All posts by Eddy

Dokter Onkologi

Dokter-dokter Onkologi Medis di Indonesia yang dapat Dijadikan Referensi

Penyakit kanker memang menjadi salah satu penyakit mematikan di dunia setelah penyakit radiovaskular, seperti penyakit jantung dan penyakit stroke. Penyakit kanker memang menjadi penyakit yang menakutkan sebab para penderita kanker baru menyadari penyakit ini saat sudah memasuki stadium lanjut yang membuat pengobatannya memakan jangka waktu yang lama dan harapan untuk sembuhnya kecil. Berdasarkan hal inilah, pihak kedokteran harus memberikan perhatian khusus pada penyakit kanker.

Banyak faktor yang menjadi pencetus seseorang menderita penyakit kanker, misalnya menjalani pola hidup yang tidak sehat, tidak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, faktor genetik, dan kurang berolahraga. Jumlah penderita kanker terus meningkat setiap tahun, tetapi sayangnya kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah dokter yang khusus menangani penyakit kanker. Di Indonesia, jumlah dokter yang khusus menangani penyakit kanker terhitung masih minim dan kebanyakan dari dokter tersebut berpusat di Pulau Jawa.

Bidang Onkologi

Dokter yang khusus menangani penyakit kanker disebut dengan onkolog, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang penyakit kanker secara khusus disebut dengan onkoligi. Untuk menangani seorang penderita kanker, terkadang diperlukan lebih dari satu onkolog. Secara klinis, onkolog dibagi menjadi tiga bidang, yaitu onkolog bedah, onkolog medis, dan onkolog radiasi.

  1. Onkolog bedah adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan pembedahan, seperti reseksi bedah tumor, biopsy, dan stadium.
  2. Onkolog medis adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan pengobatan, seperti kemoterapi.
  3. Onkolog radiasi adalah onkolog yang lebih fokus pada penanganan kanker dengan radiasi terapeutik.

Dari ketiga onkolog tersebut, onkolog yang lebih banyak berhubungan dengan penderita kanker adalah onkolog medis karena akan memeriksa, mendiagnosis, dan memberikan rekomendasi tentang penanganan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan si penderita, seperti bekerja sama dengan bidang onkologi lainnya. Peran onkolog medis cukup besar, mulai dari melakukan diagnosis penyakit kanker, melakukan diskusi tentang langkah-langkah penanganan yang akan dilakukan, mengatur dan mengawasi jalannya pengobatan, hingga merawat kondisi penderita kanker pasca-penanganan.

Pilihlah Onkolog yang Tepat

Setelah mendapatkan hasil diagnosis melalui pemeriksaan fisik, pemeriksaan sampel biopsi, tes darah dengan penanda kanker, endoskopi, rontgen, CT scan, USG, atau MRI dan dinyatakan positif terkena kanker, langkah yang harus dilakukan oleh penderita kanker adalah memilih onkolog yang tepat. Pemilihan ini harus dilakukan dengan cepat dan sungguh-sungguh agar pengobatannya dapat dilakukan secepat mungkin.

Penderita kanker harus memilih onkolog yang sudah berpengalaman dalam menangani jenis kanker yang diderita, sudah mengikuti banyak pelatihan, sudah mengantongi sertifikat onkolog, sudah melakukan penelitian, dan menerbitkan artikel tentang perkembangan terbaru pengobatan kanker. Selain itu, mencari onkolog yang enak diajak berdiskusi juga menjadi hal yang penting karena penderita dan onkolog akan terus berhubungan selama pengobatan berlangsung.

Referensi Onkolog Medis di Indonesia

Setiap bidang onkolog memiliki fokus penanganan kanker yang berbeda, seperti penanganan yang fokus dilakukan oleh onkolog medis. Onkolog medis lebih fokus pada penanganan kanker dengan pengobatan, seperti kemoterapi. Kemoterapi adalah metode pengobatan penyakit kanker yang umum dilakukan dengan menyuntikkan berbagai obat ke dalam tubuh untuk menghentikan dan membunuh sel-sel kanker serta mencegah sel-sel tersebut kembali.

