Category Archives: Pengobatan Medis

Dokter Kanker Terbaik

Dokter-dokter Kanker Terbaik dari Malaysia dan Singapura

Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh ketidaknormalan pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang lama-kelamaan berubah menjadi sel kanker yang dapat menyebar ke bagian-bagian tubuh lain dan jika didiamkan dapat menyebabkan kematian. Biasanya, penderita kanker tahap awal tidak merasakan gejala apapun, tetapi baru merasakannya saat kanker tersebut sudah memasuki stadium lanjut.

Kebanyakan orang menganggap bahwa kanker adalah tumor, padahal tidak semua tumor dapat dikatakan sebagai kanker. Tumor memiliki pengertian benjolan abnormal pada tubuh dan digolongkan menjadi dua jenis, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor ganas inilah yang disebut dengan kanker.

Pengobatan Kanker dengan Kemoterapi

Salah satu pengobatan penyakit kanker yang umum dilakukan adalah dengan kemoterapi. Pengobatan ini menggunakan obat-obatan khusus yang dapat memperlambat, menghentikan, dan menghancurkan pertumbuhan sel-sel kanker yang menyerang bagian-bagian tubuh. Selain itu, kemoterapi juga dapat digunakan oleh penderita kanker yang membutuhkan terapi kombinasi, seperti berikut ini.

1. Kemoterapi neo-ajuvan

Kemoterapi ini digunakan untuk mengecilkan tumor sebelum penderita melakukan bedah pengangkatan tumor.

2. Kemoterapi ajuvan

Kemoterapi ini digunakan oleh penderita kanker hanya sebagai terapi lanjutan, baik untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker setelah bedah pengangkatan tumor ganas maupun untuk terapi radiasi.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh tenaga medis dalam pemberian kemoterapi ini, antara lain dengan suntikan melalui pembuluh darah vena (intra-vena/IV), suntikan melalui rongga perut (intra-peritonial/IP), suntikan melalui pembuluh darah arteri (intra-arteri/IA), dengan diminum (oral), atau dengan obat oles (topikal).

Onkolog sebagai Dokter Spesialis Kanker

Dokter yang khusus menangani penyakit kanker disebut dengan onkolog dan ilmu yang mempelajari segala hal tentang kanker disebut dengan onkologi. Onkolog dibagi menjadi tiga, yaitu onkolog bedah yang fokus pada pembedahan, onkolog medis yang fokus pada pengobatan seperti kemoterapi, dan onkolog radiasi yang fokus pada terapi radiasi.

Onkolog yang lebih sering berhubungan dengan penderita kanker adalah onkolog medis karena melakukan pemeriksaan, mendiagnosis, berdiskusi dengan penderita tentang langkah-langkah yang harus dilakukan, mengatur dan mengawasi proses pengobatan, dan memantau kondisi penderita pasca-pengobatan.

Referensi Onkolog Medis di Malaysia dan Singapura

Tidak jarang penderita kanker berobat ke luar negeri, khususnya Malaysia dan Singapura, karena peralatan yang lebih canggih dan pelayanan yang lebih baik. Berikut ini adalah beberapa onkolog medis yang dapat dijadikan referensi.

Onkolog Medis Malaysia

Salah satu negara yang menjadi negara tujuan berobat bagi penderita kanker adalah Malaysia. Berikut ini adalah onkolog yang dapat dijadikan referensi berobat.

1. Christina Ng Van Tze

Dr. Christina Ng Van Tze adalah dokter spesialis onkoligi di Sunway Medical Centre Kuala Lumpur dan Pantai Hospital Kuala Lumpur yang fokus menangani kanker ganas pada lambung dan usus, kanker kolorektal, kanker paru-paru, kanker payudara, dan terapi sistemik untuk berbagai jenis kanker. Sub-spesialis yang beliau geluti meliputi spesialisasi diagnosis dan penyembuhan kanker dengan kemoterapi, terapi hormone (hormonal therapy), terapi tertarget (targeted therapy), dan immunotherapy.

