Category Archives: Kemoterapi

Kemoterapi dan Imunoterapi

Penyembuhan Kanker dengan Perpaduan Kemoterapi dan Imunoterapi

Mengenal Kemoterapi dan Cara Kerjanya

Kemoterapi merupakan upaya perawatan bagi penderita kanker yang paling populer. Obat kemoterapi ini bisa berupa pil atau suntikan melalui infus. Umumnya pasien akan mendatangi klinik atau rumah sakit ketika akan menjalani kemoterapi. Obat kemo untuk kanker sangatlah beragam. Obat ditentukan dari jenis kanker dan kondisi tubuh pasien. Hal ini karena cara kerja obat juga sangat beragam. Ada yang benar – benar membunuh sel kanker atau sekedar menghentikan pertumbuhan kanker.

Dokter biasanya akan membuat resep obat kemo bahkan merekomendasikan jenis terapi lain. Salah satu terapi modern untuk mengatasi kanker yakni kombinasi kemo dan terapi radiasi. Selain itu, ada juga jenis kombinasi terapi kanker yang memadukan kemo dengan imunoterapi. Perpaduan jenis terapi ini dipercaya mempunyai hasil yang lebih maksimal.

Mengenal Imunoterapi dan Cara Kerjanya

Imunoterapi merupakan cabang ilmu biomedis yang secara luas mencangkup segala hal mengenai sistem imun. Penerapan dari imunoterapi ini sangatlah luas, mulai dari cara kerja, malfungsi, karakter serta peranan fisiologis sistem imun itu sendiri. Imunoterapi kini juga mengerucut pada metode penyembuhan penyakit tertentu dalam tubuh.

Imunoterapi merupakan terapan dari ilmu biomedis yang menggunakan imun sebagai upaya penyembuhan penyakit kanker. Cara kerja imunoterapi ini tentunya mempunyai perbedaan dibandingkan penanganan kanker menggunakan kemoterapi ataupun terapi radiasi. Imunoterapi tidak hanya fokus menghancurkan sel kanker dalam tubuh saja, tapi lebih fokus pada upaya menambah sistem kekebalan tubuh itu sendiri.

Penerapan Kemoterapi dan Imunoterapi untuk Atasi Kanker

Jika sebelumnya kita telah membahas bahwa kemoterapi adalah upaya menghancurkan atau menahan laju pertumbuhan sel kanker. Sedangkan imunoterapi adalah upaya penanganan kanker dengan menguatkan sistem kekebalan tubuh itu sendiri sehingga sel kanker bisa dibersihkan secara perlahan. Dua upaya penanganan kanker ini tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangannya tersendiri.

Ada jenis penyakit kanker yang lebih sesuai menggunakan penanganan kemoterapi. Namun ada pula yang lebih susuai menggunakan imunoterapi karena beragam alasan. Tentunya keputusan mengenai cara mana yang akan dipilih merupakan hasil rekomendasi dokter ahli. Umumnya dokter akan lebih mengetahui mana proses yang paling sesuai untuk pasien kanker. Selain jenis penyakit kanker yang diderita, pertimbangan lain seperti kondisi fisik maupun riwayat penyakit juga menjadi pertimbangan sebelum memilih penanganan penyembuhan kanker.

Penelitian menemukan metode baru, yakni menggabungkan kemoterapi dan imunoterapi. Di Providence Cancer Center bahkan telah melakukan riset. Hasilnya cukup memuaskan ketika menggabungkan kemoterapi dan imunoterapi. Pasien penderita kanker memperoleh hasil yang lebih maksimal dibandingkan jika melakukan salah satu terapi saja.

Perpaduan Perawatan Kanker dengan Inovasi Terbaru (Radiasi, Kemoterapi, dan Imunoterapi)

Untuk menangani kanker, anda tidak hanya bisa memilih satu satu dari jenis penanganan. Tidak hanya kemoterapi, imunoterapi dan penggabungan keduanya saja. Jenis terapi radiasi juga lumayan menjanjikan untuk membersihkan sel kanker. Yang perlu anda perhatikan yakni ketepatan terapi dengan hasil yang didapatkan nantinya. Berikut ini perpaduan perawatan kanker dengan beragam inovasi terbaru.