Jumlah onkolog medis di Indonesia memang masih sedikit dan kebanyakn berpusat di Pulau Jawa. Meskipun demikian, ada beberapa onkolog medis yang dapat dijadikan referensi oleh penderita kanker berdasarkan pengalaman masing-masing.

1. Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM

Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM adalah salah satu dokter spesialis kanker darah. Selain sebagai dokter spesialis, beliau juga menjabat sebagai Kasubag Hematologi-Onkologi Medis Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Beliau juga pernah menjadi Tim Dokter Kepresidenan RI pada 1982 dan menjadi salah satu pendiri Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1963, dokter yang praktik di Rumah sakit Kanker Dharmais ini mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan gelar Spesialis Ilmu Penyakit Dalam pada 1963-1969. Setelah itu pada 1969-1970, beliau mengikuti Pendidikan Hematologi di St. Louis Hospital, L’Universite de Paris, Perancis. Pada 1978, beliau mengikuti Postgraduate Training di St. Bartholomew’s Hospital, London, Inggris, dan pada 1984, beliau mendapatkan gelar Doktor Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2. Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD, KHOM

Sama seperti Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD, KHOM adalah dokter spesialis kanker darah. Beliau membuka praktik di tiga rumah sakit di Jakarta, yaitu MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Rumah Sakit Islam Jakarta, dan Rumah sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Pada 1985, dokter kelahiran Bandung ini meraih gelar Dokter dari Kedokteran Umum Universitas Indonesia. Pada 1995, beliau melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Indonesia dan pada 2006, beliau mendapatkan gelar sebagai Konsultan Hematologi Onkologi Medik dari Universitas Indonesia.

3. Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, FINASIM

Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, FINASIM adalah dokter spesialis kanker darah yang membuka praktik di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Dokter kelahiran Washington DC ini menyelesaikan pendidikannya di Kedokteran Umum Universitas Indonesia pada 1976, melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia untuk menjadi Spesialis Penyakit Dalam pada 1986, dan melanjutkan pendidikan di universitas yang sama pada 1995 untuk menjadi Konsultan Hematologi Onkologi Medik.

4. Dr. dr. Laila Nuranna, Sp.OG, K.Onk

Dr. dr. Laila Nuranna, Sp.OG, K.Onk adalah dokter spesialis kanker obstetrik dan ginekologi yang membuka praktik di Rumah Sakit Medistra dan RSIA Bunda Jakarta. Selain sebagai Sekretaris dan Instruktur Kursus Pendidikan Ahli Kolposkopi Perhimpunan Patologi Serviks dan Kolposkopi Indonesia (PPSKI), dokter yang lahir di Surabaya ini juga menjadi anggotaAsen-Oceanian Clinical Oncology Association dan anggota Internasional Gynaecological Cancer Society.

Pada 1979, beliau lulus sebagai dokter umum dari Kedokteran Umum Universitas Indonesia dan pada 1986, beliau menjadi Spesialis Obstetri dan Ginekologi di universitas yang sama. Pada 1988, beliau melanjutkan pendidikan Onkologi Ginekologi di Academisch Ziekenhuiz Groningen, Belanda.

5. Apolorida Situmorang

Selain keempat dokter onkologi di atas, ada perawat wanita spesialis onkologi medis (kemoterapi) di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Sumatera Utara, bernama Apolorida Situmorang atau yang akrab dipanggil Polo. Wanita kelahiran Tiga Lingga ini menjadi satu-satunya perawat wanita spesialis onkologi, khusus kemoterapi. Polo sempat menganggur setelah lulus dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Depkes RI pada 1988.

Setelah diterima bekerja di RSUP H. Adam Malik, Polo ditugaskan selama satu tahun di bagian Intensif Gawat Darurat (IGD), kemudian dipindahtugaskan ke bagian perawatan onkologi bedah. Pada 1999, Polo mengikuti pelatihan onkologi khusus kemoterapi di Rumah sakit Kanker Dharmais selama satu minggu. Setelah selesai menjalani pelatihan dan kembali ke RSUP H. Adam Malik, peraih gelar perawat spesialis onkologi ini dipercaya untuk menjadi perawat di bagian onkologi khusus kemoterapi hingga saat ini.

