Olahraga Pasca Kemoterapi

Olahraga Pasca Kemoterapi Untuk Meredakan Efek Samping

Kanker bisa dibilang penyakit yang paling mematikan.  Jumlah penderitanya bisa dibilang cukup tinggi di Indonesia. Misal kanker serviks adalah pembunuh nomor satu bagi perempuan.  Sampai saat ini untuk pengobatan kanker, yaitu kemoterapi atau pengobatan alternatif seperti obat-obatan herbal.

Sampai sekarang kemoterapi adalah pengobatan kanker yang hampir dijalani oleh semua penderita kanker. Ada pengobatan lain dengan efek samping minimal, tentu saja membutuhkan biaya mahal dan biasanya dilakukan di luar negeri. Lain halnya dengan kemoterapi, kendati mahal, tetapi masih terjangkau dan bisa dilakukan di dalam negeri.

Pengobatan kemoterapi bukan berarti tanpa efek samping. Ada akibat yang dirasakan oleh tubuh penderita pasca menjalani kemoterapi.  Misal badan terasa lemas, mual dan muntah, sakit pada persendian, rambut rontok, pusing, mulut terasa kering, dan lain-lain.

Dampak tersebut timbul karena sinar kemoterapi bukan hanya mematikan sel kanker akan tetapi juga mematikan sel-sel yang masih sehat.  Itu sebabnya daya tahan tubuh seseorang mulai menurun setelah menjalani kemoterapi.

Itu sebabnya penderita kanker yang menjalani kemoterapi harus dalam kondisi tubuh yang fit dan sehat. Untuk mengkondisikan tubuh fit diperlukan pola hidup yang sehat. Misalnya saja menjaga pola makan, asupan makanan dan gizi, serta olahraga teratur. Paduan ketiga hal ini akan meminimalisir efek samping dari kemoterapi.

Pola Hidup Sehat Untuk Pasien Kanker

Sel kanker tubuh subur pada kondisi tubuh yang kurang oksigen.  Demikian juga pada tubuh yang tidak memiliki asupan gizi yang cukup. Itu sebabnya pasien kanker disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat. Apalagi jika kanker yang diderita masih pada stadium awal. Belum terlambat untuk menerapkan pola hidup sehat agar sel-sel kanker di dalam tubuh melemah dan pada akhirnya mati.

Paling utama adalah menjaga tubuh agar tetap fit melalui asupan makanan memperbanyak buah dan sayur yang mengandung asam folat serta memperbanyak konsumsi air putih agar kecukupan cairan dalam tubuh tetap terjaga.  Pasien kanker sebaiknya juga menghindari makanan berpengawet, makanan berlemak, dan makanan instan. Pasalnya makanan tersebut ibarat ‘gizi’ bagi sel kanker untuk tumbuh bebas dalam tubuh.

Tubuh pasien yang kaya oksgen akan mampu mencegah pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh. Kecukupan oksigen tersebut bisa diperoleh dari asupan makanan bergizi, pola istirahatcukup, dan olahraga untuk mengimbangi semuanya.

Tidak perlu olahraga berat, cukup melakukan olahraga ringan, namun rutin bisa membantu tubuh menjadi lebih sehat dan kuat. Misal dengan berjalan kaki setiap pagi, atau menggerak-gerakkan badan sebentar.  Namun perlu diingat aktivitas fisik berlebih juga tidak disarankan untuk pasien kanker.

Jenis Olahraga Untuk Penderita Kanker

Kemoterapi adalah pengobatan kanker yang paling banyak digunakan oleh pasien. Kendati demikian, kemoterapi memiliki efek samping pada tubuh. Misalnya nafsu makan menurun, bibir atau mulut terasa kering, badan terasa nyeri, pembengkakan di beberapa bagian, mual dan muntah, dn lain-lain.

Efek samping ini bukan berarti tidak dapat ditanggulangi. Bisa saja dicegah atau diminimalisir dengan cara menjaga tubuh tetap fit dengan asupan gizi yang cukup dan pola hidup yang seimbang. Salah satunya adalah olahraga yang disinyalir mampu cukup efektif untuk meredakan efek samping dari kemoterapi.

