pertama yang menggabungkan pengobatan ala timur dan barat.

Apalagi China dikenal sebagai pnegara yang memiliki obat tradisional paling manjur di dunia.  Selain itu rumah sakit ini juga menjadi rujukan para tenaga medis dan dokter yang ingin mempelajari pengobatan kanker gabungan antara modern dan tradisional.

Lalu dalam perkembangannya bukan hanya rumah sakit tumor Nanyang yang berdiri di sini. Ada lagi rumah sakit Fuda Guangzhou yang juga menangani penyakit kanker. Pasien yang ditangani di rumah sakit ini akan menerima rencana pengobatan sesuai dengan rekam medis dan pengobatan yang sebelumnya. Kondisi pasien ketika hendak berobat juga menjadi pertimbangan tim dokter. Konsultasi dan pembacaan rekam medis bisa dilakukan melalui email sebelum pasien berangkat berobat ke China. Tim dokter benar-benar memberikan pertimbangan yang matang sebelum pasien berangkat ke luar negeri.

Salah satu pengobatan andalan di rumah sakit ini adalah imunoterapi sebagai kombinasi pengobatan kanker lainnya. Terapi cukup  ideal untuk meningkatkan sistem kekebalan alami tubuh. Imunoterapi mampu menyerang sel kanker secara sistemik dan menghambat pertumbuhan kanker.

Rumah sakit kanker dengan teknologi tercanggih dan mutakhir juga terdapat di kota Guangzhou. Adalah Modern Cancer Hospital, rumah sakit yang terus memutakhirkan penyembuhan kanker dengan beragam penemuan baru. Tak heran rumah sakit tersebut banyak jadi rujukan pasien kanker.

Metode pengobatan dengan teknologi mutakhir tersebut juga disesuaikan dengan kondisi pasien. Beda jenis kanker, beda pula jenis pengobatannya. Selain menggunakan metode dan teknologi modern pengobatan di rumah sakit ini juga menggunakan pengobatan tradisional China untuk menyeimbangkan pengobatan medis. Kendati minim risiko, pengobatan tradisional China tersebut digunakan agar kondisi pasien tetap stabil.

Guangzhou ‘Si Kota Kanker’

Guangzhou menjadi rujukan pengobatan kanker bukan tanpa alasan. Promosi melalui seminar di berbagai negara dan konsultasi gratis dari tim dokter asal Guangzhou membuat kota bisnis ini berubah menjadi kota kanker. Bukan hanya mengandalkan promosi dalam negeri saja, untuk mempermudah pasien beberapa rumah sakit yang ada di Guangzhou untuk mencari tahu tentang pengobatan yang sesuai.

Letak geografis Guangzhou yang srategis juga memudahkan pasien yang datang dari luar China. Bahkan bisa ditempuh melalui jalan darat dari Hongkong dan Macau. Pemerintah Guangzhou pun mendukung kotanya untuk menjadi kota kanker.

Rumah sakit yang ada di sana pun menyediakan fasilitas yang eksklusif bagi pasien yang hendak berobat ke Guangzhou. Seperti layanan antarjemput, penukaran uang, tenaga penerjemah, dan lain-lain. Perekonomian Guangzhou pun semakin menggeliat. Semula hanya fokus ke bisnis dan wisata, sekarang sudah merambah ke bidang kesehatan.   

Kondisi Guangzhou yang sejuk dan nyaman itu pun bisa membantu kesembuhan pasien kanker. Sekali dalam sebulan pasien rawat inap di beberapa rumah sakit kanker berjalan-jalan di kota Guangzhou. Kondisi seperti inilah yang semakin mendukung Guangzhou menjadi kota kanker.

Bukan hanya suasana yang mendukung penyembuhan kanker. Tim dokter yang ada di rumah sakit kanker di Guangzhou juga dikenal ramah dan bersahabat. Pendekatan yang dilakukan pun membuat pasien nyaman untuk berobat.

Dari testimoni yang sering bersliweran di media sosial dan laman terkait kanker, Guangzhou banyak jadi pilihan. Ada beberapa pasien yang sudah berobat ke negara lain namun tidak merasakan perubahan yang nyata pada penyakitnya. Tim dokter yang ramah membuat pasien merasa rileks dan nyaman. Bahkan tidak sedikit yang membandingkan dengan negara lain yang juga memiliki pengobatan kanker.

Baca artikel lain mengenai Menaikkan Berat Badan Pasca Kemoterapi