Kanker memang dapat menyerang siapa saja. Pencegahan dan pemeriksaan dini sangat diperlukan untuk mengetahui ada atau tidaknya sel-sel kanker yang berkembang di dalam tubuh. Jika terbukti adanya sel-sel kanker, segera hubungi dokter onkologi, seperti dokter-dokter onkologi di atas, agar segera dapat ditangani.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Binahong untuk Kanker

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Beberapa Obat Kemoterapi Kanker Serviks dan Efek Sampingnya

Kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang menakutkan bagi kaum wanita selain kanker payudara. Semua wanita tanpa batasan usia berisiko terkena penyakit ini. Tetapi, kanker serviks lebih cenderung menyerang para wanita yang aktif melakukan kegiatan seksual.

Kanker serviks bermula saat sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik, kemudian mengubah sel-sel normal menjadi sel-sel abnormal. Sel-sel yang normal akan berkembang dengan kecepatan tertentu, sedangkan sel-sel yang abnormal akan berkembang tanpa terkendali sehingga jumlahnya terus bertambah.

Sel-sel abnormal ini menjadi pemicu timbulnya sel kanker yang akan menyerang jaringan-jaringan tubuh di sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jika ini terjadi, penderita sudah memasuki kanker serviks stadium lanjut. Semakin besar stadiumnya, harapan hidup penderita kanker serviks semakin kecil.

Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks disebut juga dengan kanker leher rahim karena sel-sel kanker menyerang leher rahim para wanita yang berfungsi sebagai pintu masuk dari vagina menuju rahim. Kanker ini disebabkan oleh kumpulan virus bernama human papillomavirus atau HPV. Umumnya, virus ini ditularkan melalui hubungan seks dan dapat memicu timbulnya sel kanker serviks.

Jenis human papillomavirus ada yang tidak berbahaya dan ada yang berbahaya, seperti HPV 16 dan HPV 18, yang menjadi penyebab seorang wanita terjangkit kanker serviks. Saat virus ini masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi untuk mencegah virus tersebut melukai rahim. Tetapi bagi wanita dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, virus ini dapat menembus kekebalan tersebut dan bertahan selama bertahun-tahun hingga berubah menjadi sel kanker.

Vaksin untuk Mencegah Infeksi HPV

Untuk mengurangi angka penderita kanker serviks, pemerintah saat ini sudah menyediakan vaksin untuk mencegah seorang wanita terinfeksi HPV. Ada vaksin bivalen untuk HPV 16 dan HPV 18, vaksin kuadrivalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, dan HPV 18, serta vaksin nonavalen untuk HPV 6, HPV 11, HPV 16, HPV 18, HPV 31, HPV 33, HPV 45, HPV 52, dan HPV 58. Semua vaksin tersebut dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Gejala Kanker Serviks

Gejala kanker serviks biasanya tidak selalu tampak jelas, bahkan Si Penderita tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya terjangkit HPV. Penderita baru menyadarinya saat kanker serviks sudah memasuki stadium lanjut. Karena itulah, kaum wanita sangat dianjurkan untuk melakukan pap smear secara rutin sebagai langkah pencegahan berkembangnya sel kanker serviks.

Meskipun demikian, ada gejala-gejala yang dapat dijadikan alarm bahwa di dalam tubuh, mulai berkembang sel kanker serviks, antara lain terjadi pendarahan pada vagina di luar masa menstruasi, setelah berhubungan seks, dan setelah memasuki masa menopause; merasakan sakit setiap berhubungan seks; keluarnya cairan dari vagina tanpa henti berwarna cokelat, merah mudah, keruh, atau mengandung darah dengan bau yang menyengat; serta berubahnya siklus menstruasi tanpa sebab.

Penderita kanker serviks stadium lanjut akan mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis; merasakan nyeri pada tulang, punggung, dan pinggang; bermasalah saat buang air kecil karena ureter atau ginjal tersumbat; adanya darah dalam urin; hilangnya selera makan; pembengkakan pada salah satu kaki; serta merasakan sakit pada perut bagian bawah dan panggul.