Onkologi media wanita ini menempuh pendidikan di University of Melbourne, Australia, dan mendapatkan gelar Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS) pada 1992. Kemudian, melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar Felloship of the Royal Australasian College of Physicians pada 2002 di Australia. Pada 2007, beliau mendapatkan penghargaan sebagai Honorary Consultant to Clinical Research Center, Ministry of Health, Malaysia.

2. Joseph K. Joseph

Dr. Joseph K. Joseph adalah dokter spesialis onkologi di Sunway Medical Centre Kuala Lumpur yang fokus menangani kemoterapi sistemik dan terapi kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker saluran cerna. Selain itu, beliau juga melakukan pendekatan integrative dengan melibatkan ukuran gaya hidup dan memberikan terapi gratis bagi penderita kanker stadium lanjut.

Beliau menempuh pendidikan di Royal College of Surgeons, Dublin, Irlandia, pada 1988. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar MRCP di Royal College of Physicians, Inggris; mendapatkan sertifikat kompetensi untuk Onkologi Medis dari European Society of Medical Oncology; dan mendapatkan gelar Spesialis Terakreditasi Onkologi Medis dan Penyakit Dalam di Malaysian Medical Council.

Onkolog Medis Singapura

Selain sebagai destinasi wisata, Singapura juga menjadi salah satu negara tujuan untuk berobat, seperti pengobatan kanker. Di sana, banyak rumah sakit dengan peralatan canggih yang digunakan untuk mengobati salah satu penyakit mematikan ini.

1. Ang Cher Siang Peter

Dr. Ang Cher Siang Peter adalah dokter spesialis onkologi medis di Parkway Hospital Singapore, Mount Elizabeth Medical Centre, dan Gleneagles Medical Centre Singapore yang fokus menangani kanker kolorektal, kanker paru-paru, dan kanker payudara. Selain itu, beliau juga menjadi Anggota Royal College of Physicians di Inggris. Keahliannya ini beliau tuangkan dalam buku berjudul “Illustrative Cases in Breast Cancer” pada 2006.

Beliau menempuh pendidikan di National University of Singapore dan mendapatkan gelar Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS) pada 1991. Pada 1997, beliau melanjutkan pendidikan dan mendapatkan gelar Master in Medicine di universitas yang sama. Sebelum membuka praktik sendiri, beliau pernah menjadi Konsultan Senior di Departemen Onkologi Medis Pusat Kanker Nasional, dokter utama untuk program kanker payudara, dan Direktur Pendidikan Kanker.

2. Lim Hong Liang

Dr. Lim Hong Liang adalah dokter spesialis onkologi medis di Parkway Cancer Centre dan Mount Elizabeth Medical Centre Singapura yang fokus menangani kanker kepala, kanker leher, dan kanker paru-paru. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Hematologi dan Onkologi serta Ketua Asosiasi dari Medical Board di National university Hospital; pemimpin ahli onkologi medis di Klinik Tumor Paru-Paru, Tan Tock Seng Hospitas; dan kepala bagian Onkologi Torasik bagian Kepala dan Leher dan Program Transplantasi Sumsum Tulang di National University Hospital.

Beliau menempuh pendidikan di National University Hospital pada 1986 dan mendapatkan gelar Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS). Pada 1992, onkolog senior berpengalaman ini mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Department of Thoracic Oncology di Tokyo National Cancer Centre Jepang, dari Japan JICA. Pada 1995, beliau juga mendapatkan beasiswa untuk mendalami kemoterapi dosis tinggi dan transplantasi sumsum tulang di St. Vincent’s Hospital Sydney, Australia, dari Departemen Kesehatan Singapura.

