Category Archives: Kemoterapi

Tips Menjalani Kemoterapi

Tips Menjalani Kemoterapi Yang Wajid Diketahui oleh Pasien Kanker dan Keluarga

Berjuang melawan kanker tentunya bukan merupakan hal yang mudah. Baik bagi pesien kanker maupun orang – orang terdekatnya. Kemoterapi adalah upaya perawatan bagi pasien kemoterapi untuk terus memperjuangkan kehidupannya. Dalam proses kemoterapi tersebut, pasien tidak mungkin bisa bertahan hanya dengan dirinya sendiri. Artinya, kehadiran orang – orang terdekat juga dibutuhkan bahkan untuk sekedar memberikan dukungan.

Nurse Stephen Laughlin, RN, BS with patient JE (Joseph) Newhall (consent # 9502) on Yawkey 9 infusion. Photo by Sam Ogden.

Tahapan awal mulai dari diagnosis, analisa jenis perawatan yang sesuai, hingga merasakan efek samping dari menjalani kemoterapi tentu tidaklah mudah. Kehadiran keluarga bisa menguatkan pasien untuk memperjuangkan hidupnya lebih lama hingga benar – benar bersih dari kanker.

Fakta yang harus Anda Ketahui Tentang Kemoterapi

Apabila salah satu keluarga anda di diagnosis mengidap penyakit kanker, apa yang pertama kali anda lakukan terhadapnya? Langkah pertama yang harus anda lakukan yakni memberinya perhatian lebih banyak dari biasanya. Buatlah keluarga anda merasa bahwa ada begitu banyak orang yang mengharapkan keberadaannya. Dengan begitu, pasien kanker dapat menemukan motivasi mengapa ia harus kembali pulih.

Meskipun tidak bisa dipungkiri, anda pun pasti akan merasa sangat terpukul ketika salah satu anggota keluarga terserang kanker. Hal pertama yang muncul didalam benak yakni ketakutan akan kehilangan anggota keluarga dalam waktu terdekat. Padahal anggapan ini tidak sepenuhnya benar.

Semakin cepat sebuah kanker terdeteksi maka kemungkinan kesembuhannya juga semakin tinggi. Namun jika keluarga anda terdiagnosis mengidap kanker dalam stadium akhir, setidaknya bantu ia untuk dapat bertahan hidup lebih lama. Berikut ini fakta – fakta mengenai kanker yang mungkin bisa menguatkan mental anda ketika keluarga terserang kanker.

1. Mengidap Kanker Bukanlah Akhir Segalanya

Didiagnosis menginap kanker tentu bagaikan mimpi buruk yang membuat pasien dan keluarga merasa putus asa. Menerima kenyataan dengan lapang dada merupakan langkah penting untuk segera sembuh dari kanker. Tidak hanya bagus dari kondisi fisik, pasien juga harus tetap berada dalam psikis yang baik. Keluarga terus memberikan dukungan bagi pasien supaya semangat hidupnya tetap terjaga. Mengidap kanker bukanlah akhir dari segalanya, masih ada begitu banyak cara untuk bertahan lalu sembuh.

2. Mengidap Kanker Bukan Berarti Menjadi Penghuni Rumah Sakit Selamanya

Jika salah satu anggota keluarga anda mengidap kanker, bukan berarti kehidupannya akan berakhir di bilik rumah sakit. Selama masa perawatan kemoterapi, pasien mungkin harus datang ke rumah sakit dalam waktu – waktu tertentu. Selepas itu, pasien tetaplah bagian dari keluarga anda yang beraktivitas seperti sedia kala. Hanya saja, anda perlu memperhatikan segala rutinitasnya nanti tetap terbilang ringan.

3. Efek Samping Kemoterapi Yang Akan Dirasakan Pasien

Anda pasti memahami bagaimana kemoterapi meninggalkan efek samping bagi kondisi tubuh keluarga anda yang mengidap kanker. Meski tujuan kemoterapi tersebut untuk membunuh sel – sel kanker, namun tidak jarang jaringan disekitarnya juga ikut terganggu. Selain itu, efek samping berupa kerontokan rambut, mual, anemia, konstipasi hingga gangguan pada otot jantung dan ginjal tentu menjadi resiko tersendiri. Siapkan mental anda untuk menemani keluarga anda dalam titik ini. Jika anda kuat maka keluarga anda pun akan merasa dikuatkan.