Kemoterapi sebagai Pengobatan Kanker Serviks

Sebenarnya, ada banyak cara untuk mengobati kanker serviks, salah satunya adalah dengan kemoterapi. Kemoterapi kanker serviks adalah pengobatan yang dilakukan untuk mengurangi, merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker serviks yang berkembang dengan cepat dan tidak terkendali dengan menggunakan obat keras.

Obat-obatan keras kemoterapi tidak hanya mengurangi, merusak, dan membunuh sel-sel kanker serviks. Obat-obatan tersebut juga dapat merusak sel-sel normal dengan menimbulkan beberapa efek samping, seperti mual, muntah, sembelit, diare, rambut rontok, kehilangan nafsu makan, mudah terinfeksi karena kekebalan tubuh menurun, anemia, terjadi pendarahan,sariawan, merasa lemah dan lelah, kerusakan otot jantung dan ginjal, kesemutan, menurunnya periode menstruasi, serta infertilitas.

Obat Kemoterapi Kanker Serviks

Dalam kemoterapi kanker serviks, diperlukan obat-obatan yang memang dapat mengurangi,merusak, bahkan membunuh sel-sel kanker. Obat-obatan tersebut ada yang digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan obat-obatan lainnya yang disebut dengan rejimen kemoterapi. Obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan adalah carboplatin, cisplatin, cyclophosphamide, fluororacil, ifosfamide, dan paclitaxel.

1. Carboplatin

Carboplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel kanker yang diberikan melalui pembuluh vena dengan cara menyuntikkannya selama 15 menit. Dosis yang diberikan bergantung pada berat badan, kondisi kedehatan, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Carboplatin tidak boleh diberikan lebih dari 4 kali seminggu.

Tetapi, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. Adapun penderita yang dilarang menggunakan carboplatin adalah penderita yang memiliki riwayat alergi terhadap senyawa yang mengandung platinum, memiliki tumor berdarah, mengalami pendarahan yang cukup hebat, mengalami kerusakan ginjal, sedang menggunakan vaksin demam kuning, dan menderita myelosupresi (penekanan sumsum tulang) berat. Wanita hamil dan ibu menyusui juga dilarang menggunakan carboplatin.

Menggunakan carboplatin akan memberikan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, kulit memerah, kehilangan nafsu makan, mudah merasa lelah, sulit bernapas, kulit pucat, sulit berkonsentrasi, detak jantung tidak beraturan, mudah mengalami pendarahan, sakit kuning, sakit perut, demam, luka di mulut dan tenggorok, urin dan fases berwarna gelap, mengalami masalah pada penglihatan dan pendengaran, serta mati rasa pada tangan dan kaki.

2. Cisplatin

Cisplatin adalah obat kemoterapi kanker serviks yang sering digunakan karena dapat menghambat atau menghentikan perkembangan sel kanker. Obat ini diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi terhadap pengobatan tersebut. Sebaiknya, cisplatin diberikan tidak lebih dari 3-4 minggu sekali dan harus diimbangi dengan asupan cairan yang banyak sehingga penderita akan sering buang air kecil.

Sama seperti carboplatin, tidak semua penderita kanker serviks dapat menggunakan obat ini. adapun penderita yang dilarang menggunakan cisplatin adalah wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, memiliki riwayat alergi, sedang melakukan pengobatan penyakit lain, menderita penyakit ginjal, serta menderita gangguan sel darah, gangguan pendengaran, gangguan fungsi tulang sumsum, dan gangguan keseimbangan mineral.

Menggunakan cisplatin akan memberikan efek samping berupa kehilangan nafsu makan, mual, muntah, rambut rontok, diare, kehilangan keseimbangan, menurunnya fungsi indera perasa, nyeri sendi, pusing, fungsi refleks menurun, penglihatan terganggu, fases berwarna gelap disertai darah, demam, dan mati rasa.

3. Cyclophosphamide

Cyclophosphamide adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan pertumbuhan serta penyebaran sel kanker dengan cara diminum. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut, dan pengobatan lain yang dilakukan.

Wanita hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, penderita dengan riwayat alergi, penderita yang pernah atau sedang menjalani radioterapi dan terapi sitostatika, serta penderita diabetes, cacar air, gangguan ginjal, gangguan kardiovaskular, gangguan hati, dan gangguan fungsi sumsum tulang dilarang menggunakan obat ini.