Jenis olahraga ringan yang cocok diterapkan untuk penderita kanker  yang sedang menjalani kemoterapi antara lain:

1. Joging

 Berjalan kaki atau joging rutin. Tidak perlu lama cukup 45 menit  tiga kali seminggu atau 30 menit setiap hari. Olahraga ringan tersebut mampu meredakan efek samping dari kemoterapi. Olahraga rutin berjalan kaki ini termasuk jenis olahraga yang melatih kardio. Efeknya kalori banyak terbakar dan timbunan lemak jahat yang menjadi lahan subur tempat tumbuhnya sel kanker luruh.

Selain itu latihan kardio rutin juga mampu mencegah kanker muncul kembali. Efek lainnya adalah membuat fisik semakin kuat dan sehat setelah menjalani kemoterapi.

2. Yoga

Pasca menjalani kemoterapi seringkali pasien merasakan nyeri dan sakit di sekujur tubuh atau di bagian tubuh tertentu. Untuk mengatasi hal tersebut, pasien bisa berlatih yoga secara rutin. Banyak klub yoga di buka atau jika tidak bisa mengikuti tutorial di Youtube atau dengan CD khusus Yoga. Latihan Yoga diyakini mampu mengembalikan kelenturan tubuh saat usai menjalani kemoterapi atau operasi.

Selain itu Yoga juga bisa melatih pernapasan dan mencukupi kadar oksigen dalam tubuh. Sebagaimana diketahui, tubuh dengan kecukupan oksigen akan melumpuhkan sel-sel kanker. Selain itu juga menjaga agar sel-sel yang sehat tidak ikut terbasmi ketika menjalani kemoterapi.

3. Latihan Beban

Salah satu efek samping dari kemoterapi adalah persendian yang sakit dan tulang yang terasa linu. Untuk mengatasi hal tersebut, pasien bisa rutin berlatih beban. Tak perlu terlalu berat, cukup 15 -30 menit sehari bisa mampu meredakan rasa sakit yang diderita pasca kemoterapi. Rasa sakit pasca kemoterapi tidak bisa hanya didiamkan begitu saja. Sakit tersebut harus dilawan, agar tidak menjalar ke bagian tubuh lain.

4. Senam

Olahraga ringan lain yang bisa meringankan rasa sakit pasca kemoterapi adalah senam. Senam ringan selama 60 menit mampu meredakan rasa sakit pasca menjalani kemoterapi. Itu sebabnya pasien kanker juga  diasarankan mengikuti senam ringan agar otot-otot tubuh tidak kaku dan menglami sakit pasca menjalani kemoterapi.

Mengapa Olahraga Baik Untuk Pasien Kanker?

Olahraga ringan seperti di atas mampu meningkatkan massa otot serta melatih keseimbangan. Berjalan kaki atau lari-lari kecil juga dapat menguatkan otot kaki dan membantu mengurangi toksisitas akibat dari kemoterapi.

Pasien yang mengalami efek samping dari kemoterapi sering kali merasa tidak kuat bahkan tidak melanjutkan pengobatan tersebut. Bahkan dokter harus mengurangi dosis obat kemoterapi yang diberikan.  Olahraga mampu mengatasi berbagai keluhan tersebut dan pasien tetap mampu menjalani kemoterapi dengan efek samping yang sedikit atau tidak merasakanefek samping sama sekali.

Olahraga juga mampu memperlancar aliran darah sehingga obat kanker dapat menyebar dan bekerja efektif. Olahraga juga memberikan pasoka oksigen yang menjadi musuh utama sel kanker. Tubuh yang cukup pasokan oksigen akan membuat sel kanker tidak dapat tubuh.

Apalagi ketika menjalani kemoterapi seringkali sel sehat juga ikut terbunuh. Jika dengan olahraga, maka kecukupan oksigen terpenuhi sehingga pengobatan bisa lebih efektif. Namun demikian pasien juga harus menjaga diri sendiri dengan tidak berolahraga berat seperti badminton, bola basket atau lari jarak jauh.  Pasien juga bisa berkonsultasi dengan dokter tentang olahraga yang sesuai dengan mereka.

Tentu saja olahraga ini juga diimbangi dengan pola hidup sehat lainnya seperti pola makan dan istirahat yang cukup. Olahraga rutin juga mampu mengurangi rasa sakit pasien ketika menjalani kemoterapii.Kuncinya selama menjalani kemoterapi pasien kanker harus konsisten menjalankan pola hidup sehat termasuk berolahraga ringan secara rutin.