4. Efek Kemoterapi Sangat Bervariatif

Efek kemoterapi mempunyai tingkatan yang sangat bervariatif. Hal ini ditentukan oleh banyak faktor. Mulai dari stadium kanker, jenis obat yang digunakan hingga kondisi fisik pasien itu sendiri. Sebagai keluarga, anda juga perlu mengetahui tahapan perawatan serta kemungkinan apa saja yang dapat terjadi nantinya. Dengan memahaminya, anda akan lebih mudah melakukan penanganan apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

5. Efek Kemoterapi Terbilang Lama, Teruslah Memupuk Semangat Pasien

Meskipun efek samping menjalani kemoterapi terbilang bersifat sementara, namun pada beberapa kasus, efek ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Efek samping kemoterapi bahkan bisa tetap dirasakan oleh pasien dalam hitungan bulan hingga tahunan setelah perawatan. Dalam waktu yang lama tersebut, organ tubuh yang ikut terganggu meliputi jantung, ginjal hingga paru – paru. Apabila keluarga anda juga mengalami kondisi ini, teruslah memupuk semangatnya untuk tetap berjuang melawan kanker.

6. Hal Terpahit Ialah Terkena Kanker Untuk Kedua Kalinya

Kanker bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan. Tentunya membutuhkan usaha yang lebih untuk benar – benar sembuh dari kanker. Sel – sel kanker yang menyerang jaringan tertentu akan terus mengembangkan diri hingga menyebar pada jaringan lainnya. Kemoterapi inilah yang bisa menahan laju penyebaran sel – sel kanker bahkan membunuhnya.

Anda yang mempunyai keluarga pengidap kanker, meskipun ia telah dinyatakan bersih namun perhatikan selalu kesehatannya. Setiap pasien kanker yang dinyatakan sembuh, nyatanya masih mempunyai peluang mengidap kanker untuk kedua kalinya. Baik pasien maupun keluarga tetap harus memperjuangkan kehidupan pasien semampu mungkin. Setidaknya dengan mengetahui fakta ini, keluarga bisa menyiapkan mental apabila orang terdekat mengidap kanker untuk kedua kalinya.

Tips Memberi Support pada Keluarga Sebelum Menjalani Kemoterapi

Sebelum keluarga anda menjalani kemoterapi, tentunya ada beberapa persiapan yang bisa anda bantu. Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa jenis obat kemoterapi tidak hanya membubuh sel kanker, namun membunuh jaringan sehat di sekitarnya juga. Selain dukungan moril, anda juga perlu membantu melakukan hal berikut ini untuk mendukungnya lebih total.

1. Temani Keluarga Anda Konsultasi Ke Dokter

Kemoterapi mempunyai teknis dan jenis obat yang sangat bervariatif. Penderita kanker harus melewati beberapa tindakan medis dalam rangka menetapkan jenis terawatan yang paling tepat untuknya. Anda bisa menemaninya menemui dokter, selain untuk menguatkan, anda juga akan lebih faham seberapa baik kondisi kesehatan keluarga anda.

Beberapa jenis tindakan medis juga hanya akan dilakukan setelah keluarga menyetujuinya. Jadi tidak ada yang salah jika anda menemani keluarga anda sebelum melakukan tahap awal penyembuhan kanker.

2. Pastikan Keluarga Anda Memperoleh Vaksin Sebelum Kemoterapi

Vaksin membantu menjada kondisi tubuh tetap stabil dan tidak rentan terserang virus. Hal yang terlihat sederhana seperti suntikan flu sebelum kemoterapi juga tidak boleh terlewatkan. Hal ini karena dampak flu ringan saja bisa menjadi parah dalam fase kemoterapi. Jenis vaksin bisa anda konsultasikan terlebih dahulu kepada pihak medis. Nantinya akan direkomendasikan jenis vaksin yang tepat bagi pasien sesuai dengan riwayat kesehatannya. Hal ini untuk mengantisipasi efek negatif jika terjadi alergi terhadap zat – zat tertentu.