1. Perpaduan Imunoterapi dengan Radiasi

Seorang ilmuwan, Dr. Kristina Young melakukan riset terhadap penerapan dari perpaduan imunoterapi dengan terapi radiasi membuahkan hasil yang lebih maksimal. Penggabungan imunoterapi yang disebut sebagai inhibitor TGF-beta ini apabila disatukan dengan terapi radiasi dapat membuat perawatan semakin membaik. Cara kerja perpaduan imunoterapi dan radiasi yakni dengan hilangnya sel yang dapat mencegah radiasi aktif sehingga nantinya akan membuat sel kekebalan anti kanker semakin menguat. Pada riset ini, Dr Kritina Young melibatkan penderita kanker rektum stadium II hingga III yang memang membutuhkan terapi radiasi dan kemoterapi.

2. Perpaduan Kemoterapi dengan Imunoterapi

Dalam istilah imunoterapi, protein yang bertugas menghambat jaringan meradang ataupun sel kanker dikenali oleh sel T disebut sebagai PD-1. Dalam penerapan imunoterapi untuk penderita kanker, para ilmuwan menggunakan antibodi yang menghambat PD-1. Antibodi ini disebut sebagai anti PD-1.

Uji klinis yang dilakukan oleh pakar onkologi melakukan perpaduan kemoterapi dengan imunoterapi pada kanker payudara. Proses penyembuhan kanker dengan kemoterapi akan membunuh dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Sedangkan imunoterapi akan mengenali sisa peradangannya, sehingga sel – sel kanker yang masih tersisa bisa dibersihkan secara tuntas.

3. Perpaduan Imunoterapi dan Radiasi

Memadukan imunoterapi dengan radiasi sebagai upaya penanganan penyakit kanker diteliti tidak hanya berhadil mengecilkan tumor, namun berguna juga untuk memaksimalkan penanganan kanker. Terapi radiasi atau SBRT berfungsi membersihkan sel kanker, sedangkan imunoterapi berfungsi sebagai pemicu meningkatnya reaksi sistem imun tubuh dalam menghadapi sel – sel kanker dalam tubuh itu sendiri.

Cara Kerja Kemoterapi dan imunoterapi dalam Membasmi Sel Kanker

Kemoterapi menggunakan racikan obat – obatan tertentu yang mempunyai cara kerjanya masing – masing. Terdapat obat kemo yang membunuh sel kanker maupun sel sehat atau hanya membunuh sel kanker. Ada pula jenis obat kemo yang menghambat laju pertumbuhan sel kanker dengan cara menjauhkannya dari pembuluh darah yang tumbuh. Sedangkan imunoterapi lebih berfokus pada upaya peningkatan sistem imun dalam tubuh. Sehingga sel – sel kanker dapat terkikis perlahan. Tentu saja jenis perawatan ini membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan kemoterapi.

Meskipun kemoterapi bisa membersihkan sel kanker dalam tubuh, namun tidak bisa dipungkiri kesempatan sel kanker tumbuh kembali dikemudian hari tetap ada. Untuk mengatasi masalah ini, ilmuwan mulai menerapkan terapi kombinasi yang terdiri dari penggabungan kemoterapi dan imunoterapi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan hasil perawatan yang lebih maksimal. Setelah sel – sel kanker dibersihkan melalui kemoterapi, pasien juga menjalani imonuterapi supaya sisa – sisa sel kanker tidak bisa tumbuh kembali dikemudian hari.

Kemoterapi dan imunoterapi Efektif Tingkatkan Harapan Hidup Pasien Kanker

Penggabungan kemoterapi dan imunoterapi sangat tepat dijalani oleh penderita kanker paru – paru. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kanker Perlmutter New York. Dalam uji klinis tersebut ditelaah mana jenis perawatan yang paling tepat untuk penderita kanker paru – paru. Hasilnya ialah kombinasi kemoterapi dan radiasi untuk membunuh sel – sel kanker.

Perawatan tambahan lainnya yakni dengan imunoterapi yang mampu meningkatkan harapan hidup pasien. Risiko kematian dapat berkurang sebanyak 51% jika pasien penderita kanker paru – paru menjalani pengobatan pembrolizumab, platinum dan pemetrexed. Dengan menurunnya kemungkinan perkembangan sel kanker, maka harapan hidup pasien dapat meningkat.