Menggunakan cyclophosphamide akan menimbulkan efek samping berupa diare, mual, muntah, rambut rontok, sakit perut, ruam kulit, warna kulit dan kuku berubah, kehilangan nafsu makan, berhentinya periode menstruasi, lemas, kesulitan bernapas, kejang, berhalusinasi, urin dan fases mengandung darah, pendarahan, sariawan, sakit saat buang air kecil, pembengkakan pada tangan atau kaki, pneumonia, serta sakit kuning.

4. Paclitaxel

Paclitaxel adalah obat kemoterapi kanker serviks yang dapat memperlambat dan menghentikan petumbuhan sel kanker dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan, kondisi tubuh, dan reaksi tubuh terhadap pengobatan tersebut. Paclitaxel dapat diberikan setiap tiga minggu sekali selama lebih dari tiga jam, dua minggu, atau seminggu sekali selama satu jam dengan dosis rendah.

Wanita hamil, ibu menyususi, anak-anak, penderita yang memiliki riwayat alergi, dan penderita yang sedang menjalani pengobatan lain dilarang untuk menggunakan obat kemoterapi ini.

Menggunakan paclitaxel akan menimbulkan efek samping berupa rambut rontok, mual, muntah, diare, nyeri sendi, sariawan, pusing, mati rasa, mudah mengantuk, tangan atau kaki seperti terbakar, anemia, mudah lelah, mudah terkena infeksi, mengalami tekanan darah rendah, mengalami gangguan kognitif, infertilitas, serta meningkatkan risiko pembekuan darah.

Kanker serviks memang menjadi penyakit yang sangat menakutkan bagi kaum wanita. Agar terhindar dari penyakit ini, kaum wanita sangat dianjurkan untuk menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, rajin mengonsumsi air putih, rajin berolahraga, dan istirahat yang cukup.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Pepaya untuk Kanker

Obat Kemoterapi Kanker Payudara

Obat Kemoterapi Kanker Payudara Stadium Awal, Stadium Lanjut, dan HER2 Positif

Kanker payudara memang menjadi momok yang sangat menakutkan. Tidak hanya menyerang kaum wanita, kanker jenis ini dapat menyerang kaum pria karena juga memiliki jaringan payudara meskipun tidak sebesar kaum wanita. Kanker payudara terjadi jika sel-sel di dalam jaringan payudara tumbuh secara abnormal dan membelah diri dengan cepat sehingga membentuk benjolan.

Gejala-Gejala Awal Kanker Payudara

Kebanyakan penderita kanker payudara tidak menyadari gejala-gejala yang terjadi. Mereka baru menyadarinya setelah kanker ini memasuki stadium lanjut. Adapun gejala-gejala awal kanker payudara adalah sebagai berikut.

1. Terasa Ada Benjolan Di Payudara Dan Ketiak

Memang tidak semua benjolan menjadi indikasi kanker payudara. Tetapi jika benjolan tersebut semakin membesar dan sakit, segera kunjungi dokter untuk mengetahui benjolan tersebut benar kanker payudara atau bukan sehingga cepat ditangani.

2. Terasa Nyeri

Rasa nyeri pada payudara memang sering terjadi, terutama jika sedang datang bulan. Tetapi jika rasa nyerinya semakinmenjadi dan intensitasnya semakin sering, penderita patut curiga dan segera kunjungi dokter untuk mendapatkan solusi.

3. Terjadi Perubahan Ukuran Dan Bentuk Payudara

Gejala selanjutnya adalah ukuran dan bentuk payudara yang berubah menjadi besar atau menjadi kecil. Perubahan ini terjadi akibat ketidakstabilan jaringan tubuh yang disebabkan oleh sel kanker.

4. Terjadi Penebalan Dan Pengerutan Kulit Payudara

Hal ini dikarenakan sel-sel kulit yang sehat dikikis oleh sel kanker sehingga sel-sel kulit tersebut mati dan mengalami penebalan serta pengerutan. Biasanya, kulit yang sudah mati ini akan menghitam.

5. Tertariknya Puting Susu Ke Dalam

Gejala selanjutnya yang semakin memperkuat seseorang menderita kanker payudara adalah tertariknya puting susu ke dalam.