3. Tay Miah Hiang

Dr. Tay Miah Hiang adalah dokter spesialis onkologi medis di Gleneagles Medical Centre Singapore, Mount Elizabeth Medical Centre, dan Mount Alvernia Hospital Singapore yang fokus menangani kanker ginjal dan kanker prostat. Beliau membagikan ilmunya dengan menulis beberapa bab di dalam beberapa buku, seperti buku teks komprehensif “Genitourinary Oncology” edisi ke-3, “Panduan Lengkap Kanker Amerika untuk Kanker Prostat” pada 2006, dan buku pelajaran tentang Urologic Oncology pada 2004.

Beliau menempuh pendidikan di National University of Singapore dan mendapatkan gelar Master of Medicine pada 1992; mendapatkan beasiswa Program Pengembangan Tenaga Kerja Departemen Kesehatan pada 2003 di Dana Farber Cancer Institute, Boston, Amerika; dan menyelesaikan Program Pengobatan Kanker dan Hematologi pada 2003 di Harvard Medical School, Boston, Amerika. Pada 2006, Dr. Tay Miah Hiang pernah mendapatkan Penghargaan Emas Pelayanan Terbaik dan pada 2007, pernah mendapatkan penghargaan Star Award.

Itulah beberapa onkolog di Malaysia dan singapura yang dapat dijadikan referensi berobat bagi penderita kanker. Sebelum berobat ke luar negeri, alangkah baiknya jika penderita kanker beserta keluarga mempelajari, merundingkan, dan mempertimbangkan segala hal yang diperlukan.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Binahong untuk Kanker

Dokter Onkologi

Dokter-dokter Onkologi Medis di Indonesia yang dapat Dijadikan Referensi

Penyakit kanker memang menjadi salah satu penyakit mematikan di dunia setelah penyakit radiovaskular, seperti penyakit jantung dan penyakit stroke. Penyakit kanker memang menjadi penyakit yang menakutkan sebab para penderita kanker baru menyadari penyakit ini saat sudah memasuki stadium lanjut yang membuat pengobatannya memakan jangka waktu yang lama dan harapan untuk sembuhnya kecil. Berdasarkan hal inilah, pihak kedokteran harus memberikan perhatian khusus pada penyakit kanker.

Banyak faktor yang menjadi pencetus seseorang menderita penyakit kanker, misalnya menjalani pola hidup yang tidak sehat, tidak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, faktor genetik, dan kurang berolahraga. Jumlah penderita kanker terus meningkat setiap tahun, tetapi sayangnya kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah dokter yang khusus menangani penyakit kanker. Di Indonesia, jumlah dokter yang khusus menangani penyakit kanker terhitung masih minim dan kebanyakan dari dokter tersebut berpusat di Pulau Jawa.

Bidang Onkologi

Dokter yang khusus menangani penyakit kanker disebut dengan onkolog, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang penyakit kanker secara khusus disebut dengan onkoligi. Untuk menangani seorang penderita kanker, terkadang diperlukan lebih dari satu onkolog. Secara klinis, onkolog dibagi menjadi tiga bidang, yaitu onkolog bedah, onkolog medis, dan onkolog radiasi.

  1. Onkolog bedah adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan pembedahan, seperti reseksi bedah tumor, biopsy, dan stadium.
  2. Onkolog medis adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan pengobatan, seperti kemoterapi.
  3. Onkolog radiasi adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan radiasi terapeutik.

Dari ketiga onkolog tersebut, onkolog yang lebih banyak berhubungan dengan penderita kanker adalah onkolog medis karena akan memeriksa, mendiagnosis, dan memberikan rekomendasi tentang penanganan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan si penderita, seperti bekerja sama dengan bidang onkologi lainnya. Peran onkolog medis cukup besar, mulai dari melakukan diagnosis penyakit kanker, melakukan diskusi tentang langkah-langkah penanganan yang akan dilakukan, mengatur dan mengawasi jalannya pengobatan, hingga merawat kondisi penderita kanker pasca-penanganan.