Mengapa Perpaduan Kemoterapi dan imunoterapi Bisa Dapatkan Hasil Lebih Maksimal?

Penyembuhan kanker dengan menggabungkan kemoterapi dan imunoterapi dinilai mempunyai dampak yang lebih maksimal. Melakukan pendekatan dengan keduanya secara tidak langsung akan membuahkan efek yang berlipat ganda. Terlebih setelah kemoterapi dinyatakan berhasil, tidak sedikit sel – sel yang ikut mati dan meninggalkan protein. Dalam kondisi ini, apabila pasien juga menjalani imunoterapi maka sistem imun tubuh akan kembali aktif.

Sistem kekebalan tubuh inilah yang akan membunuh sisa – sisa sel kanker pasca kemoterapi. Dengan begitu, kemungkinan sel kanker akan tumbuh kembali dikemudian hari bisa diminimalisasi. Meskipun kemoterapi dan imunoterapi sangat masif membunuh sel kanker, namun tidak semua pasien bisa menggunakan gabungan perawatan jenis ini karena beragam alasan medis. Penanganan penyakit kanker mempunyai perbedaan antar satu pasien dengan pasien lainnya.

Efek Samping Proses Penyembuhan Kanker dengan Kemoterapi dan imunoterapi

Jenis perawatan paling mutakhir pun pastinya akan memunculkan efek samping bukan? terlebih untuk penyakit yang tergolong berat seperti kanker. Umumnya pasien yang menjalani terapi kombinasi ini akan mengalami rasa mual, kurang darah atau anemia, tubuh lemah, hingga yang paling parah yakni berisiko mengalami cidera ginjal yang akut. Sedangkan ciri – ciri fisik yang nampak yakni rontoknya rambut pasien.

Sedangkan efek samping menjalani imunoterapi untuk meningkatkan sistem imun tubuh biasanya akan mengalami gejala yang mirip dengan flu yakni demam, lemas dan menggigil. Dampak yang lebih parah yakni pembengkakan tubuh akibat cairan ekstra, jantung berdebar, hingga diare.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker di Penang

Setelah Kemoterapi Selesai

Tips Memulai Gaya Hidup Baru Setelah Kemoterapi Selesai

Setelah melakukan kemoterapi, penderita kanker akan merasakan dampak kepada kesehatannya. Seperti menjadi lebih lemas, kurang nafsu makan, dan lain sebagainya. Maka dari itu siapa pun yang sudah melakukan kemoterapi harus memulai gaya hidup sehat.

Meski kanker sudah hilang karena kemoterapi, tapi Anda harus tetap menjaga kesehatan. Maka dari itu Anda tidak bisa hidup sebebas dulu lagi karena ada banyak hal yang menjadi pantangan, seperti kegiatan, makanan, dan lain sebagainya.

Hal yang Terjadi Setelah Kemoterapi

Kemoterapi adalah pengobatan yang menggunakan obat kimia untuk menghilangkan atau mencegah sel-sel kanker menyebar ke seluruh tubuh. Proses kemoterapi akan berpengaruh kepada seluruh tubuh sehingga sering menimbulkan efek samping. Oleh karena obat kemoterapi akan menyebar ke aliran darah sehingga mampu menghancurkan sel yang terkena kanker maupun yang sehat.

Ada banyak sekali hal yang mungkin terjadi setelah kemoterapi dilakukan. Ada yang jangka pendek atau hanya setelah kemoterapi, ada juga yang jangka panjang. Hal-hal yang akan terjadi setelah kemoterapi antara lain, mual dan muntah, kelelahan, risiko infeksi, rambut rontok, pendarahan dan memar, anemia, kesuburan, lemah konsentrasi, dan lain sebagainya.

Untuk mengatasi itu semua maka Anda harus mengonsumsi makanan-makanan yang sehat. Setiap efek samping yang ditimbulkan memiliki jenis makanan berbeda-beda untuk dikonsumsi.

Gaya Hidup Sehat Setelah Kemoterapi dengan Makanan

Makanan bisa menjadi obat atau bahan untuk mencegah berbagai penyakit. Termasuk dalam menyembuhkan efek samping setelah kemoterapi maupun mencegah kanker untuk kembali lagi. Ada banyak sekali jenis-jenis makanan yang bisa Anda konsumsi setelah melakukan kemoterapi. Akan lebih baik lagi jika menjadi menu sehat sehari-hari.