6. Keluar Cairan Aneh Dari Puting Susu

Jika tidak sedang menyusui, tetapi keluar cairan aneh berupa nanah atau berwarna bening, kaum wanita patut mencurigainya sebagai gejala kanker payudara. Ini berarti sel kanker sudah menjalar ke bagian puting susu.

7. Terjadi Luka Di Payudara

Gejala terakhir dari kanker payudara adalah terjadinya luka di payudara yang cukup parah dan harus segera ditangani agar tidak memperparah kondisi Si Penderita.

Kemoterapi Salah Satu Pengobatan Kanker Payudara

Ada banyak cara untuk mengobati penyakit kanker payudara, salah satunya dengan kemoterapi yang biasanya berlangsung selama beberapa bulan. Kemoterapi kanker payudara adalah pengobatan yang dilakukan untuk menghancurkan dan mencegah berkembangnya kembali sel-sel kanker payudara. Sebelum melakukan kemoterapi, penderita kanker payudara harus menjalani beberapa tes kesehatan untuk mengantisipasi terjadinya efek samping, seperti tes jantung, tes darah, tes paru-paru, dan tes hati.

Efek Samping Kemoterapi Kanker Payudara

Setiap pengobatan pasti memiliki efek samping, begitu juga halnya dengan kemoterapi kanker payudara. Penderita kanker ini akan mengalami efek samping jangka pendek berupa kerontokan rambut, perubahan kulit dan kuku, perubahan selera makan, terjadinya bisul  di mulut, mudah lelah, diare, mual dan muntah, sering mengalami pendarahan, dan mudah terinfeksi. Selain itu, penderita juga akan mengalami efek jangka panjang berupa, perubahan siklus haid, kerusakan kardiovaskular, terjadi iritasi pada telapak tangan dan telapak kaki, penurunan fungsi mental, dan leukemia.

Obat Kemoterapi Kanker Payudara

Obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi kanker payudara bergantung pada stadium kanker itu sendiri. Biasanya, obat yang digunakan dikombinasikan dengan obat lainnya yang disebut dengan rejimen kemoterapi.

1. Obat Kemoterapi Kanker Payudara Stadium Awal

Obat kemoterapi yang digunakan pada stadium ini adalah Anthracyclines berupa epirubicin (Ellence) dan doxorubicin (Adriamycin) serta Taxanes berupa paclitaxel (Taxol) dan docetaxel (Taxotere) yang dapat dikombinasikan dengan fluorouracil (5-FU), carboplatin, dan cyclophosphamide (Cytoxan).

Anthracyclines adalah salah satu golongan obat yang digunakan untuk kemoterapi kanker payudara dan menjadi salah satu pengobatan paling efektif untuk membunuh sel-sel kanker. Penggunaan Anthracyclines pada kemoterapi kanker payudara akan memberikan efek samping berupa kerusakan otot jantung sehingga pemakaiannya perlu dibatasi.

Selain Anthracyclines, obat kemoterapi kanker payudara stadium awal yang dapat digunakan adalah Taxanes. Penggunaan Taxanes dapat membantu menstabilkan pembelahan sel-sel yang tidak normal sebagai pemicu sel-sel kanker payudara.

2. Obat Kemoterapi Kanker Payudara Stadium Lanjut

Kanker payudara dapat dikatakan sudah memasuki stadium lanjut jika sudah menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis). Obat kemoterapi yang dapat digunakan adalah Eribulin (Halaven), Gemcitabine (Gemzar), Ixabepilone (Ixempra), Liposomal doxorubicin (Doxil), Mitoxantrone, Paclitaxel terikat albumin (Abraxane atau nab-paclitaxel), Platinum (Cisplatin dan Carboplatin), Tamoxifen, dan Vinorelbine (Navelbine).

Eribulin akan mencegah pertumbuhan sel kanker payudara dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Penderita kanker payudara yang menggunakan obat ini harus menjalani tes darah sebelum dan selama pengobatan untuk mengtahui kadar sel darah dan zat lain serta fungsi kerja ginjal dan hati.

Gemcitabine diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat memperlambat, bahkan menghentikan, pertumbuhan sel kanker payudara.