Pilihlah Onkolog yang Tepat

Setelah mendapatkan hasil diagnosis melalui pemeriksaan fisik, pemeriksaan sampel biopsi, tes darah dengan penanda kanker, endoskopi, rontgen, CT scan, USG, atau MRI dan dinyatakan positif terkena kanker, langkah yang harus dilakukan oleh penderita kanker adalah memilih onkolog yang tepat. Pemilihan ini harus dilakukan dengan cepat dan sungguh-sungguh agar pengobatannya dapat dilakukan secepat mungkin.

Penderita kanker harus memilih onkolog yang sudah berpengalaman dalam menangani jenis kanker yang diderita, sudah mengikuti banyak pelatihan, sudah mengantongi sertifikat onkolog, sudah melakukan penelitian, dan menerbitkan artikel tentang perkembangan terbaru pengobatan kanker. Selain itu, mencari onkolog yang enak diajak berdiskusi juga menjadi hal yang penting karena penderita dan onkolog akan terus berhubungan selama pengobatan berlangsung.

Referensi Onkolog Medis di Indonesia

Setiap bidang onkolog memiliki fokus penanganan kanker yang berbeda, seperti penanganan yang fokus dilakukan oleh onkolog medis. Onkolog medis lebih fokus pada penanganan kanker dengan pengobatan, seperti kemoterapi. Kemoterapi adalah metode pengobatan penyakit kanker yang umum dilakukan dengan menyuntikkan berbagai obat ke dalam tubuh untuk menghentikan dan membunuh sel-sel kanker serta mencegah sel-sel tersebut kembali.

Jumlah onkolog medis di Indonesia memang masih sedikit dan kebanyakn berpusat di Pulau Jawa. Meskipun demikian, ada beberapa onkolog medis yang dapat dijadikan referensi oleh penderita kanker berdasarkan pengalaman masing-masing.

1. Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM

Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM adalah salah satu dokter spesialis kanker darah. Selain sebagai dokter spesialis, beliau juga menjabat sebagai Kasubag Hematologi-Onkologi Medis Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Beliau juga pernah menjadi Tim Dokter Kepresidenan RI pada 1982 dan menjadi salah satu pendiri Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1963, dokter yang praktik di Rumah sakit Kanker Dharmais ini mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan gelar Spesialis Ilmu Penyakit Dalam pada 1963-1969. Setelah itu pada 1969-1970, beliau mengikuti Pendidikan Hematologi di St. Louis Hospital, L’Universite de Paris, Perancis. Pada 1978, beliau mengikuti Postgraduate Training di St. Bartholomew’s Hospital, London, Inggris, dan pada 1984, beliau mendapatkan gelar Doktor Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2. Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD, KHOM

Sama seperti Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD, KHOM adalah dokter spesialis kanker darah. Beliau membuka praktik di tiga rumah sakit di Jakarta, yaitu MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Rumah Sakit Islam Jakarta, dan Rumah sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Pada 1985, dokter kelahiran Bandung ini meraih gelar Dokter dari Kedokteran Umum Universitas Indonesia. Pada 1995, beliau melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Indonesia dan pada 2006, beliau mendapatkan gelar sebagai Konsultan Hematologi Onkologi Medik dari Universitas Indonesia.

3. Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, FINASIM

Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, FINASIM adalah dokter spesialis kanker darah yang membuka praktik di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Dokter kelahiran Washington DC ini menyelesaikan pendidikannya di Kedokteran Umum Universitas Indonesia pada 1976, melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia untuk menjadi Spesialis Penyakit Dalam pada 1986, dan melanjutkan pendidikan di universitas yang sama pada 1995 untuk menjadi Konsultan Hematologi Onkologi Medik.