3. Kebersihan Harus Tetap Terjaga

Baik kebersihan pasien maupun orang – orang terdekatnya tetap harus terjaga supaya tidak ada bakteri yang menyerang. Contoh paling sederhana yakni dengan mencuci tangan secara berkala ketika menemani keluarga anda kemoterapi. Hal ini untuk meminimalisir perpindahan bakteri kepada pasien. Kebersihan mulut pasien juga harus terjaga, artinya tidak ada lagi bakteri yang menempel pada gigi maupun rongga mulut. Supaya nantinya tidak menyebabkan infeksi selama kemoterapi.

4. Pastikan Pasien Tidak Mengkonsumsi Obat Maupun Vitamin Selain Resep Dokter

Jika anda masih beranggapan bahwa obat – obatan maupun vitamin akan menambah kesehatan keluarga anda selama masa perawatan, ini merupakan hal yang salah. Justru obat – obatan maupun vitamin diluar resep dokter akan mengganggu kinerja obat kemoterapi. Konsultasikan terlebih dahulu apapun yang menyangkut kesehatan penderita kanker kepada dokter yang menangani. Sehingga nantinya proses kemoterapi dapat menghasilkan dampak yang kian baik.

Baca artikel lain mengenai Madu dan Bawang Putih untuk Kanker

Jenis Kemoterapi

Jenis Kemoterapi, Obat, dan Dampaknya untuk Pasien Kanker

Mengenal Jenis Perawatan Pasien Kanker

Perawatan pasien kanker tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada beberapa rangkaian yang harus dilalui terlebih dahulu sebelum tim medis memutuskan jenis perawatan yang paling sesuai untuk pasien. Hal ini karena penanganan dan perawatan untuk satu pasien dengan pasien lainnya tidaklah sama. Umumnya pasien kanker akan memilih jenis perawatan mulai dari kemoterapi, operasi hingga terapi radiasi. Dan jenis perawatan yang paling sering digunakan yakni kemoterapi.

Tidak hanya terbatas pada kemoterapi saja. Salah satu inovasi perawatan kanker yang kian direkomendasikan yakni imunoterapi. Dimana dalam terapi ini memfokuskan penguatan imun tubuh untuk melawan sel kanker. Namun tidak terlalu banyak yang menggunakan imunoterapi karena beragam sebab, salah satunya yakni mengenai besaran biaya karena lama waktu diperlukan jauh lebih lama dibandingkan kemoterapi.

Tahapan Penentuan Jenis Perawatan bagi Pasien Kanker

Pasien kanker tidak serta merta memilih atau menentukan sendiri akan menggunakan jenis perawatan yang akan digunakan nantinya. Begitupun dengan tim medis, tentunya harus meneliti terlebih dahulu riwayat kesehatan pasien sebelum menentukan jenis perawatan yang akan direkomendasikan nantinya. Umumnya dokter akan melihat dari riwayat kesehatan pasien yang terdiri dari jenis penyakit apa saja yang ada, jenis kanker yang diderita hingga stadium kanker tersebut.

Salah satu tahap yang tidak bisa dilepaskan dalam penentuan jenis perawatan kanker yakni kondisi tubuh pasien. Dokter akan memeriksa organ tubuh pasien, untuk memastikan tindakan medis selama kemoterapi tidak berdampak fatal untuk pasien. Organ vital seperti hati dan ginjal menjadi pertimbangan utama bagi dokter untuk menentukan jenis kemoterapi serta jenis obat yang akan digunakan.

Jenis Kemoterapi untuk Pasien Kanker

Kemoterapi adalah upaya penanganan pasien kanker yang menggunakan bahan atau obat kimia tertentu untuk memperpanjang masa hidup pasien. Kemoterapi bertujuan untuk membunuh sel – sel kanker secara sistemik yang menyerang organ tertentu. Penggunaan obat kemoterapi mempunyai dua cara pemberian yakni injeksi melalui infus dan oral dalam bentuk kapsul maupun tablet.

