All posts by Eddy

Obat Herbal atau Obat Kimia

Obat Herbal atau Obat Kimia untuk Kanker Pilih Mana?

Meski alami belum tentu aman.

Pengobatan herbal sudah lama digunakan oleh masyarakat sebagai alternatif untuk mengobati  penyakit. Obat herbal diyakini memiliki efek samping lebih sedikit ketimbang obat kimia. Ada obat herbal yang diolah dan dikonsumsi langsung oleh penderita ada pula yang sudah berbentuk racikan, pasien hanya perlu mengkonsumsinya saja.

Aman tidaknya obat herbal dikonsumsi masih menjadi perdebatan. Pasalnya tidak semua tnaman herbal dapat dikonsumsi begitu saja. Sama dengan obat kimia ada aturan main yang harus diikuti oleh pasien agar mendapat hasil maksimal tanpa efek samping.

Bukan hanya di Indonesia, obat herbal juga digunakan oleh pasien di banyak negara. Obat herbal digunakan sebagai pelengkap pengobatan modern yang mereka jalani. Organisasi kesehatan dunia, WHO pun merekomendasi penggunaan tanaman herbal sebagai pengobatan alternatif. Namun perlu diperhatikan apakah tanaman tersebut sudah melalui uji laboratorium atau belum. Ini penting jika hanya mempercayai ‘kata orang’ dan tanpa mencari tahu lebih lanjut tentang tanaman herbal yang disarankan bisa berakibat fatal.

Salah satu penyakit yang paling ditakuti adalah kanker. Selain mematikan pengobatan penyakit ini tidaklah mudah. Banyak pasien kanker yang memilih tanaman herbal sebagai alternatif, seperti mengkudu, daun sirsak, buah mahkota dewa, jahe, sarang semut, dan lain-lain. Tanaman herbal tersebut diyakini mampu mengatasi beragam jenis kanker.

Apa Itu Obat Herbal?  

Herbal adalah tanaman yang memiliki manfaat lebih untuk pengobatan. Dalam tanaman tersebut mengandung bahan atau zat aktif yang bermanfaat bagi pengobatan. Herbal bisa juga berbentuk tanaman obat, dalam perkembangannya herbal diolah dan menjadi pengobatan alternatif.  

Obat herbal bersifat alami dan organik. Obat herbal berasal dari ekstrak atau saripati tumbuhan yang mempunyai manfaat untuk kesehatan tanpa adanya campuran bahan kimia.  Satu jenis tanaman obat bisa mengandung beragam zam yang diyakini dapat menyembuhkan beragam penyakit. Bukan hanya berasal dari tanaman, obat herbal juga bisa bersumber dari hewan seperti gamat yang berasal dari teripang, madu dan propolis dari lebah, minyak ikan hiu, dan sebagainya.

Banyak sudah riset terkait obat herbal dilakukan agar tak sembarangan memilih. Riset tersebut juga membuktikan bahwa ada banyak jenis obat-obatan yang berasal dari alam.  Untuk menyembuhkan dan mencegah penyakit kita bisa memanfaatkan alam sekitar. Selain itu, obat-obatan herbal juga relatif mudah didapatkan sama seperti obat kimia.

Tips Memilih Obat Herbal yang Tepat

Sama dengan obat kimia atau obat modern, penggunaan obat herbal harus tepat. Ada dosis dan cara penggunaan yang diperhatikan dan dipatuhi. Tujuannya juga sama agar tidak menimbulkan efek samping atau over dosis bagi pasien. Dosis yang tepat juga diyakini dapat memberikan kesembuhan bagi pasien. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah ketelatenan dalam mengkonsumsi obat. Jika hanya sesekali mengkonsumsi maka tidak akan memberikan efek apapun pada pasien.