Baca artikel lain mengenai Pemeriksaan PET Scan

Kemoterapi Pada Anak

Dampak Kemoterapi Pada Anak-Anak, Seberapa Bahayakah?

Kanker bisa dibilang penyakit paling mematikan. Bukan hanya mengintai orang dewasa, kanker juga mengancam anak-anak. Tidak sedikit anak-anak yang terkena kanker darah atau kanker otak. Usia mereka bisa dibilang masih sangat muda, dan juga bisa menyebabkan kematian.

Jika pada orang dewasa kanker terjadi karena faktor keturunan, gaya hidup, dan lingkungan. Maka kanker pada anak disebabkan oleh adanya mutasi gen. Sangat mungkin adanya perubahan DNA tersebut terjadi sejak anak berada dalam kandungan.

Kanker anak di Indonesia paling banyak terjadi adalah kanker darah atau leukimia. Selain itu juga kanker pada syaraf pusat atau kanker otak. Penyebab lain kanker pada anak adalah paparan zat kimia, ketika anak dalam kandungan atau ketika masih bayi. Risiko kanker pada anak dapat diminimalisir dengan mendeteksi kehamilan dini, menjaga kesehatan organ reproduksi, menghindari radiasi, tidak merokok, dan menjaga asupan gizi selama hamil.

Gejala Kanker Pada Anak-Anak

Kanker pada anak bisa dibilang sulit dideteksi. Apalagi anak-anakbelum bisa mengungkapkan rasa sakit yang mereka alami. Kebanyakan dari mereka hanya bisa menangis atau rewel ketika rasa sakit itu datang. Sementara orang tua bisa jadi kebingungan dan mengira bahwa si anak mengalami sakit biasa seperti flu, diare, atau penyakit lain pada umumnya.

Kanker pada anak memang sulit dibedakan dengan penyakit lainnya. Itu sebabnya orang tua harus lebih waspada dan jeli melihat perubahan yang ada pada anak. Terutama jika si kecil mengalami beberapa tanda atau gejala yang rutin terjadi. Misal perubahan fisik seperti pembengkakan pada beberapa bagian tubuh yang berulang atau tanda-tanda lainnya.

Beberapa tanda yang kerap dialami anak penderita kanker antara lain: adanya pembengakakan pada bagian tubuh tertentu dan terjadi berulang atau sering. Kedua, demam tanpa sebab dan infeksi yang tak kunjung sembuh. Kemudian sering terjadi pusing yang disertai muntah, sering nyeri di bagian tubuh tertentu, sering mengalami luka yang sulit sembuh atau sembuh dalam jangka waktu yang lama.

Jika anak mengalami tanda-tanda demikian, sebaiknya orang tua tidak mengabaikan dan mengantisipasi dengan memeriksakan anak ke dokter. Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan darah yang akurat dapat memastikan apakah si anak menderita kanker atau tidak. Kendati bukan kanker, gejala-gejala tersebut sebaiknya diantisipasi untuk kesehatan si kecil.

Sering terjadi dokter atau medis keliru memberikan diagnosa awal tentang penyakit tersebut. Biasanya salah diagnosa tersebut  juga disebabkan oleh terbatasnya peralatan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tidak jarang dokter sudah mulai mendeteksi penyakit, akan tetapi karena keterbatasan alat pasien kemudian dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Di sinilah seringkali orangtua abai dan menganggap sepele tidak meneruskan rujukan dari dokter dan memilih pengobatan lain.

Padahal bisa jadi kanker yang diderita si anak masih dalam stadium awal sehingga bisa diantisipasi dengan pengobatan dan terapi rutin. Jika sudah berada pada stadium lanjut, sangat mungkin anak menjalani kemoterapi seperti halnya pasien kanker dewasa.

Kanker pada anak jika dideteksi dini berpeluang sembuh lebih besar dibandingkan kanker pada orang dewasa. Itu karena tingkat kekacauan sel pada anak masih lebih rendah ketimbang orang dewasa.  Aktivitas, gaya hidup, pencemaran lingkungan yang dialami orang dewasa menyebabkan sel kanker lebih cepat menyebar.  Itu sebabnya kanker pada anak dapat disembuhkan jika terdeteksi lebih awal.