Tidak hanya obat, jenis dan teknik kemoterapi pun sangat bervariatif. Sedangkan untuk perawatannya, umumnya ahli medis akan menawarkan terapi dalam bentuk kemoterapi, terapi radiasi hingga operasi bedah. Kali ini kita akan membahas detail jenis kemoterapi yang bisa dipakai oleh pasien kanker.

1. Terapi Primer

Pasien penderita kanker tentunya mengharapkan kesembuhan dengan melakukan kemoterapi. Apabila kondisi tubuh pasien juga tergolong kuat, maka sebaiknya memilih terapi primer. Jenis kemoterapi utama ini juga dapat dikombinasikan atau digabung dengan jenis terapi lainnya supaya hasil lebih maksimal. Pasein kanker bisa juga menjalani terapi radiasi (radiologi) selama dalam proses kemoterapi.

Bahkan pasien kanker juga bisa mengkombinasikan dengan terapi imun. Tentu saja jenis penggabungan kemoterapi dengan terapi lainnya juga harus sesuai dengan rekomendasi dokter. Hal ini karena dosis obat serta bahan kimia yang dilakukan pada jenis kemoterapi primer ini cukup tinggi.

2. Terapi Tambahan

Apabila pasien kanker sebelumnya telah melakukan tindakan medis berupa operasi pembedahan. Tidak ada salahnya penderita kanker juga melakukan terapi tambahan dengan kemoterapi. Hal ini karena sel – sel kanker tidak mungkin sepenuhnya bisa dibersihkan melalui operasi pembedahan. Maka jenis kemoterapi tambahan ini bisa membersihkan sisa sel – sel kanker yang belum terangkat ketika pembedahan.

Untuk jenis kemoterapi tambahan ini mempunyai dosis obat maupun variasinya tentunya mempunyai tingkatan yang lebih sedikit dibandingkan kemoterapi primer. Dalam beberapa kasus, selain sebagai terapi tambahan pasca pengangkatan jaringan kanker, jenis terapi ini juga bisa digunakan sebagai kombinasi terapi radiologi menggunakan terapi radiasi.

3. Terapi Paliatif

Jenis kemoterapi dengan terapi paliatif umumnya sangat direkomendasikan oleh pihak medis untuk penderita kanker dengan stadium akhir. Pasien kanker yang telah memasuki stadium empat umumnya telah merasakan efek fisik kanker tersebut. Rasa nyeri berlebih pada bagian yang terkena kanker akan sangat terasa pada stadium ini. Hal ini karena sel – sel kanker telah menyebar dan tumbuh pada organ dalam pasien.

Penggunaan terapi paliatif sangat membantu mengontrol atau mengendalikan laju penyebaran kanker. Semakin baik sel – sel kanker dihambat perkembangannya, maka semakin membaik pula harapan kelangsungan hidup pasien. Kemoterapi dengan terapi paliatif setidaknya efektif menahan laju penyebaran sel – sel kanker dalam menyerang organ lain dalam tubuh. Dengan begitu, setidaknya pasien bisa bertahan lebih lama.

Jenis Obat Kemoterapi dan Dampaknya bagi Pasien Kanker

Setelah serangkaian tahapan penentuan jenis kemoterapi dilakukan. Maka tentunya jenis obat dan dosis juga bisa segera ditentukan. Efek samping penggunaan obat selama kemoterapi secara umum menyebabkan kerontokan rambut, anemia, mual, sariawan, bahkan hingga kerusakan otot jantung dan gagal ginjal. Untuk menangani efek kemoterapi tersebut, biasanya dokter juga akan menambahkan obat pereda tambahan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pasca kemoterapi.

Jenis obat yang digunakan untuk kemoterapi umumnya mempunyai dampak penggunaan yang kurang lebih sama. Seberapa hebat efek kemoterapi ditentukan dari sebarapa baik kondisi fisik pasien saat itu. Berikut ini jenis obat kemoterapi yang digunakan untuk penderita kanker payudara.