Kanker adalah salah satu penyakit mematikan paling tinggi di dunia. Pengobatan medis yang lazim dilakukan antara lain operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Pengobatan tersebut memang dapat menghambat dan mematikan sel kanker. Namun di beberapa kasus justru memberikan efek samping negatif bagi penderita. Itu sebabnya tidak sedikit penderita kanker yang memilih pengobatan herbal. Ada pula yang memadukan pengobatan herbal dengan pengobatan kimia.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memilih obat herbal, yakni:

  • Pertama Kebenaran bahan. Satu tanaman herbal bisa memiliki jenis yang berbeda. Demikian pula dengan manfaat yang diberikan. Misal satu tanaman memiliki dua jenis, jenis pertama memiliki efek melangsingkan dan satu lagi justru menambah nafsu makan. Hal ini perlu diperhatikan agar tidak salah memilih dan mengkonsumsinya.
  • Kedua ketepatan dosis. Sama dengan obat kimia bikinan pabrik, bahwa penggunaan obat herbal harus tepat dan mengikuti aturan main.  Ada dosis yang harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Ingat, kondisi satu pasien dengan pasien lainnya tidaklah sama. Misal buah mahkota dewa yang hanya bisa dikonsumsi dengan perbandingan satu buah dengan tiga gelas air. Daun hiu atau daun baru cina memiliki efek lebih maksimal jika dipadukan dengan tanaman lain yang mengandung zat besi. Penggunaan obat herbal jika sudah berlebihan justru akan membahayakan bagi pasien.
  • Ketiga ketepatan waktu penggunaan. Biasanya obat herbal digunakan atau diminum dua kali dalam sehari, pagi dan malam. Ini penting diperhatikan. Bahkan ada obat herbal yang dikonsumsi di jam-jam tertentu dan harus sama setiap harinya.
  • Keempat ketepatan informasi. Bagi penderita kanker misalnya, sering disarankan untuk meminum atau mengkonsumsi tanaman tertentu yang diyakini sebagai obat. Jangan asal menuruti ‘kata orang’ cari tahu dulu informasi yang benar-benar tepat dan akurat. Termasuk apakah tanaman tersebut telah melalui uji laboratorium, efek samping dari tanaman tersebut, kadar konsumsi, dan bagaimana cara mengolahnya. Perhatikan pula apakah perlu tambahan tanaman lain ketika dikonsumsi.
  • Kelima manfaat atau kegunaannya.Satu tanaman obat bisa mengandung banyak zat. Ini perlu diperhatikan. Masih ingat kasus orang menanam ganja untuk pengobatan penyakit langka sang istri? Lazim diketahui ganja adalah tanaman terlarang karena mengandung psikotropika. Namun di sisi lain dia juga bermanfaat untuk mengobati penyakit. Ini perlu diperhatikan karena banyak tanaman herbal yang juga mengandung zat-zat berbahaya meski kadarnya tidak banyak.

Efek samping obat herbal memang sangat minim namun jika digunakan secara tepat secara ukuran, dosis, dan waktu penggunaannya. Sekarang ini juga banyak obat herbal yang sudah diolah dalam bentuk kapsul atau minuman.  Pasien juga harus memperhatikan kandungan yang terdapat pada obat herbal yang sudah diolah tersebut.

Memadukan Obat Herbal dan Obat Kimia?

Tidak sedikit orang yang berobat ke dokter namun juga mengkonsumsi obat-obatan herbal.  Adapula yang menggunakan obat-obatan herbal, tidak cocok lantas baru berobat ke dokter. Satu hal yang perlu diingat kondisi setiap orang tidaklah sama sehingga konsumsi obatpun bisa berbeda.

Obat herbal memang semula dirasakan akan baik-baik saja ketika dipadukan dengan obat kimia. Badan pasien terasa lebih fit dan mampu beraktivitas kembali. Namun pada waktu tertentu kondisi pasien bisa jadi menurun karena kandungan obat yang kontradiktif bisa menimbulkan efek lain bagi tubuh.

Ini menjadi penting ketika harus memadukan obat herbal dan kimia adalah jarak waktu penggunaannya. Misal ketika menggunakan obat herbal ada baiknya stop menggunakan obat kimia. Sebaliknya ketika menggunakan obat kimia ada baiknya stop menggunakan obat herbal. Tujuannya agar pasien dapat merasakan efek obat-obatan tersebut pada badan. Apalagi jika digunakan bebarengan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu. Apalagi untuk penyakit yang tergolong berat seperti kanker, jantung, tekanan darah tinggi, dan lain-lain. Jangan sampai bukannya berefek menyembuhkan justru menimbulkan penyakit baru.

Jika digunakan bersamaan, pasien tidak akan bisa mengetahui reaksi obat mana yang benar-benar sesuai untuknya. Selain itu penting diperhatikan dosis dan cara mengkonsumsinya. Ini berlaku untuk semua pasien yang mengidap kanker atau penyakit berat lainnya.