4. Dr. dr. Laila Nuranna, Sp.OG, K.Onk

Dr. dr. Laila Nuranna, Sp.OG, K.Onk adalah dokter spesialis kanker obstetrik dan ginekologi yang membuka praktik di Rumah Sakit Medistra dan RSIA Bunda Jakarta. Selain sebagai Sekretaris dan Instruktur Kursus Pendidikan Ahli Kolposkopi Perhimpunan Patologi Serviks dan Kolposkopi Indonesia (PPSKI), dokter yang lahir di Surabaya ini juga menjadi anggotaAsen-Oceanian Clinical Oncology Association dan anggota Internasional Gynaecological Cancer Society.

Pada 1979, beliau lulus sebagai dokter umum dari Kedokteran Umum Universitas Indonesia dan pada 1986, beliau menjadi Spesialis Obstetri dan Ginekologi di universitas yang sama. Pada 1988, beliau melanjutkan pendidikan Onkologi Ginekologi di Academisch Ziekenhuiz Groningen, Belanda.

5. Apolorida Situmorang

Selain keempat dokter onkologi di atas, ada perawat wanita spesialis onkologi medis (kemoterapi) di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Sumatera Utara, bernama Apolorida Situmorang atau yang akrab dipanggil Polo. Wanita kelahiran Tiga Lingga ini menjadi satu-satunya perawat wanita spesialis onkologi, khusus kemoterapi. Polo sempat menganggur setelah lulus dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Depkes RI pada 1988.

Setelah diterima bekerja di RSUP H. Adam Malik, Polo ditugaskan selama satu tahun di bagian Intensif Gawat Darurat (IGD), kemudian dipindahtugaskan ke bagian perawatan onkologi bedah. Pada 1999, Polo mengikuti pelatihan onkologi khusus kemoterapi di Rumah sakit Kanker Dharmais selama satu minggu. Setelah selesai menjalani pelatihan dan kembali ke RSUP H. Adam Malik, peraih gelar perawat spesialis onkologi ini dipercaya untuk menjadi perawat di bagian onkologi khusus kemoterapi hingga saat ini.

Kanker memang dapat menyerang siapa saja. Pencegahan dan pemeriksaan dini sangat diperlukan untuk mengetahui ada atau tidaknya sel-sel kanker yang berkembang di dalam tubuh. Jika terbukti adanya sel-sel kanker, segera hubungi dokter onkologi, seperti dokter-dokter onkologi di atas, agar segera dapat ditangani.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Binahong untuk Kanker

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Beberapa Obat Kemoterapi Kanker Serviks dan Efek Sampingnya

Kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang menakutkan bagi kaum wanita selain kanker payudara. Semua wanita tanpa batasan usia berisiko terkena penyakit ini. Tetapi, kanker serviks lebih cenderung menyerang para wanita yang aktif melakukan kegiatan seksual.

Kanker serviks bermula saat sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik, kemudian mengubah sel-sel normal menjadi sel-sel abnormal. Sel-sel yang normal akan berkembang dengan kecepatan tertentu, sedangkan sel-sel yang abnormal akan berkembang tanpa terkendali sehingga jumlahnya terus bertambah.

Sel-sel abnormal ini menjadi pemicu timbulnya sel kanker yang akan menyerang jaringan-jaringan tubuh di sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jika ini terjadi, penderita sudah memasuki kanker serviks stadium lanjut. Semakin besar stadiumnya, harapan hidup penderita kanker serviks semakin kecil.

Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks disebut juga dengan kanker leher rahim karena sel-sel kanker menyerang leher rahim para wanita yang berfungsi sebagai pintu masuk dari vagina menuju rahim. Kanker ini disebabkan oleh kumpulan virus bernama human papillomavirus atau HPV. Umumnya, virus ini ditularkan melalui hubungan seks dan dapat memicu timbulnya sel kanker serviks.

Jenis human papillomavirus ada yang tidak berbahaya dan ada yang berbahaya, seperti HPV 16 dan HPV 18, yang menjadi penyebab seorang wanita terjangkit kanker serviks. Saat virus ini masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi untuk mencegah virus tersebut melukai rahim. Tetapi bagi wanita dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, virus ini dapat menembus kekebalan tersebut dan bertahan selama bertahun-tahun hingga berubah menjadi sel kanker.