Secara garis besar, kanker pada anak terbagi menjadu dua yaitu kanker cair dan kanker padat. Kanker cair adalah leukimia, yang diderita sebagian besar anak yang terkena kanker.Kedua kanker padat, misalnya retinoblastoma, limfoma, dan kanker tulang. Orang tua harus waspada dan berhati-hati jika menemukan benjolan tak wajar pada bagian tubuh anak, karena sangat mungkin itu adalah tanda-tanda kanker.

Dampak Kemoterapi Pada Anak

Jika anak menderita kanker pada stadium lanjut, salah satu pengobatan dilakukan adalah kemoterapi. Tentu saja si anak harus merasakan dampak dari kemoterapi yang hampir sama dengan orang dewasa. Namun tentu saja dosis yang diberikan pada anak akan lebih rendah ketimbang dosis yang diberikan untuk orang dewasa.

Bukan hanya perubahan fisik yang bakal dirasakan. Kemoterapi pada anak bisa juga menganggu atau berpengaruh pada perkembangan kognitifnya.  Sebuah penelitian dari Universitas Leuven Belgia menunjukkan pengobatan kemoterapi sangat peka terhadap fungsi kognitif anak. Pengobatan tersebut dapat menyebabkan kemampuan kogniitf berkembang lambat, terutama untuk ingatan jangka pendek.  Kendati demikian fungsi memori jangka panjang dan kemampuan konsentrasi tidak terpengaruh. Anak-anak pengidap kanker hanya mengalami kesulitan mengingat informasi yang baru mereka dapat dalam waktu singkat.

Selain itu pasca kemoterapi biasanya anak akan mengalami rasa cemas dan khawatir berlebihan.  Bahkan bisa jadi muncul rasa tidak percaya diri karena perubahan fisik yang dialami.

Apalagi jika pasien kanker masih anak-anak di bawah usia lima tahun tentu akan lebih sulit mengungkapkan rasa sakit atau masalah yang dia rasakan ke dokter atau perawat. Apalagi jika mereka merasakan nyeri pada otot dan pegal-pegal di badan. Bisa jadi mereka hanya bisa mengungkapkan rasa sakit tersebut dengan menangis.

Itu sebabnya orang tua, dokter, dan perawat harus mampu berkomunikasi secara intensif dengan anak penderita kanker. Misal tim medis harus pintar merayu pasien kanker anak-anak ketika akan mengonsumsi obat. Tim medis harus berusaha agar si anak tidak merasakan sakit yang luar biasa.

Pengobatan Kanker Pada Anak Butuh Pendekatan Khusus

Pasien kanker anak bisa dibilang cukup banyak. Tentu saja pengobatannya pun berbeda dengan pasien kanker dewasa. Anak-anak seringkali tidak mengerti bahwa mereka sakit dan harus diobati. Bahkan mereka yang masih berusia balita, akan merasa tidak nyaman dan rewel apabila merasa sakit, termasuk juga dalam proses pengobatan.

Misal ketika mereka akan dipasang infus atau disuntik. Jika mereka merasa tidak nyaman pasti akan berontak dan bisa jadi menimbulkan trauma kecil. Misal, merasa takut jika ada orang berseragam putih, karena yang ada dalam benak mereka orang yang berpakaian putih akan menyakiti mereka yaitu akan menyuntik atau memberi obat.

Itu sebabnya butuh pendekatan khusus pada anak. Misal dengan mengatakan, “ Kita berobat dulu ya untuk membunuh sel jahat dalam tubuh kamu,” atau “ Ayoo diminum dulu obatnya biar perutnya nggak sakit lagi,” Perawat atau dokter juga bisa mengkreasikan cara pengobatan dan tidak membuat anak-anak merasa takut.Misal dengan memberikan permainan atau dengan cerita-cerita menarik sehingga pasien merasa terhibur dan tidak merasa sakit.

Orang tua yang memiliki anak penderita kanker juga harus memperhatikan asupan gizi yang diberikan kepada anak. Termasuk tidak memberikan makanan yang mengandung pengawet dan menjauhkan anak dari lingkungan yang kurang sehat. Orang tua juga bisa membawa anak penderita kanker liburan ke tempat-tempat yang masih segar udaranya dan tidak banyak polusi.

Baca artikel lain mengenai Pemeriksaan PET Scan

Manfaat Alkaline Water

Benarkah Manfaat Alkaline Water dapat Meminimalisir Efek Kemoterapi?