Untuk pasien kanker ada baiknya ketika memutuskan untuk berobat herbal harus benar-benar mengetahui kondisinya Selain itu, juga memperhatikan kandungan obat hermal yang dipilih.

Baca artikel lain mengenai Meditasi Penyembuhan Kanker

Pengobatan Herbal Kanker Payudara

Pengobatan Herbal Kanker Payudara dengan Daun Baru Cina

Harus dipadukan dengan zat besi agar efektif.

Kanker payudara berada di posisi atas paling rentan diderita perempuan, setelah kanker serviks.  Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 prevalensi tumor atau kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Kanker serviks dan kanker payudara  menempati posisi tertinggi paling banyak pengidap di Indonesia.

Kasus kanker payudara di Singapura juga menjadi momok bagi kaum perempuan. Bahkan kanker payudara menjadi penyebab kedua tertinggi kematian perempuan di Singapura.  Banyak perempuan seringkali tak menyadari dirinya terjangkit kanker payudara. Bahkan datang ke rumah sakit ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Pertumbuhan sel tumor ganas pada jaringan payudara menjadi awal mula pertumbuhan kanker payudara. Sama dengan kanker lainnya, sel kanker payudara dapat menyebar ke jaringan atau organ tubuh lainnya. Kanker payudara sebagian besar diidap oleh perempuan, namun tidak menutup kemungkinan juga menyerang kaum laki-laki, meski persentasenya sangat kecil. Kanker payudara menyerang sebagian besar perempuan memproduksi hormon progesteron dan esterogen.

Kanker Payudara Jadi Momok?

Penyebab paling  mungkin seseorang  mengidap kanker payudara adalah garis keturunan.  Jika memiliki garis keturunan pernah mengidap kanker payudara, wajib waspada terhadap diri sendiri. Garis keturunan tersebut bisa dilihat dari ibu, adik perempuan ibu, dan saudara kandung perempuan.

Hal lain yang bisa menjadi penyebab kanker payudara adalah siklus menstruasi terlalu dini, sebelum usia 12 tahun. Menstruasi pada usia dini tersebut rupanya dapat memicu kanker. Kendati tidak bisa disamakan antara perempuan satu dan lainnya, hal ini wajib diwaspadai dan diantisipasi salah satunya dengan menjaga pola hidup sehat.

Perempuan yang berusia di atas 40 tahun, belum pernah hamil dan menyusui juga rentan terkena kanker payudara. Perempuan yang hamil di atas usia 30 tahun juga masuk kategori rentan terkena kanker payudara. Selain itu, penggunaan  KB hormonal seperti suntik dan pil juga bisa menjadi pemicu timbulnya kanker payudara.

Gaya hidup juga ikut andil jadi penyebab kanker payudara. Konsumsi alkohol berlebih, makanan yang mengandung bahan kimia, dan makanan berlemak juga bisa memicu timbulnya kanker payudara. Itu sebabnya menjaga keseimbangan makanan dan mengatur pola hidup sehat menjadi penting bagi setiap perempuan. Banyak perempuan Indonesia dekat dengan pemicu kanker payudara tersebut, itu sebabnya sampai sekarang kanker payudara menjadi momok.

Deteksi dini kanker payudara bisa dilakukan sendiri di rumah. Setiap perempuan bisa memeriksa kondisi payudaranya. Apabila terdapat tanda-tanda fisik, disarankan segera memeriksakan diri ke dokter. Banyak orang mengabaikan deteksi dini ini dan ketika memeriksakan diri sudah berada di stadium lanjut.

Penderita kanker payudara biasanya akan menemukan adanya benjolan di payudara mereka. Namun mereka seringkali mengabaikan gejala awal tersebut karena tidak terasa nyeri. Tanda lainnya adalah terdapat luka di bagian puting payudara yang tak kunjung sembuh. Selain itu adanya perubahan tekstur kulit payudara yang mengeras dan terlihat seperti kulit jeruk. Selain itu, penderita akan merasakan gatal di sekitar puting sampai menimbulkan ruam. Adanya cairan yang keluar dari puting berupa darah atau nanah yang berwarna kuning kehijauan. Jika mengalami tanda-tanda tersebut segera memeriksakan diri untuk mengetahui lebih lanjut apakan kanker yang diderita masuk ke stadium dini ataukah sudah memasuki stadium lanjut.