Beberapa makanan yang paling baik untuk dikonsumsi setelah kemoterapi antara lain:

1. Jahe dan Telur

Dua jenis makanan ini punya kemampuan yang sangat baik dalam membuat kesehatan penderita kanker setelah kemoterapi menjadi lebih baik. Jahe memiliki kandungan yang punya sifat anti inflamasi. Memiliki fungsi untuk mengurangi kebiasaan mual dan muntah sesudah atau selama pasien sedang melakukan kemoterapi.

Sementara telur punya banyak sekali kandungan protein, vitamin E, vitamin D, dan vitamin B. Kandungan-kandungan ini dapat membantu tubuh untuk terhindar dari efek samping akibat obat kemoterapi yang sangat keras.

2. Sayur-sayuran

Tentu saja semua orang sudah tahu bahwa sayur-sayuran punya kandungan nutrisi yang memberikan dampak baik kepada kesehatan. Sayuran yang paling baik adalah yang berwarna hijau. Di dalamnya terdapat kandungan berupa vitamin A, vitamin E, vitamin K, dan zat besi. Zat besi punya manfaat untuk lancarkan sel darah merah dan peredaran oksigen ke seluruh tubuh. Kedua hal ini sangat penting bagi kesembuhan penderita kanker yang telah melakukan kemoterapi.

3. Kacang-kacangan

Kandungan yang baik dari kacang-kacangan adalah protein dan vitamin B. Fungsinya adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan memperbaiki sel tubuh. Terutama bagi pasien yang sudah dan sedang melakukan kemoterapi.

4. Kentang yang Ditumbuk

Makanan ini akan mudah sekali untuk dicerna sehingga sangat membantu para pasien kanker setelah kemoterapi. Kentang bisa dijadikan makanan untuk mencegah penurunan berat badan. Cara untuk mengonsumsinya yang paling baik adalah mencampurkannya dengan susu dan mentega.

5. Puding

Apabila ingin mengonsumsi makanan ringan maka bisa menjadikan puding sebagai camilan. Lebih baik dengan membuatnya sendiri dari bahan-bahan yang baik bagi para pasien kemoterapi. Bahannya bisa ditambah susu agar nutrisinya banyak.

6. Yogurt

Yogurt bisa menjadi minuman yang baik sekali bagi pasien yang sudah melakukan kemoterapi. Manfaatnya adalah mencegah penyakit diare dan turunnya berat badan dari pasien.

Selain itu banyak jenis makanan lainnya. Antara lain kismis, apricot, daging, kacang polong, sayuran hijau, dan lain sebagainya seperti makan makanan yang punya kandungan antioksidan, misalnya greentea. Anda masih boleh makan makanan yang favorit tapi harus terkontrol.

Gaya Hidup Sesudah Kemoterapi dengan Kebiasaan

Anda harus melakukan gaya hidup yang baru setelah kemoterapi. Namun gaya hidup ini harus dijadikan kebiasaan baru, bukan hanya setelah kemoterapi saja. Berikut ini bagaimana saja gaya hidup baik sesudah kemoterapi yang harus dilakukan sampai kapan pun agar kesehatan tetap terjaga.

1. Olahraga Teratur

Dengan olahraga teratur maka Anda dapat membuat tubuh lebih fit sehingga selalu bugar dan sehat. Penyakit-penyakit yang berbahaya tidak akan mampu menyerang Anda. Dengan olahraga juuga metabolisme bisa berjalan dengan sangat baik. Jadinya kualitas kesehatan Anda bisa menjadi lebih maksimal.

Jika Anda yang tidak mau terkena kanker pun harus melakukan olahraga dengan teratur.

2. Harus Istirahat Cukup dengan Pola Tidur yang Baik

Siapa pun itu pastinya perlu istirahat yang cukup demi menjaga kesehatannya. Apalagi bagi orang-orang yang punya banyak pekerjaan. Jika orang sehat saja butuh istirahat yang cukup, apalagi bagi orang yang habis melakukan kemoterapi. Istirahat sangat penting dilakukan agar tubuh dan otak ikut istirahat sejenak.