1. Adriamycin Kode A

Untuk jenis obat kemoterapi yang menggunakan adriamycin kode A ini terdiri atas CAF (Cytoxan, Adriamycin and Fluorouracil). Penggunaan obat ini ketika kemoterapi biasanya menimbulkan dampak berupa kerontokan rambut. Umumnya pasien kanker akan mengalami kerontokan pada rambut kepada, alis hingga bulu mata. Pasien tidak perlu khawatir, karena semua efek pasca kemoterapi hanya bersifat sementara. Jadi setelah penggunaan obat kemoterapi dihentikan, rambut tetap bisa tumbuh kembali.

2. Methotrexate Kode M

Untuk jenis obat kemoterapi ini biasanya lebih familiar disebut dengan istilah CAM yakni singkatan dari  (Complementary and Alternative Medicine). Meskipun penggunaan obat methotrexate ini juga mempunyai efek berupa kerontokan rambut, namun tidak semua pasien mengalami efek yang sama. Selain itu, tingkat dari efek penggunaan obat ini juga berbeda antar satu pasien dengan pasien lainnya. kerontokan yang dialami pasien tidak akan separah jika menggunakan jenis obat kemoterapi sebelumnya.

3. Cytoxan

Untuk jenis obat kemoterapi yang satu ini juga membuat rambut mengalami kerontokan. Meskipun tingkat kerontokan jauh lebih banyak dibandingkan penggunaan obat Methotrexate, beberapa pasien tetap direkomendasikan untuk mengambilnya karena beragam pertimbangan. Efek penggunaan obat kemoterapi sebaiknya dijadikan sebagai penyemangat bagi pasien untuk berusaha pulih secepat mungkin. Semakin cepat perkembangan kesehatannya, maka semakin besar peluang untuk bisa kembali sehat tanpa kemoterapi lagi.

4. Taxol

Bagi penderita penyakit kanker payudara, penggunaan kemoterapi dengan racikan obat taxol menyebabkan dampak kerontokan semua rambut yang ada dalam tubuh pasien. Meskipun penggunaan obat taxol ini merupakan jenis yang paling tinggi dari sisi efek penggunaan, beberapa dokter tetap merekomendasikan penggunaan obat ini kepada pasien. Selain untuk mempercepat proses penyembuhan, dampak yang dialami pasien tentunya hanya bersifat sementara saja. Jadi setelah kemoterapi tuntas dilakukan, rambut tetap bisa tumbuh seperti sedia kala.

Baca artikel lain mengenai Madu dan Bawang Putih untuk Kanker

Obat Kanker Masa Depan

Begini Perkembangan Obat Kanker Masa Depan

Fakta Keganasan Penyakit Kanker di Dunia

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, kanker merupakan penyakit nomor satu yang paling diwaspadai karena paling banyak menyebabkan kematian. Meskipun sebenarnya, menurut catatan medis, penyakit kanker mempunyai urutan dibawah serangan jantung dengan istilah silent killer-nya.

Dalam satu tahun, para dokter mendiagnosis setidaknya 10 juta kasus kanker dengan penderita yang baru. Dengan statistik yang selalu naik, tren ini tentunya akan semakin berlipat ganda pada tahun 2020 nantinya. Faktanya, serangam penyakit kanker akan menyerang 1 di antara tiga orang dinegara maju.

Pro Kontra Kemoterapi Masa Kini

Kemoterapi merupakan jenis perawatan penyakit kanker yang paling banyak digunakan. Cara kerja kemoterapi yakni dengan memasukan obat – obatan tertentu ke dalam tubuh sehingga nantinya bisa membunuh sel kanker secara bertahap. Masalah lain muncul dari kemoterapi itu sendiri. Tidak jarang, sel atau jaringan sehat dalam tubuh juga ikut terkena imbasnya. Selain itu, efek samping kemoterapi yang dinilai sangat menyiksa juga menjadi pertimbangan utama para peneliti menemukan perawatan kanker dengan metode lain.