Sampai saat ini pengobatan kanker secara medis dilakukan melalui operasi, radioterapi, dan kemoterapi.  Banyak penderita kanker saat ini memilih pengobatan alternatif dengan mengkonsumsi tanaman herbal yang diyakini bisa menyembuhkan.

Tanaman Herbal, Turunkan Risiko Kanker Payudara

Pengobatan herbal jadi alternatif karena tidak menimbulkan efek samping apapun. Selain itu, lebih murah dan mudah didapatkan di sekitar kita. Namun perlu dicermati kadar penggunaan dan cara pengolahannya harus benar-benar sesuai. Ada banyak tanamsan yang diyakini bisa menjadi obat alami kanker. Sebut saja daun sirsak, daun tapak dara, keladi tikus, dan sarang semut papua. Tanaman-tanaman tersebut diyakini mengandung sejumlah zat yang bisa menghambat pertumbuhan sel kanker bahkan ada yang berfungsi bisa mematikan sel kanker.

Tanaman herbal lain yang diyakini mampu mengatasi kanker payudara adalah daun baru cina, yang berasal dari Tiongkok. Daun baru cina memiliki banyak nama di berbagai daerah. Misal daun baru cina juga disebut brobos kebo di Jawa Timur, Suket Gajahan di Jawa, jukut lolot mala di sunda, dan daun cam cau di Maluku.

Tanaman asal Tiongkok ini memiliki tekstur berbulu halus dan berbau tajam. Bisa tumbuh liar di hutan atau ladang asal tanah tempat dia tumbuh mengandung dan memiliki kelembaban yang cukup. Warna tumbuhan ini hijau sedang di bagian permukaan dalam berwarna hijau keputihan. Selain itu, terdapat bonggol bunga yang berwarna kuning.

Daun baru cina ini mengandung minyak astiri, a-amirin, dihydromatricaria ester, cineole, 1-α-terpineol, β-kariophilene, 1-quebrachitol, dan tanin. Akar dan batangnya mengandung inulin (yang mengandung artemose). Sedangkan cabang kecil mengandung oxytocin, yomogi alcohol, dan ridentin.

Tanaman ini diyakini mampu membuhun sel kanker payudara dengan cepat. Namun penderita harus mengkombinasikannya dengan tanaman lain yang mengandung zat besi. Tanaman ini kurang efektif dampaknya jika hanya dikonsumsi sendirian. Sama halnya dengan daun sirsak, zat yang terkandung pada tanaman ini hanya membunuh sel kanker dan tidak merusak sel lain yang masih sehat.

Selain bisa membunuh sel kanker, tanaman ini juga bisa mengibati penyakit lainnya seperti sakit tenggorokan, batuk berdahak, disentri, atau penyakit kewanitaan seperti nyeri haid, mencegah keguguran,  gangguan pencernaan dan lain-lain. Perlu dicermati penggunaan obat herbal ini harus tepat. Sebab ada beberapa efek yang ditimbulkan apabila tidak menggunakan minyak yang ada pada daun. Efek yang timbul antara lain mulut kering, rasa begah di lambung, mual, muntah, mencret, dan pusing.  Itu sebabnya penggunaan obat herbal harus tepat dan terutama memperhatikan cara pengolahan.

Perbaiki Gaya Hidup, Jauh-jauh dari Kanker

Salah satu cara yang paling mudah menghindari kanker adalah memperbaiki pola hidup.  Jika melihat  siapa saja yang rentan terkena kanker payudara akan ada lebih banyak perempuan yang terancam. Namun jika diimbangi dengan pola hidup sehat tidak menutup kemungkinan akan jauh dari penyakit mematikan tersebut.

Perubahan pola hidup sehat dan olahraga teratur akan mampu mengurangi risiko kanker. Sel kanker tidak akan bebas berkembang dan tumbuh jika setiap orang membentengi diri dengan gaya hidup sehat.  Makanan yang bisa mencegah pertumbuhan kanker payudara antara lain tomat, tanaman ini mengandung lycopene, antioksidan yang mencegah radikal bebas penyebab kanker. Kandungan vitamin C pada tomat juga bisa menjadi pencegah tumbuhnya sel kanker. Tanaman lain yang bisa dikonsumsi adalah bawang putih. Kandungan sulfur yang tinggi pada bawang putih diyakini mampu memperlambat kerusakan sel tubuh sebagai efek dari pertumbuhan sel kanker.