Jika sudah capai, tapi tetap dipaksakan bekerja maka bisa membuat risiko penyakit bisa datang. Apalagi setelah Anda melakukan kemoterapi, pastinya ketahanan tubuh tidak akan seperti dulu lagi. Untuk menjaga istirahat yang cukup maka Anda harus punya pola tidur yang cukup dan baik.

Waktu tidur yang cukup adalah per malamnya selama 7 jam. Lalu jangan tidur terlalu larut malam, maksimal jam 11 malam saja.

3. Jaga Berat Badan

Jika berat badan terlalu besar maka risiko terkena penyakit kanker semakin besar. Makanya harus terus dijaga, begitu juga dengan orang yang baru menyelesaikan kemoterapi. Ada banyak cara untuk menjaga berat badan yang baik, seperti menjaga pola makan dengan yang sehat, olahraga, dan lain sebagainya.

4. Jangan Merokok

Bagi kebanyakan orang Indonesia terutama pria, merokok seperti sebuah kebutuhan pokok. Padahal menyimpan bahaya bagi tubuh. Jika orang sehat saja disarankan tidak merokok apalagi Anda yang baru selesai kemoterapi atau sudah menderita kanker. Merokok ini dapat membuat kerusakan pada paru-paru sehingga menyebabkan kanker paru.

5. Sering Pijat

Pijat dapat membuat Anda menjadi lebih tenang dan rileks makanya akan lebih baik jika sering melakukannya. Pijatan juga dapat membuat pasien kanker yang akan menjalani kemoterapi menjadi lebih rileks dan tenang.

6. Jaga Kebersihan Tubuh

Jika Anda termasuk orang yang malas mandi atau tidak terlalu bersih maka mulai selesai melakukan kemoterapi harus berubah. Anda harus mandi setiap hari supaya kuman-kuman tidak akan ada di tubuh Anda. Biasanya kuman ini termasuk yang membuat penyakit sering muncul.

Lalu harus membersihkan tangan dengan air panas dan sabun secara rutin. Apalagi sebelum menyiapkan makanan atau habis buang air. Selain kebersihan tubuh, Anda juga harus memerhatikan kebersihan dari benda-benda yang digunakan setiap hari. Seperti seprai, handuk, dan baju. Semua itu harus dicuci secara rutin.

7. Tenangkan Pikiran

Anda harus biasakan bersyukur atas semua hal yang terjadi. Pikiran yang tenang dan baik akan memberikan energi positif bagi tubuh.

Itulah dia informasi mengenai tips memulai gaya hidup baru setelah melakukan kemoterapi. Semoga dengan mengikuti tips ini kesehatan Anda bisa lebih terjaga.

Baca artikel lain mengenai Pengobatan Kanker di Penang

Mengatur Rencana Kemoterapi

Mengatur Rencana Kemoterapi dengan Dokter Onkologi Bagi Penderita Kanker Payudara

Kemoterapi adalah salah satu bentuk pengobatan kanker paling ampuh. Untuk melakukannya butuh pertimbangan dan rencana yang sangat matang. Oleh karena termasuk pengobatan yang sangat beresiko. Terbukti dengan banyaknya kasus kegagalan penyembuhan kanker maupun efek samping yang ditimbulkan.

Sebelum melakukan kemoterapi Anda harus membicarakan hal ini dengan dokter onkologi, yaitu dokter spesialis kanker. Anda diharuskan bertanya banyak hal sebelum memutuskan untuk melakukan kemoterapi. Selain itu juga butuh dokter onkologi yang tepat.

Ketahui Hal-hal Mengenai Kemoterapi

Sebelum mempersiapkan diri ketika akan melakukan kemoterapi setidaknya Anda harus tahu dulu mengenai apa saja efek samping yang bisa ditimbulkan maupun bagaimana cara untuk melakukan kemoterapi. Selain dengan menanyakan dan membicarakannya dengan dokter onkologi Anda, di bawah ini juga ada informasinya untuk Anda.

Cara melakukan kemoterapi biasanya dengan memberikan pil kepada pasien yang langsung dimasukkan ke bagian pembuluh darah menggunakan suntikan. Selain itu ada acara lainnya untuk melakukan kemoterapi.