Kanker adalah penyakit yang menjadi momok bagi siapa saja. Bagaimana tidak, kanker ditengarai sebagai penyakit paling mematikan, setelah jantung.  Salah satu pengobatan kanker yang lazim dilakukan adalah kemoterapi atau pengobatan kanker melalui jalan penyinaran.

Sayangnya pengobatan tersebut menyebabkan banyak efek samping. Bahkan bisa mematikan sel-sel kanker yang masih sehat. Secara medis, ada pengobatan lain yang bisa dilakukan namun cukup menguras kantong dan dilakukan di luar negeri. Kendati mahal, kemoterapi menjadi pengobatan yang paling banyak dijalani oleh pasien kanker.

Banyaknya pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan merasakan efek sampingnya mengharuskan mereka menjaga kondisi.  Cara mereka menjaga kondisi adalah dengan mengubah pola hidup mereka menjadi lebih baik, olahraga rutin, mengonsumsi makanan sehat.

Pengobatan alternatifpun dilakukan untuk mengobati kanker atau mengatasi efek samping kemoterapi. Misal mengonsumsi herbal, minuman kesehatan tertentu, sampai suplemen tambahan. Salah satu pengobatan yang disarankan untuk mengobati kanker ataupun mengurangi dampak dari kemoterapi adalah rutin mengkonsumsi air alkali atau air dengan pH tinggi.

Ada beberapa jenis air alkali dengan pH tinggi yang dipasarkan dan mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia. Harganya bisa dibilang tidak murah, kendati masih terjangkau. Banyak yang sudah merasakan manfaatnya akan tetapi ada juga yang belum merasakan manfaat meski sudah mengkonsumsi.

Air Alkali Bekerja Untuk Tubuh

Air alkali dengan pH tinggi diyakini bisa menetralisir tingkat keasaman berlebih dalam tubuh. Makanan yang sering kita konsumsi lebih banyak mengandung asam yang kurang baik bagi tubuh. Air alkali diyakini mampu mentralisir keasaman berlebih dalam tubuh yang disebabkan oleh makanan.

Makanan seperti gorengan, bakaran, atau makanan berlemak lainnya banyak mengandung asam. Tentu saja makanan tersebut berbahaya bagi tubuh kita. Bahkan akibat fatalnya bisa menimbulkan penyakit. Itu sebabnya sebelum menjadi penyakit serius harus dicegah, salah satu caranya dengan rutin mengkonsumsi air alkali.

Air alkali juga mengandung antioksidan yang bisa melawan radikal bebas dalam tubuh.  Pada pasien kanker, sel kanker adalah radikal bebas yang menyebar luas pada tubuh penderita. Pasien kanker membutuhkan antioksidan untuk melawan radikal bebas dalam tubuh. Antioksidan bisa didapat dari makanan dan aktivitas pasien sehari-hari.

Rupanya selain dari makanan dan sayuran, antioksidan juga bisa didapat dari air alkali. Biasanya jika menderita penyakit tertentu air alkali dapat diatur tingkat pH-nya. Agar sesuai dan tidak memberikan efek samping bagi pasien. Misal baru pertama kali mengkonsumsi air alkali, akan diberikan air dengan pH yang tidak terlalu tinggi agar tidak terjadi mual atau pusing. Untuk konsumen dengan penyakit atau kondisi tertentu disarankan mengkonsumsi air alkali dengan pH tertentu.

Apa Saja Yang Diperlukan Ketika Kemoterapi?

Kemoterapi adalah pengobatan kanker yang lazim dijalani oleh pasien kanker. Selama kemoterapi ada efek samping yang timbul pada tubuh, seperti pusing, mual dan muntah, sembelit, bibir kering, nfasu makan menurun, dan lain-lain. Itu sebabnya pasien kanker yang akan menjalani pengobatan kemoterapi harus benar-benar dalam kondisi fit. Agar  meminimalisir rentetan efek samping akibat kemoterapi.

Makanan yang dianjurkan saat  kemoterapi antara lain sayur dan buah-buahan yang mengandung antioksidan. Cara memasaknya pun harus sesuai dan tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran dalam keadaan mentah. Salah satu efek samping adalah bibir kering. Itu sebabnya pasien kanker dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi air putih sebelum dan sesudah menjalani kemoterapi untuk menghindari efek bibir kering.