Baca artikel lain mengenai Meditasi Penyembuhan Kanker

Pengobatan Herbal Kanker Ovarium

Pengobatan Herbal Kanker Ovarium Yang Ampuh

Selain pengobatan, juga perbaiki pola hidup.

Kanker ovarium juga menjadi momok bagi kaum perempuan. Ovarium atau indung telur adalah organ reproduksi vital bagi kaum perempuan. Tak pandang bulu, kanker ovarium bisa mengancam perempuan dari berbagai usia. Perempuan yang terjangkit penyakit ini seringkali tak menyadari dan tiba-tiba saja sudah stadium lanjut. Itu sebabnya pengidap kanker ovarium harapan hidupnya tipis sekitar 20-30 persen dalam jangka waktu lima tahun. Semakin lama sel kanker menggerogoti ovarium, maka semakin cepat pula risiko kematian yang dihadapi.

Pada kanker ovarium terdapat pertumbuhan sel-sel kanker atau sel-sel asing pada indung telur. Kanker ovarium bisa tumbuh di permukaan ovarium atau yang disebut epithelial. Ada pula kanker ovarium yang tumbuh dari sel telur atau sel pendukung lainnya.  Perempuan yang mengidap kanker ovarium biasanya diketahui telah memasuki stadium lanjut.  Itu sebabnya pengidap kanker ovarium paling lama hanya mampu bertahan tiga tahun.

Perempuan dari berbagai usia bisa saja terkena kanker ovarium. Tak kenal tua atau muda.  Dari sisi usia, kanker ovarium jenis tumor sel germinal biasa terjangkit pada perempuan usia muda. Sedang pada perempuan di atas usia 40 tahun biasanya terjangkit kanker ovarium jenis epithelial. Kanker ovarium tipe epithelial bisa berkembang dengan cepat pada perempuan berusia 50-60 tahun.

Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Ovarium

 Belum dapat dipastikan apa yang menjadi penyebab munculnya penyakit kanker. Salah satu penyebab yang paling sering adalah faktor genetik atau keturunan. Faktor keturunan punya peran penting seseorang mengidap kanker ovarium atau tidak. Jika memiliki saudara kandung perempuan atau ibu kandung mengidap penyakit ini, maka akan berisiko juga mengidap penyakit yang sama. Selain itu kehamilan pada usia lanjut dan memiliki riwayat kanker payudara juga berpotensi terkena kanker ovarium.

Faktor lain yang dapat memicu timbulnya kanker ovarium adalah adanya kelainan pada lapisan yang berfungsi melindungi rongga kehamilan atau endometrium. Kanker ovarium juga rentan terjadi pada perempuan yang steril atau belum pernah mengandung.  Kehamilan diyakini mampu melawan kanker ovarium. Menstruasi yang abnormal atau tidak lancar rupanya juga bisa menjadi faktor pemicu. Menopause dini, sering mengalami sakit atau kram perut ketika menstruasi juga wajib diwaspadai menjadi tanda-tanda awal kanker ini. Selain itu faktor lingkungan dan gaya hidup seseorang rupanya juga bisa menjadi pemicu timbulnya kanker ovarium. Perempuan yang tinggal di kawasan industri dan kerap terpapar radiasi komputer juga rentan terkena penyakit ini.

Ada baiknya perempuan mewaspadai bahaya kanker yang mengintai. Gejala berikut wajib diwaspadai jika terjadi pada perempuan. Sebab  gejalanya seringkali dianggap sepele.  Kanker ovarium diawali dengan munculnya rasa nyeri pada perut yang tak tertahan. Siklus menstruasi yang berantakan, padahal hal tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya.  Jika terindikasi pada masa menopause, maka si penderita akan mengalami pendarahan hebat.

Penderita akan mengalami penurunan nafsu makan secara drastis jika kanker sudah menyebar. Penurunan nafsu makan tersebut tentu akan diikuti dengan penurunan berat badan yang signifikan.  Jika mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih mendalam. Deteksi kanker ovarium bisa dilakukan melalui tes darah, CT scan atau MRI, dan biopsi.