Vaksin untuk Mencegah Infeksi HPV

Untuk mengurangi angka penderita kanker serviks, pemerintah saat ini sudah menyediakan vaksin untuk mencegah seorang wanita terinfeksi HPV. Ada vaksin bivalen untuk HPV 16 dan HPV 18, vaksin kuadrivalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, dan HPV 18, serta vaksin nonavalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, HPV 18, HPV 31, HPV 33, HPV 45, HPV 52, dan HPV 58. Semua vaksin tersebut dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Gejala Kanker Serviks

Gejala kanker serviks biasanya tidak selalu tampak jelas, bahkan Si Penderita tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya terjangkit HPV. Penderita baru menyadarinya saat kanker serviks sudah memasuki stadium lanjut. Karena itulah, kaum wanita sangat dianjurkan untuk melakukan pap smear secara rutin sebagai langkah pencegahan berkembangnya sel kanker serviks.

Meskipun demikian, ada gejala-gejala yang dapat dijadikan alarm bahwa di dalam tubuh, mulai berkembang sel kanker serviks, antara lain terjadi pendarahan pada vagina di luar masa menstruasi, setelah berhubungan seks, dan setelah memasuki masa menopause; merasakan sakit setiap berhubungan seks; keluarnya cairan dari vagina tanpa henti berwarna cokelat, merah mudah, keruh, atau mengandung darah dengan bau yang menyengat; serta berubahnya siklus menstruasi tanpa sebab.

Penderita kanker serviks stadium lanjut akan mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis; merasakan nyeri pada tulang, punggung, dan pinggang; bermasalah saat buang air kecil karena ureter atau ginjal tersumbat; adanya darah dalam urin; hilangnya selera makan; pembengkakan pada salah satu kaki; serta merasakan sakit pada perut bagian bawah dan panggul.

Kemoterapi sebagai Pengobatan Kanker Serviks

Sebenarnya, ada banyak cara untuk mengobati kanker serviks, salah satunya adalah dengan kemoterapi. Kemoterapi kanker serviks adalah pengobatan yang dilakukan untuk mengurangi, merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker serviks yang berkembang dengan cepat dan tidak terkendali dengan menggunakan obat keras.

Obat-obatan keras kemoterapi tidak hanya mengurangi, merusak, dan membunuh sel-sel kanker serviks. Obat-obatan tersebut juga dapat merusak sel-sel normal dengan menimbulkan beberapa efek samping, seperti mual, muntah, sembelit, diare, rambut rontok, kehilangan nafsu makan, mudah terinfeksi karena kekebalan tubuh menurun, anemia, terjadi pendarahan,sariawan, merasa lemah dan lelah, kerusakan otot jantung dan ginjal, kesemutan, menurunnya periode menstruasi, serta infertilitas.

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Dalam kemoterapi kanker serviks, diperlukan obat-obatan yang memang dapat mengurangi,merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker. Obat-obatan tersebut ada yang digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan obat-obatan lainnya yang disebut dengan rejimen kemoterapi. Obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan adalah carboplatin, cisplatin, cyclophosphamide, fluororacil, ifosfamide, dan paclitaxel.

1. Carboplatin

Carboplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel kanker yang diberikan melalui pembuluh vena dengan cara menyuntikkannya selama 15 menit. Dosis yang diberikan bergantung pada berat badan, kondisi kedehatan, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Carboplatin tidak boleh diberikan lebih dari 4 kali seminggu.

Tetapi, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. Adapun penderita yang dilarang menggunakan carboplatin adalah penderita yang memiliki riwayat alergi terhadap senyawa yang mengandung platinum, memiliki tumor berdarah, mengalami pendarahan yang cukup hebat, mengalami kerusakan ginjal, sedang menggunakan vaksin demam kuning, dan menderita myelosupresi (penekanan sumsum tulang) berat. Wanita hamil dan ibu menyusui juga dilarang menggunakan carboplatin.