Selain kemoterapi, saat ini kemajuan teknologi juga menemukan perawatan kombinasi yang menggabungkan kemoterapi dengan perawatan lainnya. Penggabungan kemo bisa dikombinasi dengan imunoterapi hingga radiasi. Penggabungan ini bertujuan untuk mendapatkan dampak yang lebih maksimal.

Teknologi Molekuler Lengkapi Kinerja Kemoterapi

Riset atau penelitian terhadap kanker terus dilakukan untuk menemukan metode perawatan yang lebih efektif serta efisien. Penyakit kanker yang dapat di deteksi lebih awal tentu akan lebih mudah mendapatkan perawatan serta pengobatan yang sesuai. Dengan begitu, kelangsungan hidupnya juga lebih bisa bertahan lama. Molekuler ini nantinya akan sangat membantu perawatan penderita kanker. Sehingga terapi, baik itu kemo maupun imuno bisa mencapai target yang dituju secara lebih tepat.

Molekuler merupakan salah satu bentuk dari perkembangan teknologi dalam proses kemoterapi pasien kanker. Hal ini karena adanya perancangan antibodi monoklonal untuk membasmi kanker di tingkat molekuler. Penambahan antibodi ini ketika kemoterapi dipercaya dapat membuahkan hasil yang lebih masif. Cara kerjanya yakni obat kemoterapi melemahkan sel kanker sedangkan antibodi berfungsi sebagai penyerang terakhir untuk memastikan sel kanker benar – benar bersih.

Rekayasa Genenika untuk Membasmi Kanker Tanpa Merusak Sel Sehat

Pengobatan kanker dengan membunuh sel sesuai sasaran terus diteliti oleh para ilmuan. Terlebih kelemahan kemoterapi saat ini yakni dampak atau efek samping pasca menjalani terapi dianggap sebagai momok yang mengerikan. Tidak hanya itu, setelah berhasil lolos dari kanker pun pasien tetap mempunyai resiko terjangkit penyakit kanker kedua kalinya.

Penanganan kanker melalui kemoterapi didasarkan pada anatomi tubuh manusia. sedangkan teknologi mendatang akan memecahkan kanker melalui gen. Dengan begitu, sel atau jaringan dalam tubuh tidak akan terkena dampak dari proses penyembuhan kanker itu sendiri. Menanggapi hal ini, Paul Workman, Direktur The Institute of Cancer Research di Sutton mengatakan bahwa perawatan kanker di masa mendatang akan dipecahkan secara genetik. Sehingga setiap pasien kanker mempunyai struktur gen yang dilengkapi juga dengan profil ekspresi dari biopsi.

Taklukan Kanker dengan Memecahkan DNA Sel Kanker

Para ahli medis berusaha dengan keras melibatkan genetika untuk mengatasi penyakit kanker. Harapannya, melalui genetika inilah pasien dapat memperoleh perawatan paling personal. Para penderita kanker harus mengirimkan sample biopsi untuk di analisa terlebih dahulu. Setelah itu, tim medis akan melakukan ekstraksi DNA sel kanker dalam tubuh pasien guna memecahkan kode genetik sel kanker tersebut.

Berdasarkan kode genetik tersebut, peneliti akan mencari mutasi yang sesuai uji klinis sehingga dapat menemukan jenis perawatan paling tepat untuk pasien. Untuk mendeteksi sejak awal penyakit kanker, para beberapa peneliti juga berfokus pada upaya biopsi cair. Cara kerjanya yakni dengan mendeteksi segala macam kanker sedini mungkin melalui tes darah. Beberapa perusahaan di negara maju bahkan telah melakukan eksperimen terkait dengan tes darah ini.

Nanoteknologi, Serang Sel Kanker Tanpa Efek Samping Kemoterapi

Selain melalui genetika, pada masa mendatang pengobatan kanker juga akan menggunakan teknologi nano. Jika sekarang ini kemoterapi dilakukan dengan beragam efek samping hingga bahaya, teknologi nano ini nantinya akan membasmi kanker secara lebih smoot. Jadi sel atau jaringan lain dalam tubuh tidak akan mengalami kerusakan selama proses penyembuhan kanker.