Cara lainnya adalah dengan langsung mengarahkannya ke bagian tumor. Jika tumor ada di payudara maka langsung arahkan ke payudara. Sebelum melakukan kemoterapi bisa saja dokter onkologi Anda menyarankan untuk operasi terlebih dulu.

Apabila melakukan operasi sebelum kemoterapi maka tujuannya adalah supaya kanker yang ada di dalam tubuh berkurang dulu. Jadi dosis obat yang diberikan untuk sementara api tidak perlu terlalu banyak. Semakin sedikit dosis obat yang digunakan maka semakin kecil efek sampingnya akan ditimbulkan.

Supaya tahu lebih jelas maka ada baiknya Anda langsung menanyakannya kepada dokter spesialis kanker yang menangani Anda.

Selain dengan suntikan kemoterapi juga bisa dilakukan dengan menggunakan krim. Biasanya untuk jenis kanker kulit. Selain itu kemoterapi juga dapat diarahkan ke bagian tubuh tertentu menggunakan pengobatan loka. Ada yang langsung ke sistem saraf pusat dada perut atau kandungan kemih.

Lalu ada obat yang bentuknya cairan. Cara menggunakannya bisa langsung dimasukkan ke bagian tubuh tapi ada juga yang harus menggunakan alat port yang menggunakan jarum. Setiap kali Anda melakukan pengobatan maka obat kemoterapi itu akan selalu dimasukkan. Untuk cara dengan menggunakan alat port ini mungkin sedikit menyakitkan ketika dipasang untuk pertama kalinya.

Mengatur Rencana Kemoterapi Kanker Payudara

Setelah semua hal-hal di atas diperhatikan maka selanjutnya Anda hanya perlu mengatur rencana kemoterapi dengan dokter. Berikut ini tips ketika sedang membuat rencananya.

  • Anda harus berkonsultasi dengan dokter mengenai kapan sebaiknya kemoterapi dilakukan. Dokter pastinya akan tahu waktu yang tepat untuk melakukannya. Untuk pasien kanker payudara, tidak semuanya perlu dikemoterapi.
  • Apabila memang harus dikemoterapi maka ketika mengatur rencana ini Anda harus bertanya kepada dokter mengenai obat apa yang digunakan. Dokter akan memberikan jenis obat yang sesuai dengan kondisi Anda.
  • Lalu dokter akan memberitahu bagaimana caranya kemoterapi diberikan. Lalu berapa lama sekali jarak antara kemoterapi pertama sampai terakhir.

Setelah itu tentukan jadwal kemoterapi dengan dokter.

Menentukan Jadwal Kemoterapi

Biasanya kondisi Anda akan menentukan jadwal kemoterapi yang harus dilakukan. Seperti jenis kemoterapi apa yang harus digunakan atau berapa kali Anda perlu mendapatkan obat kemoterapi. Supaya dapat berjalan lancar maka keadaan tubuh Anda harus baik.

Jika tidak maka jadwal kemoterapi bisa berubah karena apabila dipaksakan efeknya akan berkurang. Jadwal akan berubah apabila Anda benar-benar tidak dapat melakukan kemoterapi pertama. Setelah melakukan kemoterapi pertama maka Anda tetap harus menjaga kesehatan tubuh. Alasannya supaya proses kemoterapi tidak terputus. Apabila terputus maka Anda harus melakukan kemoterapi dari tahap awal.

Tim dokter yang menangani Anda perlu selalu melakukan pemantauan terhadap efektivitas pengobatan yang dilakukan. Tentunya harus dengan melalui berbagai pemeriksaan. Jenis pengobatan bisa saja disesuaikan dengan hasilnya apabila ternyata kemoterapi yang sebelumnya belum cukup efektif untuk menghilangkan sel sel kanker.

Agar semuanya lancar maka Anda harus terbuka kepada dokter dan menjaga komunikasi. Anda bisa menceritakan terhadap efek apa yang ditimbulkan akibat kemoterapi atau apa dampak dari kemoterapi yang paling mempengaruhi Anda. Dengan seperti ini maka dokter akan lebih baik dalam menangani Anda.