Menggunakan carboplatin akan memberikan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, kulit memerah, kehilangan nafsu makan, mudah merasa lelah, sulit bernapas, kulit pucat, sulit berkonsentrasi, detak jantung tidak beraturan, mudah mengalami pendarahan, sakit kuning, sakit perut, demam, luka di mulut dan tenggorok, urin dan fases berwarna gelap, mengalami masalah pada penglihatan dan pendengaran, serta mati rasa pada tangan dan kaki.

2. Cisplatin

Cisplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan karena dapat menghambat atau menghentikan perkembangan sel kanker. Obat ini diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi terhadap pengobatan tersebut. Sebaiknya, cisplatin diberikan tidak lebih dari 3-4 minggu sekali dan harus diimbangi dengan asupan cairan yang banyak sehingga penderita akan sering buang air kecil.

Sama seperti carboplatin, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. adapun penderita yang dilarang menggunakan cisplatin adalah wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, memiliki riwayat alergi, sedang melakukan pengobatan penyakit lain, menderita penyakit ginjal, serta menderita gangguan sel darah, gangguan pendengaran, gangguan fungsi tulang sumsum, dan gangguan keseimbangan mineral.

Menggunakan cisplatin akan memberikan efek samping berupa kehilangan nafsu makan, mual, muntah, rambut rontok, diare, kehilangan keseimbangan, menurunnya fungsi indera perasa, nyeri sendi, pusing, fungsi refleks menurun, penglihatan terganggu, fases berwarna gelap disertai darah, demam, dan mati rasa.

3. Cyclophosphamide

Cyclophosphamide adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan pertumbuhan serta penyebaran sel kanker dengan cara diminum. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut, dan pengobatan lain yang dilakukan.

Wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, penderita dengan riwayat alergi, penderita yang pernah atau sedang menjalani radioterapi dan terapi sitostatika, serta penderita diabetes, cacar air, gangguan ginjal, gangguan kardiovaskular, gangguan hati, dan gangguan fungsi sumsum tulang dilarang menggunakan obat ini.

Menggunakan cyclophosphamide akan menimbulkan efek samping berupa diare, mual, muntah, rambut rontok, sakit perut, ruam kulit, warna kulit dan kuku berubah, kehilangan nafsu makan, berhentinya periode menstruasi, lemas, kesulitan bernapas, kejang, berhalusinasi, urin dan fases mengandung darah, pendarahan, sariawan, sakit saat buang air kecil, pembengkakan pada tangan atau kaki, pneumonia, serta sakit kuning.

4. Paclitaxel

Paclitaxel adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan petumbuhan sel kanker dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Paclitaxel dapat diberikan setiap tiga minggu sekali selama lebih dari tiga jam, dua minggu, atau seminggu sekali selama satu jam dengan dosis rendah.

Wanita hamil, ibu menyususi, anak-anak, penderita yang memiliki riwayat alergi, dan penderita yang sedang menjalani pengobatan lain dilarang untuk menggunakan obat kemoterapi ini.

Menggunakan paclitaxel akan menimbulkan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, diare, nyeri sendi, sariawan, pusing, mati rasa, mudah mengantuk, tangan atau kaki seperti terbakar, anemia, mudah lelah, mudah terkena infeksi, mengalami tekanan darah rendah, mengalami gangguan kognitif, infertilitas, serta meningkatkan risiko pembekuan darah.

Kanker serviks memang menjadi penyakit yang sangat menakutkan bagi kaum wanita. Agar terhindar dari penyakit ini, kaum wanita sangat dianjurkan untuk menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, rajin mengonsumsi air putih, rajin berolahraga, dan istirahat yang cukup.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Pepaya untuk Kanker