Para peneliti di negara Swedia telah melaakukan pengembangan teknik penyembuhan kanker dengan menggunakan nanoteknologi. Cara kerjanya yakni dengan memanfaatkan pengontrolan nanoteknologi secara magnetis yang akan membuat sel – sel kanker menghancurkan dirinya sendiri tanpa berpengaruh pada jaringan disekitarnya. Penelitian lanjutan bahkan menunjukan bahwa pemanfaatan teknologi nano ini tidak hanya bisa digunakan untuk mengatasi kanker. Namun dapat juga digunakan untuk mengatasi penyakit diabetes tipe 1.

Terapi Kombinasi untuk Perawatan Kanker

Upaya penanganan kanker semakin gencar dilakukan oleh pemerintah. Mengingat penyakit ini tergolong penyakit kronis yang mematikan. Di negara maju seperti Amerika, bahkan presiden mencanangkan upaya nasonal untuk mengatasi kanker. Setidaknya membuat penyakit kronis ini dapat dikendalikan dengan bantuan obat maupun teknologi mutakhir.

Penanganan kanker melalui kemoterapi terus ditelaah. Para peneliti terus melakukan inovasi perawatan yang paling tepat dan efektif. Salah satunya yakni dengan menggabungkan kemoterapi dengan imunoterapi atau radiasi. Hal ini dimaksudkan peningkatan sistem imun setidaknya akan membuat tubuh mudah mengenali sel kanker lagi.

Nantinya sistem kekebalan tubuh inilah yang akan melawan sel kanker yang tersisa pasca kemoterapi. Penggunaan terapi kombinasi saat ini memang mulai dilakukan. Meskipun masih perlu pengembangan lebih dalam untuk memastikan jenis perawatan sesuai dengan jenis kanker yang diderita pasien.

Uji Coba Manusia Virtual Sebagai Bahan Prediksi Hasil Kemoterapi

Percobaan klinis selalu dilakukan oleh para peneliti penyakit kanker guna menemukan perawatan terbaik bagi pasien. Kemoterapi membutuhkan obat – obatan yang secara legal disetujui oleh medis dan pemerintah. Proses persetujuan penggunaan obat kemoterapi inilah yang membutuhkan waktu lama. Padahal kemungkinan obat tersebut tidak lolos uji juga besar. Untuk itu, penggunaan manusia virtual yang dilengkapi dengan jaringan biologis canggih ini bisa dijadikan bahan pengujian obat.

Cara kerja manusia virtual ini yakni dengan menggunakan organ on a chip yang mampu menganalisis banyak jenis obat dalam waktu singkat. Tentunya ilmuan bisa menelaah obat mana yang paling berdampak baik jika digunakan untuk kemoterapi pasien kanker.

Sensor Implan Mampu Memantau Kondisi Tubuh Pasca Kemoterapi

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa kemoterapi tidak hanya merusak sel kanker saja, namun nyatanya juga merusak jaringan disekitarnya juga. Hal inilah yang umumnya memicu timbulnya masalah baru seperti gangguan ginjal. Efek samping dari kemoterapi pun bisa terlihat secara fisik seperti kerontokan total pada rambut, mual dan lemas. Kondisi fisik pasien harus dalam keadaan prima sebelum melakukan kemoterapi. Hal ini supaya efek samping yang timbul nantinya juga dapat diatasi.

Perkembangan teknologi kemoterapi terus bermunculan. Salah satunya penanaman sensor implan pada jaringan tubuh manusia untuk memantau kondisi pasien pasca kemoterapi. Umumnya impan sensor ini akan ditanam pada kulit pasien, otomatis mulai dari suhu tubuh hingga tanda vital lainnya dapat terus terpantau. Sehingga nantinya dapat menjadi alarm penting bagi pasien atau perawat melakukan tindakan medis untuk menangani gejala yang timbul.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker di Penang