Setelah melakukan berbagai konsultasi dan mendapatkan jadwal kemoterapi maka Anda harus melakukan serangkaian tes. Mungkin butuh waktu yang lama karena jumlah tes yang dilakukan pun ada banyak.

Tes Sebelum Kemoterapi

Tes belum kemoterapi perlu dilakukan karena hasilnya nanti dapat memberikan informasi yang lebih detil kepada dokter. Dokter onkologi Anda akan tahu pengobatan seperti apa yang paling cocok untuk Anda. Selain itu hasil tes juga dapat berguna untuk membuat dokter tahu apakah kemoterapi yang dilakukan sudah cukup baik atau belum.

Beberapa tes yang harus Anda lakukan sebelum menjalani kemoterapi, antara lain:

  • Tes Paru-paru

Oleh karena ada beberapa obat kamu yang dapat membuat kita dia paru-paru jadi lebih buruk maka tes ini harus dilakukan. Dokter harus tahu mengenai fungsi dari paru Anda. Dengan begitu dokter bisa mengukur seberapa baik udara yang ada di dalam paru dapat bertahan. Kemudian menentukan seberapa hebatnya tubuh Anda dalam mengambil oksigen dari luar.

  • Tes Jantung

Sama seperti untuk paru-paru obat kamu juga dapat membuat kerusakan pada bagian otot jantung. Jika seperti ini maka kamu terapi bukannya menyembuhkan Anda justru menambah penyakit lain.

Ritme jantung sangat berpengaruh terhadap tak hasil dari kemoterapi. Apabila ritme nya berubah maka artinya otot jantung telah mengalami sedikit kerusakan. Namun nantinya setelah kemoterapi selesai dikerjakan maka semuanya akan hilang dan membaik seperti sedia kala.

  • Tes Ginjal

Cara untuk mengetahui kondisi ginjal al adalah dengan melakukan tes urine dan darah. Tes ini bertujuan untuk mengetahui fungsi ginjal apa bisa ginjal dalam keadaan baik maka kemoterapi akan menjadi lebih efektif.

  • Tes Hati

 Untuk mengetahui kondisi hati atau liver diperlukan juga tes darah supaya dokter tahu kinerja dari hati Anda. Apabila hati Anda sehat maka pembuangan obat kamu akan berlangsung dengan sangat baik.

Perlu Anda ketahui bahwa banyak sekali jumlah obat kemo yang masuk ke dalam tubuh dan diproses oleh hati. Apabila hati Anda tidak baik maka obat-obat tersebut tidak bisa keluar atau sulit keluar dari tubuh.

  • Tes Hepatitis dan HIV

Untuk pengecekan dua penyakit ini tidak semua rumah sakit memiliki kebijakannya. Jadi mungkin ada tidak perlu melakukan tes ini meski memang patut juga untuk diketahui apakah Anda mengidap dua penyakit ini atau tidak.

Namun di beberapa negara jika ada pasien yang tidak berkenan maka boleh tidak mengikuti tes ini.

Selain tes yang dilakukan sebelum melakukan kemoterapi pertama, Andai juga harus selalu melakukan tes rutin setiap kali akan menjalani kemoterapi. Bagian yang di atas secara rutin adalah darah. Biasanya dilakukan satu atau dua hari sebelum kemoterapi dilakukan.

Pada saat itu dokter akan menghitung jumlah atau keadaan dari sel darah putih sel darah merah dan keping darah. Jika hasil tes menunjukkan kadar dari sel darah merah terlalu sedikit maka pasien mungkin perlu mendapatkan transfer si darah. Sedangkan jika sel darah putih yang sedikit apa terlalu rendah maka kemoterapi dapat membahayakan.

Apabila hasil tes darah bagus maka dokter akan membolehkan Anda untuk melakukan kemoterapi yang sesuai dengan jadwal.

Oleh karena setiap orang itu berbeda-beda jenis kankernya maka setiap orang punya rencana terapi yang beragam. Tentunya sesuai dengan keadaan pasien dan anjuran dari dokter. Supaya tidak salah melangkah tentu saja harus mendapatkan dokter onkologi yang terbaik.

Itulah dia informasi mengenai cara mengatur rencana kemoterapi dengan dokter onkologi. Semoga informasinya bermanfaat untuk Anda.

Baca artikel lain mengenai Deteksi Dini Kanker Serviks