Efek samping dari kemoterapi itu disebabkan oleh sel-sel yang masih sehat juga ikut terbasmi oleh obat kemoterapi. Efek yang paling sering dialami oleh survivor kanker antara lain rambut rontok, diare berkepanjangan, asam lambung meningkat, gigi sakit, dan lain-lain.

Itu sebabnya banyak pasien kanker yanng memilih pengobatan alternatif untuk mengobati kanker. Salah satu pengobatan alternatif adalah dengan mengonsumsi air alkali secara rutin. Bisa juga kemoterapi tetap dilakukan sembari mengonsumsi air alkali. Tujuannya agar sel-sel yang masih sehat tidak ikut terbasmi oleh obat kemoterapi.

Jika tubuh seimbang, antara gizi, antioksidan, dan pasokan oksigen maka efek kemoterapi akan mampu diminimalisir.  Akan tetapi, perlu digarisbawahi bukan berarti air alkali dapat menjadi pengobatan kanker alternatif yang bisa digunakan.

Benarkah Air Alkali Dapat Sembuhkan Kanker Dan Meminimalisir Efek Kemoterapi?

Kemoterapi adalah pengobatan kanker yang sudah sangat lazim dilakukan. Alasannya karena ada di hampir semua rumah sakit di Indonesia. Bahkan beberapa klinik dokter yang juga memiliki alat untuk kemoterapi.  Ada pengobatan kanker di luar negeri seperti di Amerika Serikat, China, Jepang, atau Jerman. Namun tentu saja membutuhkan biaya yang lebih besar.

Air alkali ada banyak jenisnya ada yang mengandung pH tinggi sehingga dapat menetralisirtubuh. Sel kanker tubuh dengan cepat pada tubuh dengan kondisi asam yang tinggi. Salah satu yang mempengaruhi tingginya asam dalam tubuh adalah konsumsi makanan seperti makanan berlemak,  gula, sabtan, makanan yang digoreng, makanan yang dibakar, daging merah, dan lain-lain. Sementara air alkali diyakini mampu menetralisir kondisi asam yang menjadi tempat tumbuh sel kanker.

Tentu saja air alkali tersebut diimbangi dengan makanan dan sayuran sehat yang mengandung antioksidan dan senyawa lain yang berkhasiat menghentikan laju pertumbuhan sel kanker.

Secara medis memang belum ada penelitian terkait air alkali dapat menyembuhkan penyakit kanker. Akan tetapi paling tidak kandungan yang terdapat dalam air alkali mampu menetralisir sel kanker yang tumbuh dalam kondisi tubuh.

Kandungan air alkali juga dipercaya mampu mengurangi efek dari kemoterapi. Salah satu efek yang ditimbulkan adalah asam lambung tinggi yang dapat menyebabkan mual dan muntah. Kandungan air alkali yang dapat menetralisir asam dapat meredakan asam lambung yang diderita pasien kanker pasca kemoterapi.

Air alkali mengandung antioksidan tinggi dapat menambah jumlah asupan atau pasokan oksigen dalam tubuh. Sel kanker tidak akan tumbuh dan dapat mati dalam keadaaan tubuh yang basa. Itu sebabnya selain dari makanan, pasokan oksigen juga bisa didapat dari air alkali.  Selain itu air alkali juga dapat meredakan sakit yang diakibatkan oleh penyakit kanker atau efek dari kemoterapi.

Memang belum ada penelitian secara medis. Akan tetapi melihat dari kandungannya dapat meredakan dan meminimalisir efek kemoterapi, konsumsi air alkali sepertinya bisa menjadi alternatif bagi survivor kanker yang menjalani kemoterapi. Akan tetapi perlu diketahui air alkali bukanlah obat. Akan tetapi membantu meredakan rasa sakit yang diakibatkan dari kemoterapi.

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa air alkali dapat menjadi obat pengganti penyakit kanker. Rutin mengonsumsi air alkali bisa jadi meminimalisir efek kemoterapi dan mengurangi rasa sakit. Akan tetapi bukan berarti serta merta mengobati kanker atau menggantikan kemoterapi sebagai pengobatan kanker.  Pasien kanker harus tetap menjaga makan dan menerapkan pola hidup sehat.

Baca artikel lain mengenai Berobat ke Singapura atau Malaysia

Membantu Penyembuhan Dengan 4Life Transfer Factor