Jika diagonsa kanker pada tahap awal atau dini, maka pengobatan lanjutan biasanya tidak dilakukan. Sedangkan jika sudah memasuki stadium lanjut biasanya akan dilakukan tindakan medis berupa radioterapi atau kemoterapi untuk membunuh sel kanker. Kendati demikian pengobatan melaluik kemoterapi tentu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi risiko atau dampak yang bisa saja terjadi setelah menjalani kemoterapi.

Herbal Jadi Alternatif

 Pengobatan herbal dipilih banyak orang sebagai jalan lain untuk terbebas dari kanker. Termasuk pula mereka yang mengidap kanker ovarium. Selain murah,  tanaman herbal yang diyakini bisa menjadi obat juga mudah ditemukan. Obat herbal juga cenderung lebih aman bagi tubuh karena mengandung bahan alami.

Salah satu tanaman herbal yang bisa menjadi penawar kanker ovarium adalah jahe. Makanan panas diyakini mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Jahe diketahui mampu menumpas kanker dengan dua cara, yaitu proses penghancuran atau apoptosis dan proses pemakanan sel atau authopagy.  Lain halnya dengan kemoterapi yang hanya berfungsi sebagai proses penghancuran sel kanker.

Tanaman lain yang  diyakini dapat menjadi obat akternatif kanker adalah mengkudu. Daging buah mengkudu mengandung antikanker yang mampu melawan pertumbuhan sel abnormal pada masa awal kanker ini tumbuh.  Penderita bisa mengkonsumsi dengan cara membuat jus buah mengkudu atau mengambil ekstrak dengan cara memeras. Ekstrak buah mengkudu bisa dikonsumsi dua kali sehari pagi dan malam. Penderita juga bisa menambahkan madu pada ekstrak buah tersebut.

Tanaman lain yang bisa dipakai adalah daun belimbing. Cara mengolahnya pun cukup mudah. Daun belimbing yang akan dijadikan obat dicuci bersi, jangan sampai ada getah atau kotoran yang tersisa. Lalu daun belimbing tersebut direndam baru kemudian diambil ekstraknya dengan cara dijus atau diperas manual. Penderita juga bisa mengkombinasikannya dengan daun pepaya agar hasilnya lebih maksimal.

Kunir putih juga diyakini bisa menjadi obat kanker ovarium. Kunyit berfungsi  merawat dan membersihkan penyakit yang terkait dengan organ reproduksi perempuan.  Bukan hanya kanker ovarium, kunir putih juga berfungsi untuk mengatasi penyakit yang terkait dengan masalah kewanitaan seperti nyeri haid, keputihan, tumor, termasuk pula kanker ovarium.

Mencegah Kanker Ovarium

Biasanya dokter akan menyarankan penderita untuk menjaga dan memperbaiki pola hidup bagi penderita awal kanker ovarium.  Tidak ada salahnya jika sebelum terdiagnosis mencegah agar jangan sampai mengidap penyakit mematikan tersebut.  Salah satu caranya adalah dengan memperbaiki pola hidup. Tidak menutup kemungkinan penyakit dimulai dari gaya hidup, bukan hanya faktor keturunan atau genetik.

Cara yang paling bisa dijalankan oleh perempuan agar terhindar dari penyakit kanker adalah dengan menjaga pola makan sehat. Mengurangi bahkan bila mungkin menghindari makanan yang mengandung lemak hewani yang tinggi. Selain itu juga dianjurkan untuk menghindari makanan berprotein tinggi dan berkalori tinggi.

Untuk menghindari kanker ovarium sebaiknya mengkonsumsi makanan yang kaya serat, mengandung vitamin A dan C, serta karbohidrat. Misal sayuran berwarna hijau, wortel, dan jagung.  Berolahraga secara teratur setiap hari atau minimal tiga kali dalam seminggu juga disarankan untuk penderita yang masih berada di tahap awal. Menjaga kondisi tubuh tetap bugar akan mencegah pertumbuhan sel kanker dalam tubuh.  Asupan gizi dari  makanan dan olahraga yang cukup membantu dan menghindari dari penyakit yang mematikan tersebut.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter.  Apalagi jika terdapat indikasi atau tanda yang mirip dengan gejala kanker ovarium.  Perempuan pada usia 45 tahun ke atas sangat dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin setiap tiga atau enam bulan sekali.

Baca artikel lain mengenai Meditasi Penyembuhan Kanker