Ixabepilone dapat meningkatkan kondisi kesehatan penderita kanker payudara dengan cara menghentikan pertumbuhan dan mencegah penyebaran sel kanker.

Liposomal doxorubicin diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara.

Mitoxantrone dapat memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah penderita.

Paclitaxel terikat albumin diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah si Penderita. Cara kerja obat ini sama dengan cara kerja obat lainnya, yaitu dapat memperlambat, bahkan menghentikan, laju pertumbuhan sel kanker payudara.

Salah satu obat kemoterapi yang mengandung unsur Platinum adalah Cisplatin. Cisplatin diberikan dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker payudara yang sangat cepat.

Tamoxifen dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara dengan cara mengganggu efek hormon estrogen di dalam jaringan payudara. Berbeda dengan obat kemoterapi lainnya, obat ini diberikan dengan cara diminum sebelum atau sesudah makan.

Vinorelbine diberikan dengan dua cara, yaitu diminum atau disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Obat ini dapat mencegah dan menghentikan perkembangan sel kanker payudara.

3. Obat Kemoterapi Kanker Payudara HER2 Positif

Kanker payudara HER2 terbagi menjadi dua, yaitu kanker payudara HER2 positif dan kanker payudara HER2 negatif. Salah satu obat kemoterapi yang dapat digunakan oleh penderita kanker payudara HER2 positif adalah herceptin (trastuzumab) yang terbukti dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup dan dapat menurunkan terjadinya kekambuhan. Cara kerja herceptin (trastuzumab) adalah dengan menempelkan dirinya pada permukaan-permukaan protein HER2, protein penyebab kanker payudara HER2 positif, sehingga sel-sel kanker tersebut tidak dapat berkembang dan akhirnya mengalami kehancuran.

Pemberian obat ini dilakukan kurang lebih selama 1 tahun bagi penderita kanker payudara primer dan selama mungkin bagi penderita kanker payudara sekunder (metastasis) dengan cara menyuntikkannya ke dalam pembuluh darah atau ke dalam jaringan lemak di bawah kulit paha setiap 3 minggu sekali.

Efek Samping Herceptin (Trastuzumab)

Setiap obat pasti memberikan efek samping bagi penggunanya, begitu pula dengan herceptin (trastuzumab). Tetapi, efek samping yang ditimbulkan dari obat ini berbeda antara penderita yang satu dengan penderita yang lainnya, bergantung pada daya tahan tubuh setiap penderita. Berikut ini adalah efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan herceptin (trastuzumab).

1. Demam

Efek samping ini lebih sering terjadi saat pertama kali menggunakan herceptin (trastuzumab). Penderita akan merasakan nyeri di beberapa bagian tubuh, menggigil, dan demam yang akan segera hilang.

2. Diare

Efek samping selanjutnya adalah diare. Jika terjadi diare, dokter yang menangani Si Penderita akan segera memberikan obat antidiare agar kondisi penderita tidak semakin parah.

3. Mual

Efek samping ini sangat wajar terjadi pada penderita kanker payudara saat atau setelah menjalani kemoterapi dengan herceptin (trastuzumab). Tetapi, tidak perlu khawatir karena rasa mual ini akan hilang dengan sendirinya.

4. Terjadi Pembekuan Darah

Terjadinya pembekuan darah pada penderita kanker payudara ditandai dengan adanya rasa sakit, kemerahan, atau pembengkakan pada kaki, sakit dada, hingga sesak napas. Segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

5. Reaksi Alergi

Efek samping ini terjadi pada beberapa jam setelah kemoterapi berupa gatal, ruam kulit, sesak napas, nyeri punggung, hingga pingsan.

6. Terjadi Masalah Pada Jantung

Masalah yang terjadi pada jantung sebagai efek samping dari penggunaan herceptin (trastuzumab) adalah sesak napas dan detak jantung yang tidak beraturan.

Kanker payudara dapat menyerang siapa saja. Kita dapat menghindarinya dengan menjalankan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rajin berolahraga, banyak mengonsumsi air putih, dan rajin melakukan medical check up.

Baca artikel lain mengenai Manfaat Daun Pepaya untuk Kanker